
30 menit sebelum pulang sekolah barulah Quinsya mengeluarkan suaranya, gadis itu menggerakkan badannya seperti sedang merenggangkan otot otot badannya yang terasa kaku.
Dari teman sekelas hingga guru yang sedang mengajar pun melihat apa yang sedang terjadi pada Quinsya.
Guru itu mendekat kea rah Quinsya sambil melirik kearah lukisan yang dibuat oleh Quinsya.
“Hmmm, Alquinsya?” panggil guru pada Quinsya dengan lembut.
Quinsya menatap guru itu dan tersenyum menatapnya, “Iya bu?”
“Lukisan kamu boleh pihak sekolah ambil dan jual?” tanya guru itu to the point.
Quinsya menganggukkan kepala dan tersenyum tulus pada guru itu, memang terkesan sangat kurang ajar karena meminta lukisan dan menjual lukisan itu tapi, memang begitulah perjanjian yang di tawarkan papi Rafa pada pihak sekolah. Di sekolahnya yang dulu, bahkan Quinsya tidak diberikan kesempatan untuk menyelesaikan lukisannya setiap dia menyelesaikan setengah lukisan dia pasti diberi hukuman yang berat oleh pihak sekolah.
“Tentu bu, tapi meja caca gak ada lagi dong?”
Guru itu tersenyum pada Quinsya, “Tenang saja, nanti akan di ganti menjadi baru lagi”.
“baik bu” jawab Quinsya senang.
.
Dari kejauhan Fani, dwi dan beberapa siswi di sana tampak kesal dengan apa yang baru saja mereka saksikan, bagaimana seorang guru bisa bersikap baik pada siswi yang tidak mengikuti pelajaran bahkan bersikap lembut.
“Emang semahal apa sih lukisan itu, gak yakin gue itu bernilai fantastis” gumam Fani kesal.
“Iya gue juga gak yakin” sambut dwi.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Beberapa hari setelah lukisan Quinsya di lelang pihak sekolah melakukan sedikit renovasi pada ruangan kesenian, kabar tentang lukisan Quinsya yang laku seharga dua ratus lima puluh juta sudah tersebar di seluruh sekolah, beberapa siswi dan siswa yang meremehkan Quinsya sudah banyak yang tidak menceritakan gadis itu lagi, mereka merasa kecil setelah tau berapa penghasilan yang bisa Quinsya dapatkan.
“Ca, ini teman teman gue yang mau kenalan dengan lo” Amira datang bersama teman-teman palsunya. Sebenarnya Amira sudah tidak mau berteman dengan mereka, tapi Amira tidak mau di bully dan sendirian selama 3 tahun di sekolah, jadi dia akan melakukan perkataan quinsya untuk berpura-pura berteman, dan berpura pura setuju dengan perkataan mereka.
Quinya yang sedang asik makan mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang.
“Hai Ca, Gue Tina, gue gak nyangka lo pelukis terkenal, bolehkan kita kenalan” Tina menjulurkan tangannya pada quinsya dengan senyum palsunya.
__ADS_1
Quinsya melihat itu sekilas lalu mengangkat kedua tangannya yang tampak berminyak dan penuh saos. “Maaf gue gak bisa jabat tangan lo, atau mau jabatan dengan tangan gue yang seperti ini?” goda Quinsya, gadis itu bukannya tidak tau dengan akal bulus oleh teman teman Amira, seperti Amira yang berakting Quinsya juga akan memanfaatkan mereka, mereka kira Quinsya bisa dengan mudah di bodohi, dia memang tidak pintar dalam hal pelajaran tapi Quinsya cukup cerdik dan licik, jika menyangkut hubungan pertemanan.
“Ahh gak apa, jadi kita teman ya?” Tina menarik kembali tangannya, bibir gadis itu memang membentuk senyuman tapi beberapa orang yang sangat peka bisa tau itu adalah senyuman palsu karena senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Boleh” sambut Quinsya.
“Wahhh makasih Ca” Seru Tina dan yang lainnya. “gampang banget ternyata” batin Tina.
“Iya” sahut Quinsya lagi.
“Karena kita teman, nanti pulang sekolah kita karokean yuk, untuk memper erat persahabatan kita” ujar Tina.
“Iya ca, ayo ikut” sahut Fani, dwi dan Rina.
