My StuPid Girl

My StuPid Girl
42. Hilang Kendali


__ADS_3

Quinsya menikmati waktu liburannya setelah ujian berakhir, dia bersama kedua saudara kembarnya dan sagara piknik di empang yang dibuat oleh papi rafa dekat belakang rumah.


Setelah memasang pancingan mereka duduk di bawah pohon yang cukup rindang beralaskan tikar, menunggu pancingan diambil oleh ikan.


Sagara membaca buku seperti Aryan, sedangkan azmi bermain game di ponselnya, sedangkan Quinsya berbaring dengan menjadikan paha sagara sebagai bantalnya. Menikmati waktu santai seperti itu merupakan hobi Quinsya, hanya berbaring menikmati sinar matahari yang masuk melalui celah dedaunan, dan angin yang menyejukkan.


Semua ketenangan itu langsung hilang begitu datang orang orang yang mengaku menjadi teman Quinsya, teman teman palsu yang penasaran dengan hubungan Quinsya dengan sagara.


“Caca!” suara panggilan Amira mengejutkan Quinsya yang sedang memejamkan matanya, gadis itu cepat cepat duduk dan melihat siapa yang datang.


Quinsya sempat terdiam untuk beberapa saat tapi kemudian dia menunjukkan senyum palsu pada teman temannya, “Sini duduk, kita mancing sama sama” ucap quinsya terpaksa.


Ke empat teman palsu Quinsya segera duduk di dekat sagara membuat pria itu menjadi risih. Begitu juga dengan kedua saudara kembar Quinsya.


“Abang ke kamar aja ya” ujar Aryan yang sudah tegak dari duduknya.


“Abang juga dek, mau main game di computer” ucap azmi yang ikutan pergi dari sana.


Sedangkan sagara, pria itu berdiri tanpa bersuara.


“muse~” Rengek Quinsya, dia dengan lembut memanggil Sagara.


Sagara menghentikan langkahnya berbalik untuk menatap quinsya dengan pandangan lembut, “kenapa?” jawab sagara.


Quinsya memandang sagara dengan wajah memelas, “mau kemana?” rengek Quinsya lagi.


“Main sama az” jawab sagara singkat.

__ADS_1


“Ya udah deh” ujar quinsya pasrah.


Selepas Sagara dan kedua saudara Quinsya pergi Tina memberi kode pada amira untuk bertanya pada Quinsya, sebenarnya amira terlalu malas meladeni mereka, tapi apalah daya, dia akan kena bulan bulanan di sekolahnya, toh Cuma pertanyaan jadi tidak masalah.


“Ca, si saga sering main ke sini ya?” tanya amira.


Quinsya menatap ke arah pancingannya, bukan pada amira yang bertanya padanya, “Sering, soalnya caca sering minta muse untuk jadi model caca” jawab Quinsya santai.


Di belakang Quinsya, Tina CS sudah mengepalkan tangannya geram mendengar jawaban Quinsya. Tina kembali memberi kode pada Amira untuk bertanya, tapi sayang amira tidak melihat ke arahnya.


“Kasian banget ya saga harus jadi babysitter lo” sindir Fani.


Quinsya mengulum senyumnya tapi pandangan gadis itu masih tetap menatap pada pancingannya. “Muse biasa aja tuh, gak merasa terganggu setiap caca panggil” balas Quinsya acuh.


“bukan bersikap biasa tapi gak bisa nolak karena lo maksa, dan saga harus mengikuti ucapan lo” Tina akhirnya tidak dapat menahan diri untuk membuka mulut untuk membalas ucapan Quinsya.


“Lo pacaran sama saga?” tanya Dwi penasaran.


“Tanya aja sana, sama muse” kekeh Quinsya.


Mendapat jawaban yang ambigu Tina mencolek lengan amira agar mendesak Quinsya untuk memberikan jawaban yang pasti.


“Ca, mereka penasaran banget, boleh lah kasih tau” Ucap Amira lembut.


Quinsya menoleh sebentar untuk melihat amira, tampak muka saudara sepupunya yang merasa Lelah dengan permintaan teman palsunya. “Gak pacaran, gue gak pernah minta muse untuk pacaran sama gue” jawab Quinsya akhirnya.


