
“kenapa malu?” tanya Quinsya sekali lagi dia memandang Rina dengan wajah polosnya. “perasaan caca gak nyatakan perasaan sama muse, caca salah ya bang?” lanjut Quinsya lagi.
Aryan hanya mengedikkan bahunya, sementara Azmi menahan tawa melihat wajah Rina yang pucat pasi karena Quinsya selalu menjawab setiap pertanyaannya.
“Yang gue maksud lo harusnya malu, karena udah suka sama Sagara, dan di tolak di depan orang banyak” Rina kembali mengulangi ucapannya, berusaha membuat Quinsya tersudut.
“Udah jangan dibahas lagi, caca gak nembak gue, gue aja yang salah sangka tadi” Sagara akhirnya angkat bicara, membuat orang-orang yang ada di sana terkejut karena sagara membela Quinsya.
“Tapi kan saga, lo pasti risih ada anak seperti Quinsya yang mengumbar suka dan terus mendekati lo” protes Rina tidak suka ada wanita yang dibela oleh Sagara.
“Gak” jawab Sagara singkat dan dia langsung pergi dari meja itu, tanpa menunggu jawaban dari siapapun dan pandangan heran orang-orang.
“Muse! Tungguin caca!” Quinsya dengan cepat memakan mangkuk terakhirnya, dan buru buru pergi dari meja itu mengejar Sagara yang sudah berlalu.
“hahaha” tawa azmi dan Ameer terdengar setelah Sagara dan Quinsya tidak ada di kantin lagi.
“Sepertinya pesona caca sudah bisa menghancurkan gunung es sagara” kekeh Ameer.
Azmi mengangguk setuju, “hebat kan adik gue” ucap Azmi bangga.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
“Muse! Tunggu_” ucapan Quinsya terhenti karena pada teriakan pertama Sagara berhenti berjalan dan memandang Quinsya dengan wajah datarnya.
Senyum Quinsya langsung merekah, gadis itu langsung berdiri di sebelah Sagara, “Tumben berhenti?” tanya Quinsya.
“gak mau kena muntah lagi” jawab Sagara dengan datar dan dingin.
Quinsya langsung nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “kemarin karena kekenyangan” bantah Quinsya.
Sagara menunjukkan 3 jarinya pada Quinsya, membuat gadis itu kebingungan.
“apa maksudnya 3?” ucap Quinsya.
“Tiga piring lo habiskan dalam waktu singkat, sekarang gak kekenyangan?” sindir Sagara.
__ADS_1
“Hehehhe iya kenyang, eeunngghh” tanpa sadar Quinsya bersendawa keras dan langsung menutup mulutnya karena tidak sadar kelepasan.
“hahaha_” sagara tertawa untuk pertama kalinya tapi dia langsung menghentikan tawanya, karena merasa itu bukan dirinya yang bisa tertawa semudah itu, dia juga tidak tau kenapa dia tidak risih dengan kehadiran Alien cantik di dekatnya.
“mau ketawa, ya ketawa aja, jangan di tahan Muse” Quinsya berjalan mengikuti Sagara masih dengan senyum lebarnya.
“gue gak ketawa” bantah Sagara.
Quinsya mengulum senyumnya, “baiklah tidak tertawa”.
Sagara memicing melihat Quinsya yang menahan tawanya, “gue benaran tidak tertawa” ulang sagara.
“hahahha iya percaya” jawab quinsya, gadis itu langsung menggenggam tangan sagara untuk duduk di kursi mereka berdua.
.
“ngoookkk ngoookk” sagara yang sedang focus mencatat tulisan di papan tulis menoleh untuk melihat dari mana asal suara mengerikan itu. Kembali bibir pria itu menyunggingkan senyuman saat meliahat Quinsya sedang tidur menjadikan buku gambarnya sebagai bantal.
Sebenarnya bukan hanya sagara hampir semua teman sekelas Sagara melihat ke arah asal suara ngorok yang tadi mereka dengar.
Aryan tanpa mengeluarkan suara langsung menutupi kepala caca dengan kain yang dia bawa dari rumah.
“Hmmm 1 jam lagi mi” racau Quinsya masih dengan mata tertutup, selimut yang menutupi kepalanya langsung Quinsya singkirkan hingga menutupi punggung.
‘Tak’ kening Quinsya langsung di jitak oleh Aryan.
