
“Pagi muse” sapa Quinsya begitu sampai di kelasnya.
“pagi” jawab sagara disertai senyuman indah dari bibirnya.
“Muse! Liat apa yang caca bawa! Jenjeng!” Quinsya menunjukkan baju olahraga quinsya yang dipenuhi dengan lukisan artistic siapa lagi pelakunya pasti Quinsya sendiri, bosan dengan bentuk baju olah raga yang begitu begitu saja dia mewarnai baju olahraganya sendiri.
Sagara sampai geleng geleng kepala dibuatnya.
“maklum ya saga isi otak seniman tidak ada yang tau” kekeh amira.
Sagara hanya tersenyum dan menatap Quinsya, “Bagus kok, iya kan muse? Muse suka kan?” tanya Quinsya memaksa meminta persetujuan.
sagara mengangguk pelan, “iya keren”.
Senyum misterius Quinsya langsung muncul begitu mendengar ucapan sagara, sambil menengadahkan tangan gadis itu berkata, “mana baju muse”.
“Untuk apa?” tanya sagara kebingungan, sedangkan para saudara Quinsya hanya bisa mengedikkan bahu dan menggeleng gelengkan kepala, sudah tau ide nakal sang adik.
“caca Lukis” seru Quinsya bersemangat.
Tangan sagara sudah terulur memberikan baju olah raganya pada Quinsya, pria itu hanya bisa pasrah dengan ulah nakal Quinsya.
“Tolong Lukis yang bagus ya Quin” kekehnya.
“Baik pelanggan terhormat” balas Quinsya.
.
Waktu melukis Quinsya tidak banyak karena jam pelajaran olah raga sudah dimulai, Quinsya harus cepat cepat mengganti bajunya hingga melupakan minuman yang biasanya dia bawa.
Gadis itu terduduk di pinggir lapangan.
“Ngapa ca?” tanya amira sambil ikutan duduk di sebelahnya.
“Haus banget, minta minum mir”
“Udah habis ca, minum lo di kelas? Mau gue ambil kan? Sekalian gue mau ambil handuk kecil di kelas” ujar Amira.
__ADS_1
“Boleh deh” angguk Quinsya, gadis itu juga terlalu malas untuk kembali ke kelas, kakinya terlalu capek karena Lelah berlari.
Dari arah kejauhan Fani dan dwi tersenyum melihat Amira yang menjauh dari Quinsya, “Tina dan Rina sudah melakukan aksi mereka kan” bisik Fani pada dwi.
“beres, si Rina baru kirim pesan ke gue, gak sabar gue liat dia keluar masuk kamar mandi” ucap dwi pelan dengan tawa kecil dari keduanya.
.
Rencana Tina dan Rani ternyata berhasil, saat ini Quinsya berkali kali keluar masuk ke kamar mandi, wajah gadis itu sudah pucat karena berkali kali keluar masuk kamar mandi.
“Adek makan apa aja kok bisa sampai sakit perut?” tanya Aryan khawatir.
Quinsya hanya menggeleng lemas tidak sanggup untuk berbicara lagi, tubuhnya saat ini duduk di lantai dengan masih memegangi perutnya yang terasa sakit.
“sebaiknya ke rumah sakit aja ar” usul Sagara, pria itu tampak cemas dengan keadaan Quinsya. Berkali kali dia menghapus keringat yang keluar dari kening dan leher Quinsya.
“Adek bisa jalan?” tanya Aryan lagi.
Kembali Quinsya menjawab dengan menggeleng. Sagara langsung berinisiatif menggendong Quinsya sambil berlari, Aryan dan azmi juga ikutan berlari sambil menelpon ambulance untuk segera datang.
.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Untung saja kalian membawa gadis ini dengan cepat ke sini, kalau tidak sangat berbahaya karena dia sudah kekurangan cairan” ujar dokter yang menangani Quinsya, gadis itu saat ini sedang tertidur dengan selang infus yang menempel di tangannya.
Quinsya berhasil dibawa ke rumah sakit, oleh kedua abang kembarnya dan juga sagara.