“Dan kenapa lo bersikap seolah olah sagara adalah pacar lo!” Tanya Tina dengan suara yang tinggi.

__ADS_1


Quinsya mengerutkan keningnya bingung, dia menatap Tina yang berada dibelakangnya dengan kepala miring, “sikap seperti pacar itu seperti apa?” tanya Quinsya polos, karena memang dia tidak tau maksud ucapan Tina, gadis itu tidak pernah berpacaran dan menurutnya sikap dia biasa aja dengan sagara, kedua abangnya juga sering dia perlakukan seperti itu, kalau berdasarkan novel yang dia baca pacaran itu sampai bisa ciuman.tapi, dia dan sagara tidak pernah berciuman, jadi Quinsya berpikir kelakuannya biasa saja dengan sagara.


“Lo pelukan! Lo suap suapan! Bahkan lo tidur di paha sagara! Itu sikap yang gue maksud! Jangan kecentilan jadi cewek! itu memperlihatkan kalau lo murahan jadi cewek!” Maki Tina kesal.


“Kenapa lo yang marah?” tanya Quinsya bingung.


“Lo gak pernah di ajar ya ca! ohh gue tau, lo memang tidak pernah di ajari, tentang cara menjaga diri dari orang tua lo, buktinya saja orang tua lo hamil saat sekolah lo anak hasil M-B-A kan?!” Sindir Tina.


Wajah Quinsya yang tadinya datar berubah merah, hanya satu kalimat yang bisa membuat Quinsya marah yaitu masalah orang tua, sejak kecil Quinsya di didik sangat baik oleh orang tuanya, dengan kasih sayang yang sangat besar bahkan lebih.


‘PLak’ Quinsya langsung melayangkan tamparan pada pipi Tina dengan sangat keras, mata gadis itu menatap sinis pada Tina, “Tau apa lo tentang orang tua gue, lo pikir lo itu suci dan orang tua lo suci! Gue gak masalah kalian menghina gue, tapi satu hal yang tidak boleh kalian ucapkan adalah menghina orang tua gue! Kalian kesini cuma mau mencari tau tentang sagara kan! Tanya sana sama orangnya! gue maksa! Atau tidak! Kalian pikir dengan menyindir gue, gue bakal menjauhi sagara! Gak bakal! Dia muse gue! Milik gue! Silahkan kalian coba rebut dia dari gue, sekarang gue tantang kalian untuk mendapatkan perhatian sagara!” Quinsya menatap keempat orang itu dengan wajah marah, “Tidak bisa kan? Kalian hanya berani dari jauh, setelah gue hadir baru kalian kelabakan karena gue yang berani maju mendekati sagara! Munafik kalian semua!” bentak Quinsya, dia tegak dan meninggalkan ke lima orang yang terdiam di sana.


“A-anu non, ini minumannya” salah satu asisten rumah tangga Quinsya datang membawakan minuman dingin untuk Quinsya bersama teman temannya.


“gak perlu bik! mereka akan pulang sakarang! Usir mereka jika tidak mau keluar dari rumah ini bik!” amuk Quinsya, gadis yang biasanya tenang dan ceria, kini diliputi amarah yang meluap luap.


.


“Non caca itu adalah orang yang paling sabar dan paling baik yang bibik kenal, jika non caca sudah marah seperti itu, berarti kesalahan kalian sangat besar, dengan tidak hormat bisakah kalian segera angkat kaki dari sini” asisten rumah tangga yang tadi datang menatap marah pada teman teman Quinsya.


“Sombong banget” dengus Tina kesal karena di usir oleh pembantu Quinsya.


“Udah gue peringatkan bukan, ini jadinya jika kalian mengusik orang tuanya” ujar amira.


“Kan memang benar orang tuanya terlalu muda dan melahirkan saat sekolah gue gak salah” umpat Tina.


Amira mendengus dan tersenyum miring, “Itu pemikiran kalian, udah gue bilang berapa kali tapi kalian tidak percaya, jadi sekarang kita keluar, sebelum para satpam kesini menyeret kita” ujar Amira sambil tegak dari duduknya.

__ADS_1


...🎍🎍🎍🎍🎍...


__ADS_2