My StuPid Girl

My StuPid Girl
33. Ke Mall


__ADS_3

“Ca, kenapa caca peluk saga?” tanya Aryan penuh intimidasi.


Quinsya menatap kedua saudara kembarnya lalu menatap ke arah sagara yang berwajah datar. Gadis itu menunduk tidak mau mengatakan rahasia Sagara pada kedua saudara kembarnya apa lagi masih ada putra di sana.


“Gue cerita tentang keluarga gue, dan caca menghibur gue” Sagara lah yang membocorkan rahasia nya sendiri, dia tau Quinsya tidak akan mengeluarkan suara sedikitpun tentang apa yang baru saja terjadi.


“Lo cari kesempatan dengan menceritakan kesedihan lo! Biar di peluk sama caca! Wahhh hebat banget lo!” Putra bertepuk tangan sambil tersenyum sinis pada sagara, “munafik banget lo! Lo bilang akan menyerahkan caca buat gue, tapi lo masih tetap mau mendapatkan caca!” sambung Putra kesal.


“Gue gak pernah bilang akan menyerahkan caca ke elo, gue Cuma bilang jika caca bahagia dengan lo, gue rela dia lari ke pelukan lo” ucap Sagara tegas. “Gue hanya mau caca bahagia” tekan Sagara sekali lagi.


“Udah-udah, sagara gak salah put, lagian adek gue yang nyosor sagara, dia gak minta di peluk, ya kan, caca meluk secara spontan?” tanya Azmi berusaha membuat suasana menjadi tenang dan aman.


Quinsya mengangguk pelan, “muse gak salah, caca yang salah” kini gadis itu mulai terisak kecil.


Aryan langsung memeluk Quinsya, “Iya jangan nangis dong, abang gak marah” ujar Aryan dengan lembut.


Melihat Quinsya yang menangis putra akhirnya diam, wajahnya sudah tidak menampilkan raut marah lagi, “Ca gue boleh di sini, melihat lo melukis?” tanya putra dengan pelan.


Quinsya menggelengkan kepalanya, “Caca gak mau” tolak Quinsya.


“Ta_” Putra tidak jadi melanjutkan ucapannya karena ditahan Azmi.


“Ya udah caca lanjutkan lukisan caca, abang gak akan ganggu, tapi pintu kamarnya jangan di kunci ya dek” ucap azmi dengan lembut.


Quinsya mengangguk pelan, “jangan di sini awasi caca ya" lirih gadis itu.


“Iya, caca jangan nangis lagi, abang pergi sekarang” Aryan menghapus jejak air mata Quinsya. Setelah itu berjalan mendekati Sagara, “sorry soal yang tadi, dan tolong jaga caca ya” ucap Aryan pada sagara dengan suara pelan.


“Iya gak apa” jawab sagara dengan suara pelan juga.


Azmi menarik tangan putra yang masih berdiri di ruangan itu, tangan pria itu masih mengepal dengan kuat, “Put” panggil Azmi pelan.

__ADS_1


“Maaf” ucap putra sebelum keluar mengikuti azmi.


.


“Kenapa kalian gak marah caca di peluk pria itu?” tanya Putra lagi pada azmi dan Aryan.


“Karena emang apa yang salah? Mereka tidak berciuman atau melakukan hal yang dilarang agama, hanya pelukan memberi semangat, lo yang jangan terlalu over protective pada caca, dia tidak bisa di suruh dengan cara seperti itu, caca itu tidak bisa dimarahi seperti itu, dia akan semakin menjauh dari lo jika lo masih bersikap seperti ini” nasehat azmi.


“kalian tau bagaimana perasaan suka gue ke caca, pria itu hanya beberapa bulan bersama caca sudah bisa mengambil hatinya, sementara gue yang bertahun tahun mengejar caca hanya sebatas teman” umpat putra kesal.


“cinta siapa yang tau datangnya kapan, sebaiknya kalau lo cinta sama caca, biarkan dia bahagia bersama pilihannya, liat sagara, dia juga mengatakan akan melepaskan caca pada lo jika caca bahagia bersama lo, itu baru yang namanya cinta, cinta tak harus memiliki bro” Azmi menepuk pelan bahu Putra.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Fani dan dwi melangkah mendekati meja Quinsya dengan senyum misterius.


“Ca, nanti jadikan kita ke mall, si tina kan udah traktir lo” ujar Fani.