Quinsya tersenyum pada Tina, “maaf papi gak bolehin, tapi kalau mau karokean sekarang aja!” seru Quinsya.
Azmi, Aryan, Ameer dan Amira menahan senyum mereka mendengar pernyataan Quinsya mereka sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.
“Hah? Sekarang?” Beo mereka serempak.
Quinsya mengangguk antusias, Dia mengambil tisu untuk mengelap tangannya dan mengambil botol air minum Aryan menjadikan botol itu seperti mic. “AYO KITA MULAI” teriak Quinsya sambil berdiri.
“Bang Az! Music!” teriak Quinsya.
Azmi menghela nafas panjang sambil mengeluarkan ponselnya dan menaikkan volume nya menjadi sangat keras. Sementara Amira, Aryan dan Ameer sudah tertawa kecil dan menutupi tawa itu dengan tangan mereka. Sedangkan Sagara, tina, fani, dan yang lain ada di kantin menatap heran dan terkejut dengan apa yang Quinsya lakukan.
Quinsya mulai menyanyi dengan suara sumbangnya, dia sama sekali tidak malu beberapa orang mulai tertawa melihat tingkahnya.
“Bukan adik gue, bukan adik gue” guman Azmi berulang kali sambi menutup mukanya.
Sagara yang tadinya terkejut kini tertawa pelan melihat Quinsya yang dengan santainya menyanyi.
“Biwir bereum bereum jawer hayam panon coklat kopi susuuuuu, huk huk” Quinsya langsung membuka botol mium di tangannya karena batuk.
“Ngapa ca?” tanya Ameer di sela tawanya.
“Gak nyampe suara caca, huk huk” ucap Quinsya dengan polosnya. “Tin, ayo giliran Tina lagi, caca udah gak nyampe suaranya” Ajak Quinsya, gadis itu tersenyum manis sambil mengedipkan sebelah matanya pada Tina.
__ADS_1
“Hah?!” Tina masih tampak terkejut dan Syok dengan apa yang barusan Quinsya lakukan.
“Giliran Tina lagi, katanya mau karokean, Ayo” Quinsya memberikan botol minuman yang tadi dia gunakan sebagai mic pada Tina.
Tina menggelengkan kepalanya cepat, “Maksud gue di tempat karoke, bukan disini” ujar Tina sedikit menyentak kesal.
“Ayolah kan sama sama karoke iyakan bang?” tanya Quinsya pada kedua abangnya.
“Gue malu ca, nyanyi di tempat ini, lo gak malu, suara sumbang, tapi nyanyi di depan umum” sindir Tina.
“Kan kita teman, ngapain gue malu, orang ujung-ujungnya kalau gue karokean di tempat lain tetap sama suara gue fals dan sumbang” jawab Quinsya acuh. “Gak asik nih Tina, tadi katanya mau ngajak karoke, udah di ajak malah nolak” ledek Quinsya.
“i-iya tapi gak di sini juga, a-ada sagara gue malu di depan sagara, gue gak seperti lo yang urat malunya udah putus” sekali lagi Tina menyindir secara tidak langsung.
Quinsya langsung menoleh pada sagara yang masih tertawa pelan sambil menutup mulutnya.
“Muse mau ikutan nyanyi ya?” Goda Quinsya.
“Lain kali aja, gue kali ini pass” Ujar Sagara di sela tawanya.
“Muse malu ya?” tanya Quinsya lagi.
Sagara menggelengkan kepalanya pelan, “Gue gak bisa bicara untuk saat ini” ujar pria itu masih tertawa pelan mengingat kelakuan Quinsya.
"ihh muse malu" gerutu Quinsya.
Sagara menggelengkan kepalanya masih sambil tertawa, "gak ca, ampun kali ini gue pass" ucap Sagara lagi disela tawanya.
“Sagara kok kayaknya senang banget, padahal yang dilakukan anak bodoh itu sangat memalukan, kok bisa sagara tersenyum dan tertawa seperti itu pada si bodoh” Batin Tina kesal.
“Sagara kalau ketawa manis banget ini pertama kalinya gue lihat, tapi kenapa dia ketawa untuk tingkah memalukan gadis bodoh itu?” batin Fani kesal.
“Sial kenapa bisa sagara ketawa hanya dengan tingkah bodoh itu” batin Rina kesal.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
bonus pict
__ADS_1