My StuPid Girl

My StuPid Girl
11. Muse Ketemu


__ADS_3

Rafa dan opa Harry sedang rapat dengan guru dan kepala sekolah yang akan ditempati ketiga anak kembarnya.


“Putri say aini sedikit unik, saya yakin dia akan membuat para guru-guru di sini sakit kepala, putri saya bukan anak yang mempunyai keterbelakangan mental atau autis, hanya saja cara mendidik saya sedikit salah dengan terlalu memanjakannya, jadi saya ke sini ingin meminta para guru untuk memaklumi semua perbuatan putri saya kedepannya_” rafa sengaja menjeda ucapannya, saat Xelo membagikan amplop besar pada masing masing guru, “Itu adalah uang kompensasi dari saya, mohon semua guru bisa bersikap baik pada putri saya, semua lukisan yang dia gambar untuk sekolah bisa dijual untuk keuntungan sekolah atau untuk diadakan pameran, tapi saya minta jangan ada yang memaksa putri saya untuk melukis, hanya biarkan saja dia melakukan hal yang ingin dia lakukan” lanjut Rafa.


“maaf pak, saya tidak bisa di sogok dengan uang, kalau bapak Rafa tau anaknya nakal dan tidak bisa di awasi kenapa tidak paksa saja anak bapak untuk menaati peraturan.


“12 tahun putri saya hidup seperti boneka, dilarang makan ini dilarang makan itu, tidak boleh berlari tidak boleh kelelahan sedikit saja, tidak boleh kena debu tidak boleh sendirian karena takut tiba-tiba nafasnya berhenti, baru 2 tahun ini dia bisa seperti anak lainnya berlari, olahraga, makan apapun yang dia inginkan, saya tidak mau membuatnya menjadi boneka lagi, saya membolehkan dia untuk melakukan apapun yang dia ingin sudah cukup baginya untuk menahan diri, saya tau cara saya dan keluarga saya salah, tapi putri saya istimewa, kalian bisa mencari pelukis Queen Aurel, diaadalah pelukis yang sangat terkenal” jelas Rafa.


“Tapi pak dengan uang ini bapak sama saja memberikan sogokan pada para guru, dan kedepannya para guru akan minta lebih pada bapak karena iming-iming uang” ujar guru yang protes tadi.


Rafa mengulum senyumnya ternyata ada guru baik di sekolah anaknya itu, “bapak benar, tapi saya memberikan uang itu dengan syarat para guru tidak bisa meminta lagi jika ada kesalahan yang putri saya lakukan di kemudian hari, saya adalah pembisnis, tentu saya akan memikirkan untung dan rugi, kalian juga tidak rugi banyak hanya menganggap bahwa putri saya tidak ada di sekolah ini biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan, dan sekolah ini mungkin akan terkenal dengan karya-karya yang diciptakan oleh putri saya, jika kalian setuju dengan tawaran saya terima uang itu dan jika tidak saya akan mencari sekolah lain yang mau menerima putri saya, atau saya bisa membeli satu sekolah agar putri saya bisa bersekolah sesuka hatinya, yang pasti kenakalan putri saya tidak akan merugikan guru-guru yang ada disini, dan jangan memaksa putri saya untuk menghasilkan karya seni untuk sekolah” ucap rafa sedikit memberi ancaman.


“bagaimana kita poling saja, dan jika banyak yang setuju kami akan menerima kenakalan putri bapak, tapi tidak untuk kenakalan yang merugikan pihak guru” kali ini kepala sekolah yang angkat bicara.


“baik saya setuju” sahut Rafa.


“Saya sebagai kepala sekolah menerima kedatangan murid berbakat seperti Quinsya, bukan karena uang yang bapak rafa tawarkan, tapi saya ingin mendidik murid berbakat seperti putri bapak, sekolah kami bisa masuk tarap internasional dengan nama yang sudah putri bapak bawa, saya berjanji tidak akan memberi hukuman yang mengerikan pada putri bapak tapi jika kenakalannya terlalu merugikan dan menyakiti orang lain saya akan mengambil tindakan tegas” ujar kepala sekolah itu.


