My StuPid Girl

My StuPid Girl
71. Mulai Bertanya


__ADS_3

“Saga!” Panggil Tina.


Sagara akhirnya menoleh melihat Tina dengan wajah datarnya.


“Ini ada kue yang aku buat sendiri, kamu mau kan mencobanya” ujar Tina dengan senyum senang.


“Gue kenyang” jawab sagara singkat, dia kini beralih menatap Quinsya yang sedang cemberut menatap Tina, membuat sagara tertawa gemas dengan tingkah Quinsya, biasa gadis itu selalu bersikap biasa setiap tina mendekati sagara tapi sekarang Quinsya tidak lagi menunjukkan wajah normal tapi wajah menggemaskannya.


“bisa dibawa pulang kok” ujar Tina, sambil kembali menyodorkan kotak kue itu pada sagara.


Sagara memandang kotak kue yang ada di hadapannya dan tina secara bergantian, “Singkirkan atau aku buang?”


Tina sedikit tersentak saat mendengar suara dingin dan tegas sagara, tapi dia tidak mau kalah dengan pencapaian Quinsya yang berhasil menaklukkan sagara dengan hanya bersikap memaksa, egois dan manja, dia juga berfikir gadis seperti itu yang merupakan tipe sagara, maka dia akan menjadi gadis tipe sagara.


“Silahkan, aku akan terus memberikannya sampai saga mau menerima dan memakan kue buatanku” ucap Tina penuh keyakinan dengan senyum cerah.


Tanpa menunggu saga mengambil kotak kue itu dan memasukkan kedalam tong sampah yang ada di dalam kelas, dan masuk dalam satu kali lemparan.


“Oke udah gue terima” ucap sagara dingin.


Tina terdiam dan melotot melihat kue yang dia beli dengan sangat mahal telah bergabung dengan berbagai macam sampah, dan sagara benar benar melakukan ucapannya, tanpa belas kasihan sedikitpun pada dirinya.


“kali ini gue nyerah tapi lain kali gue gak akan menyerah” ucap tina sebelum beranjak pergi dari kelas itu.


“haiisss sial makin banyak orang gila” umpat sagara kesal.


Mendengar ucapan sagara Quinsya langsung terisak kecil.


“Lah dek kenapa nangis?” tanya Azmi.


Gadis itu menunjuk sagara, “muse bilang caca gila bang!” adu Quinsya sambil terisak kecil.

__ADS_1


“Woii!! Tanggung jawab bro!” Azmi menepuk nepuk bahu sagara hingga membuat pria itu mengangkat kedua tangannya.


“Ampun, ca~ bukan caca yang saga maksud” ujar sagara di sela menghindari pukulan dari azmi.


“Terus?” tanya Quinsya masih menutupi wajahnya dan berpura-pura terisak kecil.


“Tu cewek-cewek gak jelas kasih hadiah yang saga bilang orang gila!” teriak sagara dengan keras, sengaja biar mereka semua mendengar ucapan sagara.


“Benaran?!” tanya Quinsya lagi memastikan, kini dia sudah membuka tangan yang dia gunakan untuk menutupi wajah.


“Azmi~ adek lo bercanda itu” tegur amira sambil menahan tawanya.


Azmi yang dibilang bercanda langsung menatap Quinsya dan kini dia tertawa, “sorry bro” kekeh nya.


“Makanya jangan main mukul mukul aja, encok badan orang”gerutu sagara. “Caca tanggung jawab ini” sagara menunjuk beberapa memar merah pada lengannya.


“Abang ar! Sembuhkan muse~” kini Quinsya mencari perlindungan dari abang pertamanya yang hanya berbicara saat dibutuhkan.


...🌼🌼🌼🌼🌼...


“Saga, ayah mau bicara” suara ayah Aditya langsung menyambut kedatangan sagara yang baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah.


Sagara kembali menghela nafas panjang, pria itu menatap ayah Aditya dengan wajah datar, dia heran kenapa pria itu akhir akhir ini sering ada di rumah, ‘apa pekerjaannya mengalami kebangkrutan' batin sagara.


“Saga, duduk! Ayah mau bicara” ulang ayah Aditya.


Sagara terdiam, dalam hati dia sangat tidak ingin berhadapan dengan ayah Aditya, tapi ucapan rafa terus terngiang di kepalanya.