“Berapa banyak obat dalam tubuhnya dok?” tanya Aryan, dia yakin Quinsya tidak salah makan, karena makanannya sama dengan yang dimakan sagara sejak pagi tapi kenapa hanya quinsya yang sakit perut, jadi Aryan mengambil kesimpulan kalau adiknya di kerjai.
“Saya tadi juga curiga akan hal itu, ada kandungan obat dalam darahnya, dan itu semua sudah kami tangani dengan baik” ujar dokter itu.
Aryan mengangguk mengerti, lalu menunduk hormat pada dokter itu.
“Ar jelaskan ke gue apa maksud ucapan lo?” tanya sagara penuh tekanan.
“Lo makan sarapan yang adik gue buat?” tanya Aryan.
__ADS_1
Sagara mengangguk cepat.
“Lo sakit atau gak?”
“Biasa aja”
“Adik gue Cuma makan yang sama dengan lo tapi kenapa hanya dia yang bisa sakit? Kalau dibilang cuma salah makan itu gak masuk akal, gue tau seberapa gizi yang masuk kedalam mulut caca, walau dia makan banyak kami akan menahannya jika perhitungan batas gizinya sudah terpenuhi, jangan kira gue diam membiarkan dia makan apa aja, gue selalu memperhitungkan makanan apa aja yang masuk ke dalam mulutnya, karena takut ada masalah dikemudian hari, setiap apa yang dia makan selalu gue catat, kesimpulannya adik gue di kerjai, makanya dia bisa seperti itu” jelas Aryan panjang lebar.
“Siapa? Siapa yang berani mengerjai caca?!” sagara merasa marah, tapi dia masih bisa mengontrol nada suaranya pada Aryan, dia tidak akan melimpahkan kemarahan bukan pada orang pembuat masalahnya, sagara tidak mau menjadi seperti kedua orang tuanya.
“Udah ditangani sama papi gue” sahut azmi, pria itu tadi memberi kabar kepada orang tuanya tentang keadaan Quinsya. “papi dan mami dalam perjalanan” tambah azmi sebelum duduk di kursi sebelah Aryan.
“Pelakunya?” tanya Aryan dan sagara bersamaan.
Azmi dengan cepat mengeluarkan notebook mini yang selalu dia bawa, “Mereka menghindari cctv jadi tidak ada bukti bahwa mereka yang memasukkan obat itu, tapi mereka lupa sepintar apa aku” setelah mengucapkan itu azmi menunjukkan layar notebook nya pada sagara dan Aryan. Di sana tampak pesan yang dikirim dwi dan Rani.
“Gue pergi dulu!” seru sagara yang sudah berdiri dari duduknya, pria itu begitu marah karena dirinyalah Quinsya menjadi seperti itu.
“upppss gak boleh!” Tahan Azmi. “caca pasti marah jika lo yang bertindak, biarkan saja papi gue yang melaksanakan hukuman, sebaiknya lo tetap di sini, gue yakin ni anak akan nyariin lo” tambah azmi.
“Tapi_”
“gak ada tapi tapian, bukan hanya kedua orang itu, tapi komplotannya bakal di hukum oleh papi gue” seru azmi.
.
Cessa berlari kencang begitu mobil rafa memasuki parkiran rumah sakit, wanita tiga anak itu tampak sangat cemas, sejak tadi dia menangis begitu mendengar Quinsya kembali masuk ke dalam rumah sakit.
“Sayang! Tenang lah, caca bakal baik baik saja, aku janji” ucap Rafa berusaha menenangkan istrinya yang baru saja memasuki lift.
“Harus! Papi harus memastikan caca baik baik saja!”
“Iya, jadi jangan nangis lagi, papi akan bertemu dengan dokter yang menangani, kamu duluan ke kamar adek” perintah rafa. Sebagai dokter rafa tau kondisi tubuh putrinya jadi dia akan melihat perubahan pada kondisi putrinya terlebih dahulu, baru menemui Quinsya.
“Cepat ya pi”
“Iya, jangan nangis lagi, sana temui adek lebih dulu”
__ADS_1
...🎄🎄🎄🎄🎄...