
Rina tidak sengaja melihat saudara sepupu Amira melintas di depan kelas sambil bergandengan tangan dengan sagara, gadis itu meremas pena ditangannya karena kesal dengan apa yang dia lihat barusan.
“Kenapa Rin?” tanya Amira pada sahabatnya.
“saudara lo tu kurang ajar banget ya” gerutu Rina dengan suara pelan.
“maksudnya?” tanya balik Amira karena tidak mengerti.
“Udah di tolak sagara masih aja ngekor kemana sagara pergi malah dia nyeret sagara kemana-mana!” amuk Rina.
Amira hanya bisa tersenyum kecut, “biarinlah itukan urusan dia sama sagara, kalau saga nya marah pasti sudah lama si caca menjauh dari saga kan?”
“Saga itu hanya kasian sama dia, kasian liat anak autis seperti dia, gue dengar gara-gara dia sekolahan sempat heboh tentang kesurupan beberapa hari ini”.
“saudara gue itu normal bukan autis apa lagi anak indigo” ujar amira, dia kembali mencatat tulisan yang ditampilkan layar proyektor ke papan tulis.
“normal apanya, teman-teman sekelasnya bilang saudara lo tidur di kelas terus suara ngoroknya terdengar keras, bukannya menjawab lembar ulangan dia malah melukis wajah saga di kertas ulangan, di kantin malah minta disuapin sagara saat makan, normal jika seperti itu” ungkap Rina.
“Ya terus lo mau apa? Saga nya aja tidak merasa terganggu, kalau iri coba aja lakuin seperti apa yang caca lakuin siapa tau saga akan memperlakukan lo sama dengan dia” ucap amira acuh. Dia sudah capek semua orang di sekolah protes selalu pada dirinya mentang-mentang dia cewek, jadi semua teman sekelas bahkan siswi satu sekolah selalu protes tentang Quinsya pada dirinya. Darel sudah menasehati gadis itu agar tidak bersikap jahat pada Quinsya, jika Amira masih marah sama sikap Quinsya maka darel tidak mau lagi menemaninya jalan-jalan tidak hanya darel mommy Queen dan daddy King juga sempat menasehati dirinya. Mungkin Amira sempat merasakan kecemburuan karena kasih sayang lebih pada Quinsya namun itu hanya sebentar biasa anak remaja suka labil dan mudah terbawa emosi.
Sekarang Amira hanya menanggapi masalah Quinsya dengan acuh, tidak peduli lagi mau orang bilang apa, toh itu bukan dirinya sudah cukup omelan kedua orang tua dan abang tersayang yang dia terima.
“Siapa yang iri, gue Cuma kasian sama saga di kuntit sama stalker seperti saudara lo” ketus Rina.
“hmmm” Amira hanya berdeham menanggapi ucapan Rina.
“Lo berubah ya mir! Sejak saudara lo datang, lo lebih sering mendukung saudara lo, kita sudah berteman sangat lama, lo gak belain gue sabagai sahabat” sindir Rina.
“Hah” Amira menghela nafas sedikit lebih panjang, dia menghentikan gerakan tangan yang tadi sibuk mencatat tulisan di papan tulis. “Gue gak belain siapa siapa, sekarang gini, lo minta apa sih dari gue? Gue bingung harus nanggapi seperti apa?” tanya Amira.
__ADS_1
“Ya lo nasehati saudara lo biar dia gak dekat dekat sama saga” ujar Rina.
“Nasehati gimana, tu anak otaknya bebal, gak ada yang bisa ngatur dia, apa yang dia ingin lakukan tidak ada yang bisa menahannya, termasuk orang tuanya sendiri, di keluarga kami tidak ada satu orangpun yang bisa melarang dia melakukan apapun yang dia inginkan kecuali untuk membunuh atau nyakiti orang lain, baru anak itu bisa di tahan dan di nasehati” keluh Amira.
