
Opa ali memperhatikan semuanya, dia melihat wajah sagara yang langsung berubah karena ucapan dari istrinya.
“Tapi ada juga sifat yang tidak bisa di wariskan ke anak” Ucap opa Ali.
“Apa itu opa?” tanya Azmi penasaran.
Opa ali menatap satu persatu cucu nya termasuk sagara, “Sifat jelek orang tua kalian, kebanyakan anak semakin bertambah umur mereka semakin tau mana yang baik dan mana yang buruk dan dengan melihat bahwa sifat orang tuanya buruk otomatis dia akan menjauhi sifat itu, jadi jangan berpikir bahwa sifat orang tua 100 persen akan turun pada anak” Ucap opa ali sambil menatap mata sagara.
“Bisakah seperti itu?” tanya sadar Sagara bertanya pada opa ali.
Opa ali menganggukkan kepala dan tersenyum pada sagara, “Bisa, contohnya papi rafa, dulu opa adalah orang tua yang buruk, opa menelantarkan anak opa sendiri tapi liat sekarang apa papi rafa menelantarkan anak-anaknya?” tanya opa ali sambil melihat satu persatu cucu nya.
Quinsya yang lebih dulu menggelengkan kepala, “Papi adalah papi yang paling sempurna, dia cinta pertama caca, dan akan selamanya menjadi cinta pertama caca” ucap Quinsya.
Opa Ali mengusap puncak kepala Quinsya dengan lembut, “begitulah orang tua, memang terkadang mereka memiliki kesalahan tapi percayalah, suatu hari nanti mereka akan mendapatkan balasan dari perbuatan mereka, dan semua akan kembali baik” ucap opa ali.
“Apakah seorang monster boleh bahagia?” tanya sagara lagi tanpa sadar.
Opa ali mendekat pada pria yang dibawa cucu nya, dia tau anak itu punya banyak masalah seperti putranya dulu, bahkan mungkin lebih parah, “Tidak ada anak yang terlahir sebagai monster, semua anak terlahir di dunia ini suci, mereka tidak bersalah sedikitpun, hanya beberapa orang tua yang sedikit lari dari tanggung jawabnya yang mengatakan anaknya sebagai monster” ucap opa ali.
Quinsya menggenggam tangan sagara dengan erat, “caca gak takut dengan muse” ucap Quinsya dengan senyum yang mengembang.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Pagi ini Quinsya dan sagara berjalan jalan di pinggiran pantai hanya berdua saja, seperti permintaan Quinsya.
Sagara langsung ditarik Quinsya menuju pantai begitu mereka selesai menyantap sarapan pagi. Untung saja pria itu sudah bersiap dengan pakaian untuk keluar.
“Sepi ya” ucap Quinsya. Mungkin karena masih pagi tidak banyak orang yang berada di pantai.
“Lebih enak begini” ucap sagara sambil terus berjalan dengan menggandeng tangan Quinsya.
__ADS_1
“Pemandangan ini terlalu indah buat di lupakan” gumam Quinsya.
“Ingin melukis?” tawar sagara.
Quinsya menggeleng cepat, “Gak mau, lagi pengen menikmati momen ini” kata Quinsya sambil menatap mata sagara lebih dalam.
Quinsya telah menyadari perasaannya pada Sagara lebih dalam dari yang dia pikirkan, tapi gadis itu masih terus menyangkal perasaan itu karena mengingat umurnya yang masih berusia 16 tahun, apalah daya umur 16 tahun naksir dengan cowok, hal itu akan di anggap hanya cinta monyet, jadi Quinsya hanya membiarkan perasaannya mengalir begitu saja, bukankah mereka partner jadi sagara tidak akan hilang dari dirinya.
“Momen seperti apa?” tanya sagara dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
“Bolehkan caca tawar? Minta momen seperti apa?” kekeh Quinsya, gadis itu sudah mengedipkan matanya dengan genit pada sagara, membuat pria itu tertawa kecil melihat tingkah Quinsya.
Sagara menganggukkan kepalanya, “ini adalah hadiah untuk Queen yang telah berhasil menang dengan taruhan kita, selagi aku bisa mengabulkannya akan aku kabulkan” ucapan sagara terdengar ambigu karena memang banyak maksud dari ucapan yang dia katakan itu, seperti yang Quinsya tau sagara tidak bisa menerima sebuah hubungan seperti hubungan pacarana atau pernikahan, pria itu masih takut dalam berkomitmen.
