
Putra mengulum senyum melihat pria dingin itu cemburu pada sahabatnya, hanya sebuah ice cream tapi sagara tidak memberikan kesempatan untuk Quinsya menikmati ice cream itu. Putra beralih menatap amira yang tegak di sebelah saudara kembarnya.
“Apa kabar mir? Sorry gue gak bisa datang pas ultah lo” sapa putra.
“Gak apa, santai aja” jawab Amira.
Putra tersenyum pada amira mengucapkan terima kasih, tapi malah di salah artikan oleh kekasih amira yang baru saja datang, Vito langsung merangkul Amira sambil menatap sinis ke arah putra.
“Santai bro, dia sahabat kecil kami” kekeh Almeer berusaha mendamaikan Vito dan Putra.
“Siapa?” tanya putra penasaran.
Vito lebih dulu menjulurkan sebelah tangannya, “gue Vito, pacarnya Amira” sapa Vito.
Putra menaikkan alisnya bingung, “gue pikir di keluarga bagaskara gak boleh ada yang pacaran” gurau Putra, dia cukup mengenal keluarga bagaskara karena menjadi teman mereka sejak kecil, jadi Putra berpikir ada peraturan dilarang pacaran di dalam keluarga itu, contohnya Quinsya dan sagara yang tida berpacaran tapi seperti orang yang berpacaran.
“Cara mendidik setiap orang tua berbeda bro, Kalau daddy king boleh boleh aja pacaran, asal jangan melebihi batas, dan mereka tidak bisa berduaan lagi sejak resmi pacaran, kalau gak gue yang jadi pengganggu, abang abang gue yang bakal kawal dua orang ini kemana mana, atau daddy king langsung yang kawal” ledek Almeer. Memang benar yang dikatakan oleh Almeer, saat Amira dan Vito resmi jadian, satu keluarga sudah tau, tapi mereka tidak ada yang memaksa Amira untuk putus, sudah resmi jadian ya apa boleh buat, hanya bisa menjaga saja.
Umur seperti amira, remaja 17 tahun, jika dilarang keras atau di perintah dan di marahi akan malah melanggar semua perintah, jadi daddy king mengajarkan betapa istimewanya seorang wanita itu kepada amira, walau cara pelajaran daddy king dan papi Rafa berbeda, tapi tujuan mereka tetap sama, menjaga anak perempuan mereka tetap utuh sampai suaminya yang mendapatkan mahkota berharganya.
Putra tertawa pelan dan geleng geleng kepala, “Kuno banget daddy kalian, tapi itu cara yang paling bagus untuk menjaga anak gadis mereka yang paling berharga” ujar putra di sela tawanya. “lo gak masalah dikawal?” tanya putra pada Vito.
Vito menjawab pertanyaan putra dengan senyuman, “gak masalah, yang penting gue udah selangkah dari yang lain, gak akan gue biarkan dia diambil orang lain” ujar Vito.
...🌵🌵🌵🌵🌵...
Suasana kelas pagi itu kelihatan sedikit riuh karena beredar kabar akan ada murid baru lagi pindahan dari jerman.
Azmi melototkan matanya begitu melihat siapa yang masuk ke dalam kelas mereka, sementara Amira mengulum senyumnya.
“Halo semuanya nama saya Hana Rafelia, pindahan dari jerman” sapa Hana pada teman teman barunya, mata gadis itu menjelajahi seluruh kelas, hingga berhenti pada Azmi dan Amira.
“Kita langsung saja mulai pelajaran, nanti kalian kenalan sama hana saat jam istirahat, Hana kamu bisa pindah ke kursi sebelah amira” ujar wali kelas.
__ADS_1
“Maaf pak, saya tidak tau yang mana amira” ujar hana dengan sopan.
“gue amira” sebelum guru itu memberi tahu, Amira sudah lebih dulu mengangkat tangannya, memperkenalkan diri.
Hana mengangguk dan berjalan menuju kursi kosong sebelah amira.
“Mir, kenapa lo ketawa terus sejak tadi?” tanya Quinsya penasaran.
Amira masih tertawa kecil menatap Hana yang berjalan mendekatinya. “nanti gue ceritakan” kekeh Amira.