“Kamu sudah pernah bertanya alasan kenapa mereka melakukan itu padamu?” berkali kali ucapan papi rafa muncul seperti sebuah PR yang harus dia kerjakan.


Sagara akhirnya mengalah dengan gejolak hatinya, dia memilih mengikuti ucapan papi rafa, pria itu mengambil duduk di tempat yang di suruh oleh ayah Aditya, hal itu sungguh membuat Aditya merasa senang karena sagara mau mematuhinya, dia mendengar ucapan para asisten rumah tangga, untuk tidak marah pada sagara, dan berbicara baik baik, Aditya ingin memperbaiki hubungan ayah dan anak yang sudah lama hilang.

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak menggunakan uang yang ayah berikan padamu? Dari mana kamu makan kalau kamu tidak menggunakan uang ayah?” tanya Aditya dengan nada selembut mungkin.


“Saga bekerja” jawab sagara singkat, malah sebenarnya dia tidak mau menjawab sama sekali, tapi karena rasa hormatnya pada papi rafa mengalahkan ego pria itu, dia akan berdamai dengan ayahnya untuk beberapa saat sampai dia sanggup menahannya.


“Bekerja?! Kamu itu pelajar, pantas_” Aditya menghentikan ucapannya begitu melihat wajah sagara yang menampilkan sorot tidak suka, “kenapa kamu bekerja? Ayah masih sanggup membiayai mu sekolah dan hidup, kenapa kamu bekerja nak?” kali ini nada suara Aditya di ubah lebih lembut.


“Apa bayaran yang anda inginkan? Jika saya mengambil uang itu? Bekerja dengan anda? Atau belajar dengan baik agar menjadi juara 1? Atau membolehkan anda menikah dengan riri?” ujar sagara dengan santainya.


Aditya terdiam menatap sagara yang menatapnya dengan wajah datar dan tidak ada emosi sedikitpun. Benarkah itu putranya? Kenapa sagara bisa berubah sedingin itu? 'Apa aku sudah terlambat? Apa tidak ada cara memperbaikinya?’ Semua pertanyaan itu terus terngiang dalam pikirannya.


“Kamu putra ayah! Mana mungkin ayah meminta bayaran itu adalah hak mu sebagai anak, jadi pakai saja uang ayah, kamu tidak perlu bekerja saga” kata ayah Aditya memberi penjelasan pada sagara.


“ada hak ada kewajiban, berarti kewajiban yang anda tuntun adalah belajar, saya tidak mau belajar dengan paksaan, saya bisa belajar dengan kemauan sendiri” ujar sagara.


“Ayah tida_” Aditya kembali menghentikan ucapannya dia teringat beberapa kali dia memarahi sagara karena berpacaran dan tidak menjadi juara umum, dia yang dulunya selalu berada di posisi satu, kini harus berhadapan dengan putranya yang tidak mendapatkan posisi itu dia sangat berharap sagara mengikuti jejaknya dan pria itu sadar kembali dengan kesalahannya. “Maafkan ayah telah memaksamu untuk belajar, tapi nak, ayah punya alasan untuk memaksamu belajar”.


“apa?” lagi lagi sagara hanya bertanya dan menjawab seperlunya saja.


“Ayah ingin kamu mewarisi perusahaan ayah secepatnya padamu” jelas Aditya.


“Kenapa?”


Aditya menatap wajah sagara yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun bahkan pria remaja itu tidak menunjukkan ekspresi marah.


“Kamu tau, tantemu bersikeras ingin menikah dengan ayah, jika dia menikah dengan ayah maka semua harta ayah pasti akan jatuh ke tangannya dan anak yang entah dari mana datangnya, jika tidak menikah juga harta itu bisa dia ambil dengan adanya anak itu” ungkap Aditya, dia hanya menyebut Sebagian alasan karena dia tidak mau sagara tau sakit yang dia derita.


“Ada sebab pasti ada akibat, anda membuat anak itu tidak mungkin anak itu ada tanpa sebabnya” ujar sagara.


“Tapi aku yakin dia bukan putraku” ujar Aditya dengan tegas.


...🎋🎋🎋🎋🎋...

__ADS_1


__ADS_2