My StuPid Girl

My StuPid Girl
76. 10 Menit


__ADS_3

Sagara pulang sangat malam, sebenarnya dia ingin menginap menemani Quinsya, tapi karena dia hanya hubungan teman dengan Quinsya, sagara tidak bisa memaksakan keinginannya.


“Dari mana saja saga?” suara ayah Aditya menyambut kedatangan sagara.


Remaja 16 tahun itu menghela nafas sedikit lebih panjang begitu mendengar suara ayahnya, padahal sudah seminggu ayahnya tidak pulang, sagara mendapatkan ketenangannya, sekarang dia harus kembali berperang dengan ayahnya sendiri.


“Rumah sakit” jawab sagara singkat.


“Kamu sakit?!” tanya ayah Aditya sedikit panik.


“Teman sagara masuk rumah sakit” Ralat sagara.


“Teman yang waktu itu kencan dan membuatmu pulang malam juga?”


“Hmm” deham sagara acuh, pria itu menatap ayahnya dengan wajah datar, “Masih ada yang mau dibicarakan? Atau mau marah lebih lama? Saga sangat capek hari ini, mau cepat istirahat dalam kamar” ujar sagara dengan nada datar.


“Saga, ayah bicara baik baik padamu, ayah mau kita memperbaiki hubungan kita, tolong hargai ayah, dan ayah juga akan menghargai mu, ayah janji ayah akan berubah” ujar Aditya penuh tekad.


Sagara menganggukkan kepala, “terserah ayah saja” ujar sagara acuh, dia sudah berjalan meninggalkan Aditya.


“Sagara! Ayah akan buktikan ayah akan berubah! Dan ayah akan buktikan jika anak tante Riri bukan anak ayah!” teriak Aditya agar sagara yang sudah berada di tangga mendengar ucapannya.


Sagara berhenti sebentar di dekat tangga, “Buktikan ayah, buktikan jika ayah memang bisa berubah jadi sosok ayah yang sesungguhnya, buktikan semua ucapan ayah itu, jangan hanya sekedar omongan saja” sindir sagara, setelah itu sagara baru benar benar pergi.


...🌵🌵🌵🌵🌵...


Di kamarnya Quinsya terlihat gelisah, berkali kali gadis itu berusaha mengambil ponsel yang disembunyikan oleh papi Rafa, tapi tidak juga berhasil.


“Mau ngapain? Malam malam gini?” tegur papi Rafa.

__ADS_1


“Ponsel caca pi” rengek Quinsya sambil menengadahkan tangannya pada papi Rafa.


“Gak usah kasih pi, paling dia mau telepon atau chat sama saga pi” komentar Azmi dengan suara cekikikannya.


Quinsya memandang sebal pada Azmi yang sedang bermain game masih sempat sempatnya nimbrung dalam pembicaraan dia dan papi rafa.


“Ini udah malam, saga pasti sudah tidur” kata papi rafa.


“adek cuma mau mastikan aja, muse udah sampai rumah atau belum, itu aja kok” bohong caca, dia sebenarnya sedang tidak tenang saat ini, entah kenapa setiap dia merasa begitu, dia yakin sagara sedang dalam suasana hati yang tidak baik, makanya gadis itu ingin memastikan apa yang terjadi dengan sagara.


“Tidur aja, papi udah pastikan saga sudah sampai rumah dengan selamat” tekan papi rafa.


Quinsya memicing kesal, karena triknya gagal, kini dia menatap mami cessa yang berbaring di Kasur tambahan yang disediakan di kamar inap itu, “Mami~” rengek Quinsya, dia beralih meminta bantuan mami cessa, karena jika papi tidak bisa maka mami pasti bisa.


Mami cessa yang di panggil Quinsya dengan mata memelas hanya bisa tertawa gemas melihat tingkah Quinsya, “Udah sayang kasih aja, Cuma 10 menit, kasian nanti caca gak bisa tidur” mami cessa akhirnya turun tangan membantu Quinsya.


“Gak boleh pakai opsi tambahan waktu pi?” tawar Quinsya, dia mengedipkan sebelah matanya pada papi rafa.


“Opsinya hanya ada 2, satu waktu Cuma 10 menit, kedua jika tidak mau tidak perlu” kata papi rafa tegas.


“Pelitnya” komentar quinsya, tapi dia tetap mengambil ponsel itu dari tangan papi rafa.


