
"Wuiihhh keren terus muse terima?” tanya Quinsya gadis itu tidak tampak sedih, ketakutan atau malu berbicara tentang suka dan pernyataan cinta di depan orang lain.
“gak” sagara menggelengkan kepalanya pelan, pandangannya beralih pada siswi yang masih setia tegak mendengarkan pembicaraan Quinsya dan Sagara. “lo mau apa lagi?” tanya sagara sinis.
“Gue__” gadis itu menatap Quinsya yang bisa berbicara santai dengan sagara, “Gue bisa tidak menjadi teman lo? Seperti gadis ini” Siswi itu menunjuk pada Quinsya.
“caca bukan teman muse” bantah Quinsya cepat.
Sagara kini menatap Quinsya dengan heran.
“emang benarkan kita bukan teman, tapi kita terikat dengan hubungan Bernama jodoh” kekeh Quinsya.
“jangan berhayal” tolak Sagara.
Quinsya langsung merengut, “sesekali nyenangin hati caca kenapa sih, muse” gerutu Quinsya.
“kitakan tidak ada hubungan jadi itu tidak perlukan” balas sagara dengan senyum tertahan, melihat Quinsya yang cemberut itu terlihat menggemaskan, entah kenapa Sagara semakin suka menjahili gadis itu.
“hmm kalo gitu kita partner” usul Quinsya.
“partner itu saling menguntungkan, apa untungnya buat gue?”
Quinsya mengetuk dagunya berpikir, lalu senyum gadis itu mengembang, tangannya menunjuk kotak bekal yang sudah kosong di depan sagara, “muse bisa kenyang setiap hari, caca bakal buat makanan kapanpun muse minta dan muse harus bantuin caca melukis” tawar Quinsya.
“hmmm…”
“Ayolah please, makanan apa aja caca bisa buat, muse ganteng, ayolah~” Quinsya menangkup kedua tangannya dan menampilkan puppy eyes nya, biasanya itu selalu berhasil untuk membujuk keluarganya.
Sagara ingin sekali tertawa dan tersenyum melihat tingkah gadis itu, tapi di tahan, pria itu terlalu gengsi untuk sekedar tersenyum, atau tertawa. “baiklah” jawab Sagara pasrah.
“Yesss!” teriak Quinsya kencang, gadis itu sudah meloncat kegirangan, karena usulannya diterima oleh sagara.
“kenapa lo masih disini?” sindir sagara dengan wajah dinginnya.
“gue juga bisa buat makanan buat lo, bolehnya gue jadi teman lo” ujar siswi tadi.
“gak butuh” jawab Sagara singkat.
“gue akan tetap disini sampai lo terima gue” siswi itu mulai mengikuti cara Quinsya yang keras kepala dan menuntut, dia yakin kali ini akan berhasil.
Tapi nyatanya tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut sagara. Pria itu sudah mengeluarkan buku bacaan dari dalam tas dan mulai membacanya, tanpa memikirkan bagaimana nasib siswi yang menunggu jawabannya, karena sejak awal sagara berbicara karena permintaan Quinsya, jadi dia tidak peduli dengan siswi itu.
__ADS_1
Mata Siswi itu sudah memerah menahan tangis, dia malu, sangat malu, sudah mempersiapkan semuanya tapi Sagara malah menolak dirinya, dan gadis menyebalkan yang duduk di sebelah sagara malah selalu mendapatkan jawaban dari sagara.
Saat guru masuk juga siswi itu masih berdiri menatap Sagara.
“Indah! Kenapa kamu masih berdiri di sana?” tanya guru yang baru saja masuk untuk memulai jam pelajaran.
Indah tidak menjawab dia hanya berdiri di sana menatap Sagara, dia berusaha menjadi Quinsya yang tidak peduli dengan pandangan orang, mungkin dengan begitu sagara akan mau menerimanya.
“Indah! Kalian paksa Indah untuk duduk di kursinya” Pak guru itu menunjuk pada salah satu siswi untuk menggeret Indah dari sana.
“ndah ayo duduk” bujuk salah satu temannya.
Indah mulai terisak kecil, kepalanya menggeleng pelan, “gak mau” tolak indah.
“Ada apa ini?! Kenapa indah gak mau duduk?!” guru itu akhirnya mendekati indah dan mencoba bertanya permasalahan yang terjadi.
“Itu pak indah menyatakan perasaannya pada saga, tapi saga tidak mau menjawabnya” celetuk salah satu siswi.
Kini guru itu menatap sagara yang masih sibuk membaca buku.
“Saga, kenapa kamu tidak jawab, bukankan masalah ini selesai kalau kamu menjawabnya?” tanya guru itu.
