
“kalau tujuan abang Cuma buat ngejar hana, sebaiknya tidak usah, tapi kalau memang abang pengen mengejar Pendidikan di sana, opa yakin papi rafa baru mengizinkan” ujar opa harry lagi.
“abang sebenarnya mulai tertarik dengan universitas itu, ada jurusan yang abang ingin pelajari lebih dalam, tapi abang juga ingin mengejar hana” aku azmi akhirnya.
“Dua hari lagi persiapkan diri abang, papi lamarkan hana” ujar papi rafa.
Mata azmi langsung membulat sempurna, terkejut karena rafa langsung melamar kan hana.
“Tapi, pi_”
“Mau papi izinkan atau gak kuliah di sana, luar negri itu pergaulannya luas bang, ***, narkoba dan alkohol bukan hal tabu lagi dilakukan oleh para anak muda seumuran abang, papi tidak mau abang terpengaruh pergaulan bebas di sana, jadi papi harus bertindak lebih dulu” potong rafa sebelum azmi memprotesnya.
“abang belum tentu diterima pi, lagian kenapa abang aja, Aryan juga kuliah di luar negri” ujar azmi.
“Gue gak ada orang yang gue suka, belum terpikirkan mau menikah dengan siapa, kalau udah ada orang yang gue taksir, gua akan minta papi untuk lamarin langsung” Aryan yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
Rafa mengangguk, “kamu dengar sendirikan, aryan sudah mengatakan alasan kenapa papi mau melamar wanita yang kamu sukai, atau jangan jangan kamu masih ragu dengan perasaan kamu?”
Azmi menggeleng pelan, “tapi kalau abang di tolak gimana pi” ucap azmi pelan.
“anak mami kok penakut banget, kalau ditolak ya maju lagi pantang mundur, emang hana udah ada yang punya ya?”cetus Cessa.
__ADS_1
“Di coba aja dulu az, kakak yakin kok kamu diterima” Flora ikutan berbicara.
“jadi gimana? Mau papi lamar kan atau tidak?” rafa melihat jam ditangannya, “papi tunggu jawaban kamu sampai operasi ayah Aditya selesai, sekarang papi akan melakukan operasi lagi” terlihat para suster sudah masuk bersama beberapa orang dokter yang menjadi asisten papi rafa dalam melakukan operasi.
.
Semuanya kini bersama sama mengantarkan ayah Aditya untuk melakukan operasi.
“Rafa bentar, bisa aku bicara dengan sagara” tahan Aditya sebelum dia memasuki pintu ruang operasi.
Sagara dan Quinsya mendekat ke arah ayah Aditya, “Saga, terima kasih sudah mau memaafkan ayah, Ayah harap operasi ini berhasil dan ayah bisa melihat cucu ayah kelak”.
Sagara mengangguk, “ayah tenang saja, semuanya akan lancar, yang ayah harus ingat kita akan berkumpul kembali dan ayah bisa bermain bersama cucu ayah”.
Operasi berlangsung sangat lama karena memang itu operasi yang sangat sulit. Beberapa orang sudah pergi dari ruang tunggu untuk beristirahat dan melakukan aktifitas lain hanya sagara, Quinsya, mami cessa, dan Azmi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, tapi mereka masih duduk di ruang tunggu. Mami cessa yang lebih dulu tegak bersama azmi, pria itu memaksa mami cessa untuk makan siang.
“Saga, mami tau kamu masih mau menunggu ayah Aditya, tapi ini sudah saatnya jam makan siang, sebaiknya ikut mami dan azmi makan, kasian istri kamu dia juga belum makan” ujar mami cessa dengan lembut.
Sagara mengangguk dan menggandeng tangan Quinsya tanpa bersuara, walau dia tidak terlalu dekat dengan ayah Aditya tapi pria itu tetap saja cemas. Mengetahui bagaimana kecemasan Sagara, Quinsya mengelus lengan sagara yang menggandengnya.
__ADS_1
Sagara tidak menikmati santapannya sedikitpun, hanya mengaduk aduk nasi yang dia pesan. Quinsya yang melihat itu juga ikutan tidak nafsu makan, seperti sagara dia mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya, tanpa kedua orang itu sadari mami cessa terus memperhatikan apa yang dilakukan sagara dan Quinsya. Saat Quinsya izin ke kamar mandi akhirnya mami cessa berbicara untuk menasehati sagara.