“Waktu dimulai sekarang!” papi rafa langsung memasang alarm 10 menit pada ponselnya.


Panik? Tentu saja Quinsya panik, tangannya cepat cepat membuka layar kunci dan mencari kontak sagara, awalnya Quinsya ingin menelpon, tapi melihat tatapan mata keluarganya Quinsya mengurungkan niat itu, bisa gawat kalau kebiasaan manja dia di telepon ketahuan oleh seluruh keluarga, Azmi dan Aryan pasti akan mengejeknya selama berbulan bulan, papi rafa mungkin akan membatasi kedekatannya dengan Sagara, 3 pria dalam hidup caca itu pasti sangat over protective pada dirinya.


“Tu-tunggu dulu pi, jangan cepat cepat!” protes Quinsya.


“Gerakan saja tanganmu dengan cepat dek, sebelum waktu nya habis” tegur Azmi, pria itu sudah terkikik geli melihat kepanikan Quinsya.

__ADS_1


“Jangan ngeledek ngeledek adek! Mentang mentang Jomblo! Belum pernah merasakan suka sama cewek gitu tuh” ledek balik Quinsya.


“Papi percepat waktunya jadi 5 menit aja pi!” gerutu azmi kesal. Dia memang belum pernah menyukai wanita dan tidak tau bagaimana rasa suka itu, selama ini dirinya hanya fokus melakukan hal yang dia suka dan menjaga Quinsya, jadi azmi belum tau seperti apa rasa suka itu.


.


📨 ‘Muse sedang apa? Sudah sampai rumah? Muse gak lagi sedih kan?’


Sagara yang menerima pesan dari Quinsya tersenyum senang, tadi dia memang memikirkan Quinsya tapi mengingat gadis itu masih menginap di rumah sakit, Sagara tidak berharap lebih untuk berbicara pada gadis itu, dia tidak ingin mengganggu waktu Quinsya.


📨 ‘Hanya sedang berbaring, baru saja sampai rumah, dan aku baik baik saja, jangan bermain ponsel terus, tidur lagi, biar cepat sehat’ balasan pesan yang sagara kirim pada Quinsya.


‘Ting’ hanya dalam 10 detik pesan sagara langsung mendapat balasan dari Quinsya.


📨 ‘tidak apa hanya 10 menit waktunya, dari tadi caca gak di kasih waktu untuk memegang ponsel, ini saja baru di kasih waktu 10 menit, selamat tidur muse’ isi pesan yang dikirimkan Quinsya.


📨 ‘selamat tidur juga Quin, jangan tidur larut malam, nanti bisa tambah sakit, bagaimana hasil pemeriksaan?’


‘ting’ kali ini hanya dalam 3 detik pesan sagara mendapat balasan.


📨 ‘hasilnya baru keluar besok, tapi caca yakin sekali caca sehat 100 persen, jangan khawatir’


📨 ‘semoga saja memang seperti itu, besok sekolah?’


Sudah lebih dari 5 menit tapi pesan sagara tidak juga dibalas, pria itu tersenyum kecil mungkin waktunya sudah habis padahal tadi katanya waktu untuk memegang ponsel hanya 10 menit. Setelah Sagara perhatikan kembali dia lah yang terlambat membalas pesan pertama Quinsya jadi waktunya hanya singkat untuk berkirim pesan pada Quinsya. Namun itu cukup untuk membuat suasana hati pria itu menjadi lebih baik.


Entah kenapa setiap bertemu dengan ayahnya sagara merasa sangat malas dan marah, pria itu masih menyalahkan ayah nya yang tidak bisa bersikap dewasa, padahal papi rafa yang umurnya lebih muda dari ayah Aditya lebih terlihat bijaksana dan patut di jadikan contoh, berbeda dengan ayah Aditya, jika papi rafa tidak pernah menasehatinya dulu, mungkin sagara tidak akan pernah mau bicara dengan ayah Aditya tentang apapun itu, sagara juga tidak akan memberikan kesempatan pada ayah Aditya untuk berbicara. Untung saja sagara dipertemukan dengan keluarga hangat seperti keluarga Quinsya, walau gadis itu bisa dikatakan mirip alien tapi alien itu berhasil mewarnai hidupnya yang hitam putih.


...🍁🍁🍁🍁🍁...

__ADS_1


__ADS_2