My StuPid Girl

My StuPid Girl
6. Pindah


__ADS_3

“Ca sini bantuin abang beres beres” teriak Azmi pada adik kembarnya yang saat ini sedang duduk dilantai sambil menggoreskan kuasnya pada lantai, Quinsya memang bisa melukis pada media apa saja, rumah mereka bahkan penuh dengan lukisan Quinsya, Rafa dan cessa tidak pernah melarang putrinya untuk mengekpresikan dunianya, paling jika cessa atau rafa tidak suka dengan hasil quinsya mereka akan minta izin putrinya untuk menghancurkan lukisan yang telah dia siapkan.


“. . .” bukannya menjawab Quinsya masih sibuk melukis pemandangan malam di lantai dia duduk, orang-orang pada berlalu Lalang memindahkan barang-barang dan membungkus barang-barang yang mungkin bisa dibawa, atau di simpan saja disana biar tidak berdebu dan terkena rayap.


“CACA!” Seru Azmi sekali lagi.


Quinsya akhirnya mengangkat kepala dan menatap horror Azmi, dan di detik berikutnya beberapa cat milik Quinsya sudah bertebrangan menuju Azmi yang sedang mengangkat koper baju nya.


‘Plak’ bukan hanya lempiran cat, Azmi juga mendapatkan pukulan dari Aryan, “Jangan ganggu caca, kalau gak mau bantuin sana duduk dan main, biar gue aja yang kerja” ucap Aryan dingin.


“hehehe santai bang, kayak gak tau gue aja, gangguin Caca itu sangat menyenangkan, gue Cuma bercanda bang” Azmi mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


“Liat kebelakang, kalau berani ganggu putri kesayangan papi lagi nanti kena hukum papi baru tau” Arya berlalu meninggalkan Azmi yang dengan perlahan menoleh kebelakang.


“hehehe papi ganteng azmi Cuma bercanda kok” kekeh Azmi, pria itu langsung berlari sebelum Rafa murka.


.


“caca jangan lupa minum sayang, dari tadi papi perhatikan caca belum ada minum, nih minum dulu” Rafa datang dengan botol air minum ditangannya, dia memang mewajibkan putrinya untuk selalu menghabiskan minimal 2 liter air dalam satu hari.


“iya pi” Quinsya segera mengambil minuman yang disodorkan Rafa, dan langsung menegak habis air itu.


Setelah itu Rafa baru pergi meninggalkan Quinsya yang sibuk dnegan dunianya sendiri.


...🌼🌼🌼🌼🌼...


“Sayang, kamu gak bisa bujuk caca untuk ikutan sekolah bareng Aryar?” tanya cessa sambil masuk kedalam pelukan suaminya, saat ini pasangan suami istri itu sedang menikmati waktu romantis mereka di atas ranjang.


“biarin aja, nanti kalau dia minta baru kita masukkan, kalau di paksa nanti anaknya stress sayang, lebih baik biar dia yang minta sendiri” jawab Rafa lembut, tangan pria itu sibuk membelai punggung istrinya yang sudah tidak mengenakan apapun, mereka habis bergulat di ranjang, padahal besok mereka semua akan pulang ke kota tempat opa dan oma bagaskara tinggal.


Pikiran cessa kembali teringat saat masa dia di bully dan harus homescholing karena tidak berani keluar dan bertemu orang lain, karena itu dia tidak mempunyai teman sekolah.

__ADS_1


Sementara Quinsya mau homeschooling karena tidak suka dengan sekolah, gadis 15 tahun itu juga belum punya teman seumurannya, karena terlalu sering keluar masuk rumah sakit dan juga terlalu sering berbuat ulah jadi tidak banyak orang yang mau mendekatinya.


Awalnya Quinsya bersekolah dengan abangnya juga karena tertarik dia penasaran bagaimana sekolah para orang pintar berada, untuk mendukung keinginan Quinsya, cessa sampai memohon pada suaminya agar Quinsya bisa bersekolah di sekolah yang sama, tujuannya agar Quinsya bisa mempunyai teman akrab, cessa dan rafa sampai rela pindah keluar kota untuk keinginan putri bungsunya.