Sangat wajar pria 16 tahun dengan banyak trauma dan belum pernah merasakan kasih sayang tulus dari siapapun, sudah pasti selalu waspada dengan orang lain dan takut memulai hubungan.
“hmm… apa ya” Quinsya mengetuk dagunya berpikir. Hal yang gadis itu lakukan membuat sagara semakin gemas padanya.
“Hanya boleh satu?”
“Banyak juga boleh” balas sagara.
“Kalau gitu gendong sam_” sebelum Quinsya melanjutkan ucapannya sagara sudah menggendong gadis itu membuat Quinsya terkejut dan otomatis merangkul leher sagara dengan kuat. “kyaaa!” tanpa sadar Quinsya berteriak karena terkejut dengan sikap sagara.
“hahahha” sagara tertawa pelan, “katanya minta gendong” kekeh sagara.
Quinsya sedikit menjauhkan kepalanya dari sagara, untuk menatap pria itu, “apa caca tidak berat?” tanya Quinsya, sedikit malu dengan posisi mereka berdua saat ini.
“kemana perginya mie ayam, bakso, nasi goreng, steak dan berbagai macam makanan yang pernah caca makan? Kenapa ringan sekali?” ledek Sagara.
‘buk buk buk’ Quinsya memukul dada sagara pelan, “jahat, caca makan gak sebanyak itu” gerutu gadis itu.
__ADS_1
Bukannya kesakitan sagara malah semakin tertawa senang menggoda Quinsya.
“Kan emang benar gak salah kan?” kekeh sagara lagi.
“gara-gara muse bilang tentang makanan caca jadi lapar lagi, sekarang kita cari pedagang kaki lima buat makan”.
Sagara semakin tertawa, gemas dengan gadis yang masih di dalam gendongannya. “baiklah ratu, apa masih seperti ini kita pergi mencari makannya?” ledek sagara.
Quinsya baru ingat dia masih ada di pelukan sagara, “tu-turunkan sekarang” pinta Quinsya.
Sagara menurunkan Quinsya dengan pelan, tapi gadis itu langsung merangkul sagara sambil menggeret pria itu untuk mencari tempat makan, “perut caca udah lapar banget”.
Sagara masih tertawa, bersama Quinsya pria itu bisa berubah menjadi sosok lain yang tidka pernah dia kenal, sosok baru yang selalu tertawa dan entah kenapa pria itu tidak bisa bersikap kasar pada Quinsya, padahal sagara berpikir jika dia menyukai wanita dia akan berubah menjadi seperti ayahnya yang kasar pada bundanya.
“kemana roti sandwich tadi pagi yang dibuatkan oma reta?” ledek sagara.
“Ihhh muse jahat, caca kan lapar, tadi katanya mau mengabulkan apa aja!” rengek Quinsya.
“Iya iya, gak godain lagi” kata sagara di sela tawanya. “tapi mau berapa mangkuk dihabiskan?” goda sagara, setelah itu pria itu lari dari kejaran Quinsya.
“MUSE!” teriak Quinsya sambil mengejar sagara.
Sagara sudah memutuskan dia akan membiarkan hubungannya dengan Quinsya mengalir seperti air, yang pasti dia tidak akan pernah menyakiti gadis itu, tapi dia juga belum bisa berkomitmen serius dengan Quinsya, belum bukan berarti tidak akan mau, semakin lama dia mengenal Quinsya semakin besar rasa keinginan sagara untuk memiliki gadis itu menjadi miliknya seutuhnya, tapi mengingat umurnya yang masih 16 tahun sagara tidak ingin salah mengambil keputusan, karena dia tidak akan bisa bangkit lagi jika keputusan yang dia ambil salah.
Menggoda Quinsya, dan melihat reaksinya adalah hobi baru sagara, dia suka melihat wajah ngambek Quinsya dan berbagai macam ekspresi yang ditampilkan gadis itu.
...💐💐💐💐💐...
bonus pict
sagara dan quinsya di pantai
__ADS_1