My StuPid Girl

My StuPid Girl
72. Alasan


__ADS_3

“Tapi aku yakin dia bukan putraku” ujar Aditya dengan tegas.


Sagara menatap mata Aditya dengan lekat, “jangan mengelak, sudah jelas dia anak anda dengan riri, tes DNA menyatakan dia adalah anak anda, berani berbuat seharusnya anda berani bertanggung jawab, jangan menjadikan saya sebagai alasan menolak riri dan anak itu, saya bukan anak kecil lagi yang tidak tau dari mana datangnya anak?” ujar sagara sedikit lebih panjang, namun remaja itu masih mampu mempertahankan wajah datarnya, tidak ada emosi sedikitpun, walau saat ini hatinya sedang berkecamuk marah.


“Ayah bersumpah saga! Ayah bersumpah tidak pernah mengkhianati bunda mu, bagi ayah, bundamu satu satunya wanita di hidup ayah, tolong percaya pada ayah” lirih Aditya.


Sagara sedikit bingung karena mata Aditya sedang menampilkan kebenaran, tapi apa yang dia lihat seperti berbeda dengan kenyataannya.


“tidak ada kata untuk terlambat, mintalah penjelasan pada ayahmu, tentang kenapa dia melakukan itu, dengarkan semua ceritanya, luapkan semua perasaanmu padanya, ceritakan apa yang kamu rasakan, dan jangan mengambil kesimpulan sendiri, dengarkan saja semua ucapan ayahmu setelah itu cari tau sendiri, apakah ucapan ayahmu benar atau tidak, kalau perlu bantuan papi, papi bersedia membantu” kembali ucapan papi rafa terngiang di pikiran sagara, melihat mata ayah Aditya, sagara jadi ingin tau alasan kenapa selama ini dia di perlakukan begitu.


“Kenapa ayah terlalu sibuk dan mengabaikan bunda? Padahal ayah bilang mencintainya? Apa cinta harus dengan cara menyakiti?” tanya sagara, pertama kalinya pria itu mengajukan pertanyaan itu dan memang itu yang selalu membuat sagara penasaran.


Aditya menatap mata putranya dengan sendu, “ada satu hal yang tidak kamu ketahui sejak dulu_” Aditya menjeda ucapannya sejenak tangannya sibuk mencari folder foto yang ada di ponselnya sambil memperlihatkan pada sagara, “dia abangmu” Aditya menunjukkan foto bayi kecil berumur 5 bulan.


“dimana dia?” tanpa sadar sagara bertanya lagi.


Aditya tersenyum pahit, “sudah tidak ada di sini, meninggal saat umur nya 5 bulan, tidak tau sebabnya apa, saat di periksa ada cairan di kepalanya, dia meninggal karena ayah tidak memiliki biaya untuk melakukan operasi secara mendadak” Mata Aditya mulai berkaca kaca, “sejak itu ayah berusaha kerja banting tulang agar di masa depan tidak terjadi hal yang sama pada anak anak ayah”.


Sagara mengepalkan tangannya sedikit kesal, kalau alasan itu, kenapa selama 16 tahun ini dia tidak memberitahukannya, sagara menganggap memang karena kehadirannya hubungan bunda airi dan ayah Aditya menjadi renggang.


“Kenapa tidak memberitahu bunda alasan itu? Kenapa ayah membiarkan bunda seperti orang gila menunggu ayah siang dan malam!” pekik Sagara, sekarang ketenangannya tiba tiba menghilang setelah mengetahui pokok masalahnya.


“Sudah, ayah sudah mengatakannya berkali kali tetapi bunda mu, tidak mau percaya pada ayah, ayah tidak bisa apapun, ayah capek selalu mendengar makian dari bunda mu, di luar ayah bekerja, begitu pulang ayah di sambut dengan omelan dan makian dari bunda mu, berkali kali ayah berkata tapi bunda mu tidak mau mendengarkan, jadi ayah menyerah padanya” lirih Aditya.


“Menyerah?! Hahahha” air mata sagara turun perlahan tapi bibirnya bergetar membentuk senyuman. “kata ayah cinta tapi menyerah semudah itu_”sagara berusaha menahan air matanya yang ingin terjatuh lagi, mata pria itu sudah merah menahan tangis, “Maaf, kita bicara nanti saja” sagara segera beranjak dari kursinya.