“Beres” ujar Fani dan dwi bersamaan dengan tawa misterius.


Sagara menyentuh lengan Quinsya dan mendekatkan wajahnya pada telinga Quinsya, “gak usah pergi, gue khawatir” bisik sagara.


“Tenang aja, gak apa kok, gue mau ngerjain mereka lagi, nanti kalau ada masalah gue bisa telepon abang azmi dan abang Aryan atau lo” ujar Quinsya berusaha menenangkan sagara.


.


Tina and the gank sangat senang begitu mereka sampai di dalam mall bersama Quinsya.


Amira menggenggam tangan Quinsya dengan kuat dia takut teman temannya akan mengerjai Quinsya.


“Ca, lo banyak duit kan, kemarin gue udah traktir lo, sekarang lo harus gantian traktir kita kita, yakan girls” ujar Tina dengan senyum palsu.

__ADS_1


“aturan dari mana tu? Kalau ditraktir harus traktir balik, gue memang kaya, tapi gue gak mau menghabiskan uang gue Cuma untuk menyenangkan kalian” tolak Quinsya dengan berani.


Tina melotot tidak percaya Quinsya berani menolak ucapannya, padahal dia sudah mengeluarkan uang banyak untuk mentraktir Quinsya, dia berencana menghabiskan uang gadis itu ratusan juta untuk membalas perlakuan Quinsya yang kemarin.


“Lo kok gitu ca! kita kan berteman, lo seenaknya menghabiskan uang Tina untuk mentraktir anak-anak satu kantin, dan lo gak mau traktir kita-kita yang Cuma berlima ini?!” pekik fani tidak percaya.


“hmmm teman dalam kamus kalian artinya seperti berbeda dari kamus gue, traktir sih traktir tapi gue gak pegang banyak uang, jadi gak bisa traktir kalian” tolak Quinsya lagi.


“dasar pembohong, lo pelukis terkenal harga lukisan lo bisa ratusan juta mana mungkin lo gak ada uang” sindir Dwi.


Quinsya mengeluarkan isi tasnya di depan ke empat temannya hingga menjadi tontonan para pengunjung, “Liat” Quinsya melihatkan dompetnya yang hanya berisi uang 50 ribu rupiah dan tidak ada kartu sama sekali di dalamnya, dia juga merogoh saku rok yang juga kosong, “harga lukisan gue emang mahal tapi semua uang itu di pegang papi dan mami gue, untuk masa depan gue katanya, jadi gimana dong mau di traktir juga, ayo belanja gue juga bilang duluan ke mbak kasirnya kalau gue gak ada duit dan kalian maksa gue traktir gimana? Gue gak masalah di bawa ke kantor polisi karena dituduh mencuri gue cuma tinggal bilang kalian dalangnya” tantang Quinsya pada tina dan teman temannya.


“Lo pinjam aja uang amira, kalian kan bersaudara, jadi bisa kan lo pakai uang amira dulu, nanti lo ganti uangnya di rumah” celetuk Rina, dia tau amira selalu membawa kartu debitnya kemanapun dia pergi dan amira adalah keturunan bagaskara keluarga kaya di Indonesia.


“Oke bentar” Quinsya mengeluarkan ponselnya yang ada di saku.


“Lo mau ngapain ca?” tanya Tina bingung.


“Telepon mommy Queen, mommy nya amira” tunjuk Quinsya.


“Buat apa?!” tanya Rina panik.


“Tanya dulu boleh caca pinjam duit buat traktir teman teman Caca, jadi biar jelas uang caca lari kemana, tenang aja ya caca minta izin dulu” ujar Quinsya.


“Ngapain lo harus telpon orang tuanya mira! Mau ngadu?!” bentak Tina.


“Ihh siapa yang ngadu, nanti kalau uang mira habis banyak mommy Queen pasti tanya mira lari kemana uangnya, terus nanti mira bilang caca yang pinjam, lalu caca mau jawab apa? Jadi caca harus minta izin dulu, aduh...mommy Queen kok gak jawab-jawab ya”


“lo manja banget sih ca! buat keputusan itu harusnya lo sendiri tidak perlu tanya orang tua lo! lo mau di bilang anak mami!” sindir Tina.


“emang caca anak mami, orang lahirnya dari perut mami, ada ada aja tina nih” balas Quinsya.

__ADS_1


...🌳🌳🌳🌳🌳...


__ADS_2