
“Fadi ini teman gue namanya caca, dan ini amira” Rina yang ada di sana langsung menginterupsi suasana canggung akibat Quinsya yang diam saja setelah fadi mengajaknya kenalan.
“Gue gak nyangka sahabat sahabat rina cantik cantik gini, salam kenal ya” Fadi berusaha menunjukkan senyuman mempesona pada Quinsya dan amira, namun kembali di balas Quinsya dan amira dengan senyum palsu.
“Gue ambil makanan dulu ya rin, gue lapar” ucap Quinsya dan langsung berlalu pergi, tanpa berpamitan pada Fadi yang ada disebelahnya.
“Gue juga” sahut Amira, gadis itu ikutan pergi meninggalkan fadi dan Rina di sana, sambil menarik lengan Darel.
.
“Katanya lo bisa dapatin dia, kok lo di cuekin?” sindir Rina setelah semuanya pergi.
“Aneh, biasanya cewek cewek indo selalu tertarik setiap mendengar orang yang kuliah di luar negri, apa lagi baju dan jam tangan gue ini harganya mahal, bagaimana dia tidak tertarik dengan kekayaan gue” fadi bergumam sendiri, masih memikirkan kesalahan apa yang telah dia buat dan kenapa kedua gadis itu sama sekali tidak tertarik padanya.
“Fadi, keluarga mereka bahkan lebih kaya dari keluarga kita, bagaimana mereka bisa tertarik dengan kekayaan kita?!” umpat Rina kesal.
“Ohh~” Fadi mengangguk mengerti, “kalau gitu caranya lain lagi, izinkan gue menyanyi sekarang, akan gue persembahkan pada gadis itu, gue yakin dia akan terpesona” ujar fadi penuh semangat.
“Ya sudah lakukan sana” gerutu Rina kesal.
.
Quinsya tegak di pinggiran tempat pesta menikmati pemandangan malam yang di tampilkan oleh hotel itu, disebelahnya sagara siap sedia menjaga Quinsya.
“Mau pulang?” bisik sagara, karena melihat wajah Quinsya yang bad mood, entah karena apa gadis itu bad mood, setelah mengambil sedikit makanan Quinsya menarik Sagara ke pinggir dimana tidak banyak orang yang menari dan berpesta.
“Bentar lagi, kita udah datang telat, pulang paling awal, itu bakal membuat pemilik pesta marah” ujar Quinsya pelan.
Sebenarnya dia tidak suka dengan suasana party yang diadakan oleh Rina, mereka semua berpesta seperti sedang ada di diskotik bahkan ada beberapa orang yang sudah berganti pakaian renang dan menyebur ke dalam kolam.
Pesta seperti orang barat yang sangat tidak cocok dibawa ke Indonesia. Beberapa gadis bahkan dengan terang terangan menggoda Sagara dengan berpakaian one piece, bikini, dan pakaian sexy lainnya, mereka sengaja menyapa sagara dan berusaha mengobrol dengannya walau tidak mendapat tanggapan dan hanya di acuhkan oleh sagara.
“kalau gitu senyum dong” bisik sagara lagi.
Quinsya menggelengkan kepalanya pelan, “Gak bisa, makanya bantuin tutupin” balas Quinsya pelan.
“Habis dari sini kita makan kesukaanmu, gimana” kata sagara dengan mendekatkan mulutnya pada telinga Quinsya.
Quinsya mengangguk pelan sambil menunjukkan sedikit senyuman di bibirnya walau hanya sedikit.
“Hai, saga!” Tina datang dengan menggunakan bikini di hadapan sagara, Quinsya melihat kebelakang sebentar lalu kembali melihat ke depan dia geleng geleng kepala liat beberapa gadis yang mendatangi sagara dengan berbagai pakaian menampilkan tubuh sexy mereka.
“. . .”
Tentu saja tidak ada jawaban dari sagara, pria itu bersikap acuh dengan berpura pura melihat notifikasi pada ponselnya.
“Saga, lo gak ikut gabung ke sana?” Tina tidak mau putus asa untuk menggoda sagara, sekali lagi dia mendekati sagara dan mencoba mencari perhatian pria itu.
“Muse~ di tanyaain itu” ledek Quinsya sambil menahan tawanya.
Sagara bukannya menjawab Tina dia malah lebih suka menatap wajah Quinsya, “Di tanyaain apa?” tanya sagara pada Quinsya.
“Tu tina tanyain kok gak ikut gabung?” ujar Quinsya dengan tawa mengejek.
“Males, masuk angin nanti” canda sagara.
__ADS_1
Quinsya tertawa semakin keras dengan candaan sagara, memang benar dia heran kenapa mereka menggunakan pakaian sexy dan berpesta di kolam renang, malah malam malam lagi, pikiran Quinsya sama dengan sagara, kok ya gak takut masuk angin gitu atau dicubit setan soalnya mandi malam malam.