Cessa tau berbeda dari suaminya Rafa, Sagara tumbuh tanpa kasih sayang bahkan dia penuh dengan luka, jadi tidak ada yang mengajarkan dia untuk menjadi dewasa, tidak ada orang yang memberikan contoh padanya, bukan cessa menyalahkan sagara yang tidak baik menjadi suami, cessa hanya ingin memberi arahan yang benar pada pria itu agar dia tanggap dengan istrinya.
“Saga, mami tau kamu sedih, kamu juga sudah mau makan disini tapi kamu harus bisa membaca situasi, liat istrimu, dia tidak makan apapun sama sepertimu, bukan mami menyalahkan kamu tidak tanggap sebagai suami, tapi kedepannya, saga sebagai suami harus cepat tanggap dengan istri kamu, Caca itu orangnya perasa, dia juga bisa sedih seperti dirimu, tenang aja percaya sama papi semuanya akan baik baik saja” ujar mami cessa.
Sagara menoleh untuk melihat isi piring Quinsya, dia tersenyum miris melihat isinya yang tidak ada berkurang hanya diaduk aduk oleh Quinsya seperti sagara mengaduk aduk makanannya.
“Mami tidak menyalahkan saga, tapi sebagai suami kamu harus cepat tanggap dengan apa yang terjadi pada sekelilingmu, mulai dari sekarang belajar untuk membaca situasi, kamu lah pemimpin Quinsya, kalau kamunya goyah bagaimana quinsya bisa tetap berdiri teguh, jadi jangan marah dengan nasehat mami, tapi ambil baiknya, mengerti?” kata mami cessa dengan lembut.
Perlahan kepala sagara mengangguk, “maafin saga mam, saga sudah jadi suami yang jahat buat Quinsya” lirih sagara.
Mami cessa tersenyum dan mengelus punggung tangan sagara dengan lembut, “mami tidak menyalahkan, tapi mami hanya memberi masukan, ke depannya caca akan menjadi sedikit menyebalkan, sifat asli gadis itu akan muncul dan kamu harus bisa menerima itu, seperti caca yang menerima kamu apa adanya, jika kalian tidak bisa menerima keburukan pasangan kalian, maka pernikahan kalian tidak akan bisa awet, kamu sudah liat sendiri kan, bagaimana pernikahan orang tuamu, itu karena tidak ada kepercayaan dan keduanya masih bersikap egois tidak mau menerima kekurangan pasangannya masing masing, jadi kan itu sebagai contoh dan buat rumah tangga yang lebih baik dari itu”.
Sagara mengangguk cepat, “iya mam, maafkan saga, saga salah, saga tidak akan seperti ini lagi” ujar sagara.
“tidak kamu tidak salah, wajar jika seseorang sedang banyak pikiran juga seperti itu, tapi dilihat lagi, jika memang masalah kamu sudah sangat berat jangan di pendam, kamu selama ini sendirian makanya sering memendam semuanya sendiri, tapi sekarang kamu punya pasangan, berbagilah cerita dengannya, dengan begitu hatimu akan menjadi lega paling tidak pasanganmu bisa memberikan solusi atau hanya sekedar sebagai pendengar yang baik, jangan pendam semuanya sendiri, karena kamu sekarang sudah punya pasangan hidup, ceritakan pada pasanganmu, dia pasti mau mendengarkan” nasehat mami cessa lagi.
Sagara kembali menganggukkan kepala, dia memang hanya memendam semuanya sendiri, tidak mau Quinsya ikutan terbebani dengan masalahnya.
“jangan berpikir dengan saga memendam semuanya sendiri, semua masalah akan perlahan bisa kamu atasi sendiri, apa gunanya saga menikah? Kalau bukan untuk berbagi dengan pasangan saga, percaya sama mami, dengan kamu hanya bercerita masalah itu akan perlahan terasa ringan” mami cessa kembali bersuara.
__ADS_1
Dia memang merasa lancang karena ikut campur dengan masalah rumah tangga putrinya tapi dia tau sagara tidak memiliki panutan dalam hidupnya, pria itu dipaksa dewasa lebih cepat dan tanpa bantuan oleh orang dewasa lainnya, berbeda dari Rafa yang masih diberikan kasih sayang walau hanya sedikit, sagara tumbuh dengan luka dan dewasa dengan luka itu, jadi dia tidak memiliki kamus bagaimana cara dewasa dalam dirinya.
...☘️☘️☘️☘️☘️...