.
“Han, Ayo sama sama ke kantin” ajak amira. Hana masih diam melihat Quinsya yang sedang tertawa dan bercanda dengan Sagara dan saudara kembarnya.
“Han~ hana!” panggil Amira sekali lagi.
“Eh hiya, sorry mir, apa tadi?” tanya Hana setelah sadar dari lamunannya.
Amira mendekatkan dirinya pada hana dan mulai berbisik, “Lo liat siapa? Cowok yang mana?” bisik amira.
Amira tertawa pelan lalu kembali mendekatkan wajahnya pada telinga Hana, “cewek yang di kelilingi cowok itu?” Hana mengangguk cepat dengan pertanyaan Amira, “dia saudara gue mau kenalan? Lo gak les kan?” tanya amira sedikit takut.
Hana cepat cepat menggelengkan kepalanya pelan, “Gak kok gue masih normal, Gue masih suka cowok” pekik hana kencang, hingga terdengar Quinsya dan yang lainnya.
Quinsya yang tadinya tertawa jadi diam dan melihat ke arah Hana dan amira, “jadi ke kantin gak? Apa yang normal?” tanya quinsya beruntun.
“Jadi, ayo Han, awas ya kalau lo itu les” gumam Amira.
...🎄🎄🎄🎄🎄...
“Ca, Hana pengen kenalan sama lo” ujar Amira sambil menahan tawanya, tadi Hana sudah mengatakan pada Amira alasan kenapa gadis itu pengen kenalan sama quinsya.
Azmi menatap Hana dengan mata memicing curiga, karena baginya paling benci dengan gadis yang mau mendekati dengan dia melalui adik kembarnya, Azmi telah salah paham dengan hana.
__ADS_1
Sementara Amira yang sudah mengetahui alasannya malah tersenyum lebar pada azmi yang sedang menatapnya horror.
“Boleh kok, panggil aja caca” Quinsya menyambut tangan Hana yang menjulur padanya.
Hana yang disambut langsung bersorak bahagia, tapi langsung menutup mulutnya untuk menahan diri, “Maaf, maaf gue senang banget berhasil dapat muse milik gue” pekik Hana.
“Muse?!” beo quinsya dan yang lainnya.
Muse berasal dari bahasa Yunani, biasanya seniman menggunakan nama muse bagi pencipta ide atau pemberi inspirasinya, bisa pada pria bisa pada wanita, muse bisa pada apa saja dan setiap seniman memiliki pemikirannya sendiri.
“Uppss maaf gue berlebihan ya?” hana menepuk nepuk mulutnya karena takut Quinsya lari darinya. “Gue normal kok, gue masih suka cowok, cuma saat melihat caca ide gue langsung muncul, bolehkan gue buat baju untuk lo?” tanya hana.
“Baju?!” Quinsya masih tampak kebingungan dengan maksud hana.
“Dia designer ca, designer baju perempuan” ujar Amira, menjawab kebingungan Quinsya.
“Iya gue salah satu designer pakaian, ini kartu nama gue” Hana mengeluarkan kartu namanya.
“Wuaaahhhh keren! Jadi caca muse bagi hana?” tanya Quinsya.
“Mau gak lo jadi model pakaian gue yang akan launching bentar lagi, wajah, dan bentuk tubuh lo pas banget dengan bayangan gue selama ini” pinta Hana, dia sama sekali tidak menggubris para cowok yang menatapnya melongo.
“caca gak bisa catwalk” kata Quinsya jujur.
“hmmm gak papa deh, tapi bolehkan gue ambil ukuran badan lo?” tanya Hana.
Quinsya mengangguk pelan, “boleh aja” jawab Quinsya.
“lo dekati caca, bukan cara lo untuk dekati gue kan?” azmi akhirnya angkat bicara setelah diam cukup lama.
Hana kini menatap Azmi, “Maksudnya apaan? Ngapain gue dekati caca biar dekat sama lo?” sindir Hana.
“Lo suka sama gue” ujar Azmi spontan, dan membuat semuanya menatap azmi dengan mata melotot.
__ADS_1
...💐💐💐💐💐...