“Saga, mau gue ambilkan makanan atau minuman gak?” Tina berusaha menahan amarahnya karena Sagara bukannya menjawab dirinya malah menjawab Quinsya padahal dia sudah berpakaian sexy dan sengaja memperlihatkan pada Sagara, betapa sexy nya dirinya.
“Gak butuh” akhirnya sagara menjawab tapi dengan nada ketus.
“kalau gitu saga, lo mau_”
“Tin, jangan jadi rendahan dong” potong Quinsya, gadis itu akhirnya berbalik dan melihat Tina dengan pandangan menghina.
“Apa maksud lo!” amuk Tina karena sindiran Quinsya.
“Muse udah berkali kali tolak lo, sana pergi, emang situ sexy dengan menggunakan itu, tanggung tinggal Tarik talinya aja, gak tau muse bakalan tertarik atau sama sekali tidak tertarik, apa yang mau di lihat dari lo?” sindir Quinsya.
Tina mengepalkan tangannya geram, dia ingin melayangkan pukulan pada Quinsya tapi saat melihat sagara yang menatapnya dengan pandangan peringatan akhirnya tina pergi tanpa berkata apapun.
“Hari ini gue kalah tapi liat aja, akhirnya sagara akan jatuh dalam pelukan gue” batin tina.
“Muse~” panggil Quinsya.
“Hmm?”
“Muse suka cewek cewek yang seperti itu?” selidik Quinsya.
“Seperti apa?” tanya balik sagara.
“Seperti yang tadi si tina dan yang lainnya, yang datang menghampiri muse memperlihatkan belahan dada dan paha yang sexy” omel Quinsya.
“Cemburu?” goda sagara.
Sagara mengulum senyum dan mendekatkan wajahnya pada telinga Quinsya, “emang yang tadi cewek? Di mataku mereka seperti pengemis”
Quinsya mengerutkan keningnya bingung, “kok pengemis?” tanpa sadar dia bergumam pelan.
“Soalnya bajunya pada kekurangan bahan” canda sagara.
Quinsya menahan tawanya dan berpura pura terlihat cool.
“Kalau mau ketawa, ketawa aja, jangan di tahan” bisik sagara.
Quinsya langsung berusaha menampilkan ekspresi datar, “siapa yang mau ketawa” ujarnya dengan nada datar, “Muse pasti suka kan liat yang seperti itu, pasti suka digodain dengan cewek cewek itu” Quinsya sekali lagi menyindir sagara.
“Mual” ucap sagara singkat.
“Mual kenapa?”
“kan gue pernah bilang gue mual didekati seperti itu, gue beneran punya trauma itu”
Quinsya memicing dan memperhatikan wajah sagara lebih dekat, ternyata pria itu sudah pucat, “ya allah muse, kenapa?” tanya Quinsya panik.
“bau mereka mengerikan, gue mual” ucap sagara sambil bersandar pada tubuh Quinsya.
“Ya udah kita pulang_”
“Mohon perhatiannya sebentar” suara Fadi dari atas panggung menghentikan ucapan Quinsya. “gue akan bernyanyi buat wanita cantik di sana, persembahan buat kamu Caca, Crisye – kala cinta menggoda”
__ADS_1
Fadi tersenyum dan mengedipkan matanya pada Quinsya yang berada di pinggir pesta.
...🎼🎼🎼🎼🎼...
...Sejak jumpa kita pertama...
...Ku langsung jatuh cinta...
...Walau kutahu kau ada pemiliknya...
...Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani...
...Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini...
...Maka ijinkanlah aku mencintaimu...
...Atau bolehkanlah ku sekedar sayang padamu...
...Maka ijinkanlah aku mencintaimu...
...Atau bolehkanlah ku sekedar sayang padamu...
...Memang serba salah rasanya...
...Tertusuk panah cinta...
...Apalagi aku juga ada pemiliknya...
...Tapi ku tak mampu membohongi hati nurani...
...Ku tak mampu menghindari gejolak cinta ini...
...Maka maafkanlah jika ku mencintaimu...
...Atau biarkan ku mengharap kau sayang padaku...
...Maka maafkanlah jika ku mencintaimu...
...Atau biarkan ku mengharap kau sayang padaku...
...🎼🎼🎼...
“Sepertinya ada yang menggodamu” bisik sagara pada Quinsya tapi matanya menatap sinis pada fadi yang sedang bernyanyi di atas panggung. Beberapa orang mengikuti nyanyiannya, hanya Quinsya, sagara, amira dan Darel yang diam dan menatap datar malah sagara menatap dengan wajah marah pada pria itu.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
bonus pict
__ADS_1