My StuPid Girl

My StuPid Girl
51. Niat Doang


__ADS_3

‘bruk’ mata sagara terbuka, dan menoleh menatap orang yang memeluknya, Quinsya bukannya lari ataupun kasian, dia hanya sedih mendengar cerita masa kecil sagara, dia ingin menjadi obat bagi pria itu, obat yang bisa menyembuhkan trauma dan sakit yang dirasakan sagara.


“Jangan mengasihaniku” ucap sagara akhirnya.


Quinsya menggelengkan kepalanya, “Siapa yang mengasihani, good job muse, kamu hebat bisa bertahan hingga menjadi pria keren seperti sekarang” puji Quinsya.


Tanpa sadar sagara menangis, air matanya keluar begitu saja tanpa bisa dia tahan.


Quinsya semakin mengeratkan pelukannya membiarkan pria itu meluapkan emosinya di bahu quinsya. “Kata orang menangis adalah salah satu obat, jangan takut untuk menunjukkan ekspresi menangismu, mereka tidak akan berani mengejekmu” gumam Quinsya sambil terus mengelus punggung sagara dengan lembut.


.


“Apakah aku terlihat menyedihkan sekarang?” tanya sagara setelah puas menangis.


Quinsya menggelengkan kepalanya pelan dan mengelus pipi sagara dengan lembut, “muse akan selalu keren dan tampan dalam benak caca” ucap Quinsya dengan sangat polos.


Quinsya kini menyandarkan kepalanya di bahu sagara menatap air pantai yang terus berusaha menerjang kaki mereka.


“Setelah lulus sekolah muse akan kuliah dimana?” tanya Quinsya, mencoba mengalihkan perhatian sagara dari masa lalunya.


Sagara sempat terdiam beberapa saat bukan karena dia masih memikirkan masa lalunya, tapi mengenai keputusannya akan kuliah.


“Muse~ kok gak jawab?” Quinsya kini fokus menatap sagara sambil memegang kedua tangan pria itu.


“ingin dengar jujur atau bohong?” tanya sagara pelan.


“jujur” ucap quinsya dengan serius.


Sagara bersiap siap mengambil nafas panjang, “ini adalah keputusanku jauh sebelum bertemu denganmu, aku ingin kuliah di jerman. . .” ungkap sagara.


Quinsya menatap mata sagara dengan lekat mencari kebohongan di sana tapi nihil, sagara berkata jujur. “lalu setelah bertemu denganku?” tanya Quinsya lagi.


“Aku bimbang, antara akan mengambil jurusan yang aku impikan sejak kecil atau tetap di sini bersamamu” aku sagara, memang benar pria itu sedang dilemma, antara kuliah diluar negri atau tidak.


“Apakah itu impian muse sejak kecil?”


Sagara menganggukkan kepalanya pelan.


“Boleh caca tau apa itu?”

__ADS_1


“Kedokteran dan keuangan aku akan memilih dari salah satu jurusan yang ada di sana” jelas sagara masih tertunduk tidak mau menatap mata Quinsya.


“Di sini bukannya ada sekolah jurusan kedokteran juga?” tanya Quinsya.


“hmm” sagara berdeham sambil menganggukkan kepalanya.


“Apa muse ingin lari dari ayah muse? Lari yang sangat jauh hingga tidak bisa dia kejar?” selidik Quinsya.


Kepala sagara yang tertunduk kini terangkat ke atas. “apakah aku ketahuan?” sagara tersenyum kecut saat matanya bertatapan dengan Quinsya.


“Lari sejauh itu tidak akan menyelesaikan masalah, dan hubungan muse dengan ayah muse tidak akan pernah bisa hilang, papi pernah bilang hubungan ayah dan anak tidak akan pernah putus sampai kapanpun” jelas Quinsya. “aku berharap muse tetap di sini” sambung quinsya dengan nada lirih.


“Aku sudah bilangkan aku sedang dilanda ke bimbangan, tapi jika aku pergi aku juga ingin membawamu, aku dengar di sana ada jurusan kesenian” ujar sagara.


Quinsya memiringkan kepalanya sambil tersenyum menatap sagara, “apa kau sedang melamarku?” goda Quinsya.


“ahh! I-itu_” sagara menghentikan ucapannya, pria itu terlihat salah tingkah dengan menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


“hahahha aku bercanda, tapi kalau muse berniat membawaku, muse harus melamar ku? Aku tidak akan ikut jika kita tidak memiliki hubungan apapun” canda Quinsya.