“arrhhhgg satu jam lagi, caca masing ngantuk” bukannya bangun caca hanya berguman pelan lalu kembali tidur dengan nyenyaknya.
“Lanjut aja, dia gak bakal bangun mau ada perang dunia juga, gak bakal bangun” ujar Azmi menjawab semua pandangan heran orang orang.
“habis makan kekeyangan langsung tidur, memang sekolah milik dia berani banget ni alien” batin Sagara, pria itu masih menahan senyum dibibirnya, entah sejak kapan bibir itu tidak pernah berhenti tersenyum sejak kehadiran Quinsya di dekatnya, padahal belum satu hari mereka kenal.
Sagara kembali menulis catatan yang ditulis oleh sekretaris di papan tulis.
“Muse pose yang menggoda dong” igau Quinsya.
__ADS_1
Sagara menghentikan Gerakan penanya, keningnya mengernyit menatap Quinsya yang masih memejamkan mata, gadis itu mengigau.
“Ya yang sexy” racau Quinsya sekali lagi.
Ameer, azmi geleng geleng kepala sambil menahan tawa mendengar racauan Quinsya. Sementara Aryan mengeluarkan senjata terbarunya yaitu selotip dan gunting. Pria itu menggunting selotip seukuran mulut caca dan menempelkan selotip yang sudah di potong pada mulut caca.
Gadis itu masih tidak terbangun dari tidur pulasnya, tapi suara Quinsya yang mengigau tidak terdengar lagi.
Sagara tertawa pelan, senyum pria itu juga terbentuk di bibir yang tidak pernah tersenyum, memang hanya beberapa detik tapi itu cukup mampu membuat orang orang menatap sagara dengan mata melotot.
Tidak biasanya si gunung es bisa tersenyum seperti itu.
.
“nyebelin banget, lucu apanya sih tidur di kelas, gak menghormati guru, dan orang-orang hanya mengatakan lucu, bahkan ibu guru juga gak marah sama dia” umpat fani pelan, dia sejak tadi memang melihat tingkah Quinsya yang menyebalkan menurutnya, tadi dia gagal membuat Quinsya di permalukan di depan umum kerena entah bagaimana caranya sebuah video tersebar memperlihatkan kejadian sebenarnya.
“Benar banget, gue jijik banget dengar suara ngoroknya” bisik dwi, teman satu bangku Fani.
Memang banyak cewek yang memandang jijik pada quinsya sejak awal dia menyatakan bahwa menyukai sagara sang idola sekolah, selama ini para penggemar hanya menyatakan suka dari jauh dan diam diam tidak seperti Quinsya yang menyatakan suka secara terang terangan, dan di sindir Quinsya tidak menunjukkan raut malu atau ketakutan, malah sebaliknya Sagara membiarkan gadis alien itu untuk berada disekitarnya, dan sekarang Sagara berhasil dibuat tertawa oleh Quinsya dengan semua tingkah lucu gadis itu.
Tapi semua tingkahnya malah di buat menyebalkan dan menjijikkan di mata para penggemar Sagara.
“Sial banget kok bisa ke sebar video tadi” umpat fani dengan suara pelan.
“gue rasa Quinsya bukan orang sembarangan deh fan” bisik Dwi.
Fani langsung memicing tidak suka pada Dwi. “Maksud lo apaan?” dengus fani sebal.
“iya liat aja tadi, dari mana datangnya video itu? Kok bisa video itu mendapatkan nomor kita begitu saja, dan semua orang mendapatkan video itu, dan yang sekarang liat ibu dewi diam aja liat tingkah tu anak, biasanya ibu dewi akan mengamuk kalau ada yang tidur di kelas kan? Coba lihat ibu dewi menganggap tidak ada yang terjadi seperti Quinsya emang tidak ada di sana” ungkap Dwi.
Fani menoleh melihat guru yang sedang duduk dan memperhatikan sekretaris menulis di papan tulis. Memang benar yang di katakan, ibu dewi adalah salah satu guru yang mengerikan bagi para siswa siswi di sekolah tapi sekarang guru itu bertingkah biasa saja melihat Quinsya tidur di kelasnya.
“sepertinya kita harus cari tau siapa orang tua nya, kalau perlu kita sebarkan video dia di internet biar dia malu” ucap Fani.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1