“Hahh” helaan nafas panjang terdengar dari bibir cessa. Bukan cessa marah tapi dia sedih belum ada tempat yang bisa menerima putrinya yang istimewa itu.


“Udah tidur lagi, atau mau gulat lagi?” goda Rafa, tangan pria itu sudah mengelus gundukan kembar milik cessa.


“Ihh papi orang mami lagi serius bisa-bisanya masih godain mami” gerutu cessa.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Seperti yang sudah dipersiapkan satu keluarga itu berangkat menuju bandara, Quinsya terlihat biasa saja dia sama sekali tidak sedih meninggalkan kota itu.


“Sayangnya Oma sini peluk oma” teriak dona saat melihat keluarga Rafa baru turun dari mobil.


Quinsya langsung berlari memeluk oma dona dan memberikan ciuman pada pipi oma dona.


“Ya ampun cucu ganteng oma cemburu aja, oma kan bilang sayang untuk semuanya” kekeh Oma dona sambil memeluk cucu lelakinya.


“Oma kok makin muda dan makin cantik sih, kalau oma jalan sama opa jadi dikira jalan sama papinya” kekeh Azmi.


“enak aja oma sama opa itu selalu awet muda” bantah Opa harry.


“Yee yang udah tua harusnya sadar diri opa, bro yuk main game” Ameer datang tiba-tiba dan langsung mengajak Azmi main game.


“Oke” azmi langsung menghilang dengan cepat, dua saudara sepupu itu memang sejak kecil sangat dekat, memang sering berantem tapi mereka tidak pernah berantem sangat lama.


“Gimana kabar oma dan opa” kali ini Aryan yang menyalami kedua opa dan omanya.


“baik, sana masuk semua sudah menyambut kedatangan kalian” perintah opa harry.

__ADS_1


Aryan dan Quinsya segera memasuki rumah besar milik opa dan oma nya, meninggalkan rafa dan cessa yang sedang menunggu antrian untuk menyalami opa dan oma bagaskara.


“Jadi gimana ceritanya sampai caca di keluarkan dari sekolah?” tanya oma dona, setelah pasangan suami istri itu menyalaminya.


“Oma tau sendiri caca gak bisa diam, hobinya sekarang buat ulah dan sekarang diam au homeschooling aja” keluh cessa.


“Udah di bujuk? Atau rayu gitu” tanya opa harry.


Kedua pasangan kakek dan nenek itu sudah mendengar cerita tentang cucu mereka yang keluar dari sekolah karena kenakalannya.


Cessa memberi kode pada papi nya untuk melihat Rafa, “papi nya gak mau bujuk atau rayu, katanya takut caca stress biar dia yang minta sendiri”.


Opa harry tertawa sambil menepuk bahu Rafa, “bujuknya dengan kasih unsur cerita dong, kalau bujuk biasa sudah pasti gak mau”.


“emang gimana caranya pi?” tanya Cessa antusias.


“Bilang itu adalah sekolah tempat kalian bertemu dan ceritakan kisah cinta kalian di sana, papi yakin putri kalian yang nakal itu pasti tertarik” kekeh Opa harry.


“papi hebat juga ya, kalau gi_” ucapan cessa terhenti saat melihat Quinsya sedang menggandeng saudara sepupunya amira, “mau kemana kalian?” seru cessa heran, baru juga mereka datang kedua anak gadis itu sudah pergi duluan.


“Jalan mam” seru Quinsya semangat.


“Ca! kamu baru datang loh! Bahaya anak gadis pergi berdua aja” omel Cessa.


“Gak apa mami, perginya sama Darel kok, mami tenang aja” Darel menyalami cessa dan rafa, sambil menunjukkan kunci mobil yang dia pegang.


“wahhh anak mami makin ganteng aja ya, udah punya pacar belum?” goda Cessa.


“Belum mi! dan abang gak boleh pacaran!” bukan Darel yang menjawab melainkan Amira, gadis 15 tahun itu bersungut kesal sambil menatap abang sulungnya, “abang ayo cepat!”


“Iya iya, darel temani mereka ya mi, janji gak pulang tengah malam, dan bakal jagain keduanya” ucap darel cepat sebelum benar-benar berlari menuju mobilnya.

__ADS_1


...🌵🌵🌵🌵🌵...


__ADS_2