“Orang tuanya gak malu apa punya anak bodoh seperti itu, gue dengar dia di keluarkan dari sekolah sebelumnya, dan masuk ke sini pakai cara nyogok guru” sindir rina lagi.
Amira kembali menulis tugasnya, “tidak malu, malah mereka tertawa” jawab Amira tanpa sadar.
“Seharusnya dia masuk ke sekolah SLB bukan sekolah kita, nyusahin aja, dan kasian gue liat orang tuanya, Cuma bisa mengeluarkan uang besar untuk anak autis seperti dia, kalau orang tuanya gak ada dan kalian gak ada dia pasti gak bisa hidup” Rina kembali mengeluarkan ledekan pada Quinsya.
“Dia bisa hidup tanpa uang dari keluarganya, hanya dengan menjual lukisannya” Kata Amira acuh.
“Bohong gak percaya gue” dengus Rina sebal.
Amira masih sibuk menulis catatan di papan tulis sambil terus menanggapi ucapan Rina, “cari aja di internet pelukis Bernama Queen Aurel, lo bakal tau berapa harga lukisannya”.
“Ini benaran saudara lo?” tanya Rina tidak percaya.
Amira menghentikan tangannya yang mencatat, dia melihat sekilas tampilan layar ponsel Rina yang menampilkan artikel tentang saudara sepupunya Quinsya, “hmm iya itu dia” setelah itu Amira kembali menulis.
Rina tidak dapat berkata-kata lagi, dia saja masih belum bisa menghasilkan uang sebanyak uang yang dihasilkan oleh Quinsya, hanya endorse beberapa produk dan tidak bisa sebanyak Quinsy ajika dia gabungkan.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
“Bibi! Pinjam dapurnya boleh gak?” Seru Quinsya begitu sampai di kantin sekolah.
“Untuk apa neng gelis? Kalau mau makan pesan aja biar bibik yang buatkan” ujar si petugas kantin.
Dengan malas Quinsya akhirnya melepaskan tangan sagara dan melogoh sakunya untuk mengeluarkan ponselnya, berniat membayar si bibik kantin dengan uang digital. “Bik udah caca transfer ya uangnya, caca pinjam bentar dapur sama beberapa bahan masakan nya”.
__ADS_1
Bibik kantin itu merogoh saku dan ada beberapa uang masuk kedalam go-pay nya, “ya udah tapi hati hati ya neng” ucap si bibik kantin.
Quinsya tersenyum dan masuk ke dalam dapur memulai atraksinya dalam memasak. Si bibik kantin bahkan beberapa kali berteriak karena Quinsya mempertunjukkan show api di tempat itu.
Quinsya hanya tertawa melihat si bibik kantin yang berteriak ketakutan.
Sekitar 20 menit Quinsya berhasil membuat nasi goreng ala Quinsya, gadis itu membawa dua piring yang sudah dia siapkan pada meja kantin dan menarik sagara untuk makan bersamanya.
“Gue udah kenyang, tadi udah gue bilang” ujar sagara.
“Yakin gak mau? Enak loh” goda Quinsya sambil menyodorkan satu sendok berisi nasi goreng buatannya pada sagara.
“glek” sagara meneguk air liurnya saat aroma sedap nasi goreng berhasil masuk kedalam rongga hidungnya.
“Ayolah muse temani caca makan, sini” Quinsya kembali membujuk Sagara dengan cara biasanya.
“Gue mau olah raga habis ini, gak boleh makan, gue temani aja” tolak sagara.
“Beberapa suap aja, ya ya please” bujuk Quinsya sambil menyodorkan sendok nasi goreng pada mulut sagara.
“Ya udah hanya setengahnya” sagara membuka mulutnya pada sendok yang Quinsya sodorkan pada dirinya. Dan tersenyum saat merasakan nasi goreng yang sudah masuk ke dalam mulutnya, sangat lezat.
“Oke” Quinsya memindahkan setengah piring sagara kedalam piringnya, setelah itu dia mulai menyantap nasi goreng buatannya sendiri.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
bonus pict
__ADS_1