“Saya juga setuju, saya adalah guru kesenian, dan saya sangat penasaran dengan putri bapak, kata orang seorang seniman itu sangat sulit di tebak pemikirannya, saya jadi ingin masuk ke dalam dunia putri bapak hingga dia bisa menghasilkan karya seni yang bernilai tinggi” ujar guru yang sejak tadi membantah ucapan Rafa.

__ADS_1


Bukan hanya kepala sekolah dan guru tadi tapi semua guru juga setuju dengan tawaran yang rafa berikan, dan dengan itu Rafa bisa tenang putrinya bisa mengekpresikan dirinya di dunia yang dia sukai, rafa tau cara yang dia ambil salah, tapi karena rafa sudah terlanjur mendidik putrinya seperti itu dia tidak bisa mundur lagi, dia hanya bisa memberi arahan agar kenakalan Quinsya tidak membuat orang di sekitarnya tersakiti.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Sagara begitu terkejut saat melihat gadis yang beberapa hari lalu memuntahkan makanan di baju serta sepatunya sekarang berdiri di depan kelas, dengan senyum lebarnya.


Kepala gadis itu berkeliling melihat seluruh orang yang ada di dalam kelas ketika matanya menangkap sosok Sagara, tangan Quinsya segera terangkat untuk menunjuk Saga.


“Ketemu! Muse Caca!” seru Quinsya semangat.


“Muse?!” hampir semua orang kini menatap Saga yang di tunjuk oleh Quinsya.


“Gue Aryan Pratama Tiandra anak pertama, dan ini adik gue Alquinsya Tiandra anak paling bungsu” Aryan mulai memperkenalkan dirinya.


“adhgjb__” Mulut Quinsya masih debekap Aryan jadi ucapan yang keluar dari bibir caca tidak dapat dimengerti sama sekali, hanya tatapan memicing pada Aryan yang dapat orang-orang baca sebagai tatapan kemarahan.


“Gue Azmi Alfarrizi Tiandra anak tengah kami bertiga kembar tiga, walau wajah kami tidak sama tapi kami saudara kandung” Azmi tersenyum lebar berbanding terbalik dengan wajah datar Aryan.


“apa ada yang mau bertanya lagi kepada tiga saudara kembar ini?” tanya pak Rudy pada siswa siswinya.

__ADS_1


“nomor wa nya boleh minta?” salah satu siswa mengangkat tangan sambil mengedipkan mata kearah ketiga saudara kembar itu.


“gue pecat juga lo jadi saudara sepupu” ujar Azmi dengan senyum jenakanya.


“Sabar bro, liat mata para cewek disini pada melirik kearah kalian berdua dan para cowok kea rah saudara gue yang paling cantik” kekeh Ameer.


“Kalian saudara? Kenapa nama keluarga kalian berbeda?” tanya pak rudi.


Azmi mengangguk, “dia anak dari kakak ibu saya, saudara sepupu, kami menggunakan nama keluarga dari ayah kami” jawab Azmi.


“Alamat rumahnya dimana?” tanya salah satu siswi.


“hmm kalau pertanyaan pribadi kita tanyakan lain kali saja, kita sangat sibuk hari ini, kalian boleh duduk duluan” putus pak Rudi.


“Terima kasih pak” ucap azmi dan Aryan bersamaan, tapi tidak dengan Quinsya karena mulutnya masih dibekap oleh Aryan, sampai sekarang gadis itu masih berontak di dalam tangan Aryan, beberapa siswa dan siswi bahkan heran dengan tingkah Aryan yang menahan Quinsya seperti pencuri.


“Gak boleh loncat-loncat, gak boleh meluk, gak boleh pecicilan bisa?” tanya Aryan memberi ancaman.


Quinsya mengangguk pelan melihat mata Aryan yang memancarkan kemarahan.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2