“Indah! Jangan kekanakan seperti ini kembali ke tempat duduk mu! Saga sudah menjawab mu! Jadi kembali sekarang” paksa guru itu.
Indah akhirnya pasrah kembali ke kursinya dan menangis keras, mungkin karena malu dan marah sedang dia rasakan saat ini.
“Menyebalkan banget! Liat tu tampang cewek menyebalkan” gerutu fani melihat ke arah Quinsya.
“iya, ini semua karena kedatangan dia, pokoknya kita buat dia malu, nanti kita video dia” bisik dwi.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Sepertinya keinginan Dwi dan fani untuk mempermalukan Quinsya gagal, hari itu Quinsya terlalu fokus untuk menggambar beberapa gambar wajah Sagara hingga dia melupakan kantuknya.
“Muse ayo pulang ke rumahku” ajak Quinsya.
Sagara tidak menjawab pria itu hanya tegak dan berjalan meninggalkan Quinsya.
Tidak mau kalah dengan diamnya sagara, quinsya berlari mengejar Sagara, “Muse! Kan udah jan_akkhhh” ucapan Quinsya terhenti karena Sagara berhenti mendadak jadi membuat Quinsya tidak dapat mengerem langkah kakinya dan menyebabkan hidung Quinsya terbentur dengan punggung Sagara. “sakit” ringis Quinsya sambil mengelus hidungnya. “kalau caca makin pesek Muse harus tanggung jawab” omel Quinsya.
Sagara mengulum senyum melihat Quinsya yang masih memijat hidungnya, “harus di rumah lo?” tanya Sagara.
__ADS_1
Kepala Quinsya mengangguk cepat, “iya soalnya caca pengen buat di kanvas yang besar”.
“gak cukup beberapa gambar tadi?” tanya sagara lagi, dia tau tadi Quinsya mengambil lukisan dirinya yang sedang menulis dan berkonsentrasi membaca, tapi dia membiarkan saja apa yang ingin dilakukan gadis itu toh dia tidak dilarang melakukan apapun dan tidak di suruh melakukan sesuatu diluar keinginannya, gadis itu hanya diam melukis sagara.
Quinsya menunjukkan raut muka sedihnya, “gak cukup, tapi kalau muse gak mau ya udah” Gadis itu berbalik dengan wajah sedihnya berjalan gontai menjauh dari sagara.
“ini pertama kalinya adikku menyerah dengan keinginannya” suara Azmi menyadarkan sagara yang sedang melamun. “sorry ya bro, adik gue ganggu lo terus, tapi boleh gak kita bicara berdua sebentar aja di sana” Azmi menunjuk kursi kosong yang tidak ada satu orang pun di sana.
“Azmi ayo, kita pulang” ucap Aryan.
“Abang pulang aja duluan, azmi bisa naik angkot atau minta jemput nanti” ujar Azmi.
Aryan tidak berkata apa-apa lagi dia memilih menyusul adik kembarnya yang sedang sedih.
.
“Thanks udah mau bicara sama gue” ujar Azmi tulus. “gue to the point aja, mau gak lo jadi model adik gue?” sambung azmi.
“. . .” tidak ada respon dari sagara pria itu masih diam berpikir menerima atau menolak.
“dulu adikku tidak seperti ini, dia bahkan tidak mempunyai semangat hanya dengan melukis dia bisa Bahagia, demi mendapatan senyum dan kebahagiaannya aku ingin mengabulkan keinginannya” ujar Azmi, dia menunggu respon dari sagara tapi pria itu tetap diam. “lo percaya gak kalau gue bilang caca seharusnya tidak ada di dunia ini lagi?” azmi mulai bercerita tentang penyakit adiknya pada Sagara.
“hanya karena daddy yang pintar dan mommy yang bisa menjaga pola hidup caca, gadis itu bisa tetap berada di dunia ini bersama kami, kalau lo merasa terbebani hanya sesekali menemani caca dan gue bisa membayar lo sebagai balasan enjadi model” bujuk Azmi.
“Baiklah, tapi aku tidak membutuhkan uang, aku hanya menerima itu karena kasihan padanya” ucap sagara.
Azmi tersenyum senang, “thanks bro, apa sekarang lo mau ke rumah gue? Beri kejutan buat caca”.
Sagara hanya mengangguk sambil tegak dari kursinya, “maaf sikap gue kasar padanya”.
“hahahha gak masalah bro, itu hal wajar, mau berteman dengan gue?” Azmi menyodorkan sebelah tangannya pada Sagara dan disambut baik oleh sagara.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Bonus pict :
Si cantik dan polos putri bungsu kesayangan papi Rafa (Quinsya)
__ADS_1