Sagara mengangguk sambil mengelus puncak kepala Quinsya, “akan aku pikirkan baik baik masa depan kita” gumam sagara.


Wajah Quinsya berubah kesal, “seharusnya gak aku bawa tu a-bank pembuat onar” gerutu Quinsya dengan suara pelan, namun masih bisa terdengar oleh sagara.


Sagara tertawa kecil mendengar gerutuan Quinsya.


“CACA! Gue laporin ke papi!” ancam Azmi karena Quinsya masih belum pindah dari posisinya.


“Perlu di beri bogem mentah tu abang!” Quinsya akhirnya tegak dibantu sagara, setelah membersihkan pasir yang menempel pada celananya, Quinsya berlari kencang kearah azmi, memberikan beberapa tinjuan maut pada abang kembarnya lalu kembali ke hadapan sagara.


“Uhhh pengganggu sudah hilang” ucap quinsya yang sudah berdiri disamping sagara.


Pria itu masih menatap pantai tanpa menoleh sedikitpun.


“masih mau disini?” tanya Quinsya.


Sagara meraih pinggang Quinsya agar mendekat padanya, pria itu juga mengembangkan senyuman saat melihat gadis itu. “Aku ingin menikmati ini berdua, bisakah kita tetap disini sebentar lagi?”


“Baiklah” jawab Quinsya sambil memeluk tubuh sagara, sudah tidak ada kecanggungan lagi di antara mereka, skinship seperti itu sudah sering mereka lakukan, walau tidak ada kata cinta tapi keduanya sama sama nyaman berada didekat pasangan mereka.

__ADS_1


...🌼🌼🌼🌼🌼...


“Dari mana aja ca?” tanya opa Ali begitu Quinsya sampai di vila.


Dibelakang opa ali ada azmi yang babak belur karena ulah Quinsya yang terus memukulinya tadi.


“liat tu opa, caca berduaan terus opa!” adu Azmi.


“namanya kencan ya harus berduaan lah, mau abang jadi setannya?” balas Quinsya, gadis itu memang selalu menjawab apapun yang dikatakan orang orang.


Opa ali mengulum senyumnya mendengar jawaban dari cucu perempuannya. “papi rafa belum bolehkan caca pacaran kan?” tanya Opa ali.


“Ihh opa kayak gak tau anak muda aja, emang setiap kencan itu harus pacaran dulu baru boleh kencan?” balas Quinsya lagi.


“Iya dong! Itu harus” ujar azmi.


“teori dari mana bang? Coba liat caca” Quinsya memutar badannya dan mendekatkan wajahnya pada opa ali dan azmi, “ada sesuatu yang berubah dari caca? Caca gak sampai ciuman, kalau ciuman baru gak boleh” sambung gadis itu dan berlalu pergi.


“Ca! caca! Siapa yang tau caca ada ciuman atau tidak! Abang gak liat tadi caca kencannya!” teriak azmi dengan suara kencang.


“Coba aja liat bibir muse! Ada lipstick caca gak?!” balas caca tidak kalah kencang.


“wuaahhh lama lama adek gue makin berani” gumam azmi tanpa sadar. “kalian benaran gak ada ciuman kan?” selidik azmi pada sagara yang masih tegak di sana.


Gantian kini sagara yang mendekatkan wajahnya pada Azmi, “Liat gak ada lipsick kan? Berarti belum” jawab sagara, “opa, saga pamit ke kamar dulu ya” pamit sagara.


Opa ali tertawa pelan melihat pertengkaran cucu cucu nya. “baiklah sana kembali ke kamarmu”.


“Berarti belum???” Azmi terus menggumamkan ucapan sagara setelah tau maksud pria itu azmi segera berlari mengejar sagara. “kalau belum lo ada niatan untuk menciumnya dong?!” pekik Azmi tidak percaya.


Sagara menepuk bahu azmi dengan pelan, “Niat doang, belum gue laksanain, gue masih bisa tahan kok bro” kekeh sagara. Pria itu sudah mulai bisa bercanda dengan keluarga Quinsya.


“Apaan tuh! Kagak boleh! Adek gue masih kecil!” pekik azmi gak terima.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


bonus pict


__ADS_1


__ADS_2