__ADS_1


“Saga~” panggil ayah Aditya dengan lembut, untuk pertama kalinya pria itu memanggil nama sagara selembut itu.


Sagara berbalik sebentar, “Kalian anggap apa aku selama ini? apa aku hanya samsak tinju untuk kalian lampiaskan semua emosi kalian berdua? 16 tahun aku hidup seperti yatim piatu yang Cuma numpang tinggal di rumah besar ini, dan alasannya cuma satu karena kalian kehilangan putra pertama kalian berdua, tidak kah kalian berpikir kalian sekarang punya putra lagi? Kalian tidak tanya apa dia masih hidup? Atau sudah mati?” setelah berkata begitu sagara berbalik dan langsung berlari menuju tangga kamarnya.


Sementara Aditya terdiam mencerna ucapan sagara, yang sagara katakan memang semuanya benar, rasa berkabung mereka terlalu lama, seharusnya mereka bersenang senang setelah hadirnya sagara, tapi yang ada mereka semakin mengejar hal yang entah apa itu, kekayaan? Kejayaan? Entah untuk apa Aditya mengejar semua itu.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Di dalam kamarnya sagara berkali kali memukul dinding kamarnya hingga tangan pria itu mengeluarkan darah, air matanya sudah berhenti berganti dengan darah di bibir yang dia gigit dan jari tangan akibat meninju dinding.


Sagara menatap ponselnya, berharap ponsel itu berdering dan menampilkan nama Quinsya, tenyata itu bukanlah lagi sekedar harapan, kini layar ponsel sagara menampilkan nama Quinsya.


“assalamualaikum”


“waalaikum salam” jawab sagara.


“maaf, tadi sedang bicara dengan ayah” jawab sagara dengan suara pelan.


Mendengar nada suara sagara saja Quinsya tau, pria itu sedang tidak bersemangat.


“Muse tau gak?” seru quinsya dengan suara riang.


“Hmmm?”


“Tadi abang az masuk ke dalam empang! Berenang bareng ikan ikan” Quinsya tertawa keras sambil menceritakan kisah lucu yang memang baru saja terjadi.

__ADS_1


Sagara sedikit tersenyum dan tertawa kecil.


“Kok bisa?”


“Jadi tadi, pas lagi mau panen ikan dan kasih buat para pekerja di rumah, abang az penasaran sebesar apa ikan yang ada di dalamnya, waktu abang mendekat ke empang caca dorong hingga abang berenang di dalamnya” ungkap Quinsya. "lucu banget liat abang menggelepar bersama ikan ikan" Gadis itu mulai lanjut berbicara dari cerita yang baru saja terjadi hingga berbagai hal dari makanan, masakan dan hal lainnya, dia berkali kali membuat sagara tertawa dan tersenyum, tanpa sagara sadari ayah Aditya mengintip dari celah pintu yang terbuka.


Tadi dia mau berbicara lagi dengan sagara dan mengejar sagara ke dalam kamar, dan dari dalam kamar sagara terdengar suara tawa pria itu, pertama kalinya Aditya melihat wajah tawa putranya, Aditya jadi penasaran dengan siapa yang sedang menelpon sagara, apa wanita yang beberapa waktu lalu di bicarakan oleh riri.


📳


Aditya segera menjauh dari kamar sagara untuk mengangkat ponselnya yang berbunyi.


📲“Tuan besar, apa meeting hari ini di tunda lagi?” tanya sang asisten.


Aditya berpikir sebentar, dia tidak bisa memaksa sagara lagi, jadi dia akan membiarkan sagara untuk sekarang.


📲“Siapkan besok pagi, aku akan berangkat ke singapura malam ini” ujar Aditya. Sambil kembali berjalan menuju kamar sagara.


‘to tok tok’ kali ini Aditya ingin berbaikan dengan sagara jadi dia akan memberi tahu kapan dia pergi dan kembali pulang.


“Ada apa?” tanya sagara begitu dia membuka pintu kamarnya.


“Ayah ada meeting penting di singapura, kemungkinan ayah akan kembali seminggu lagi, tidak apa kan ayah tinggal, ayah minta maaf nak” ucap Aditya di akhir kalimatnya dengan lembut.


Sagara sedikit mengernyitkan keningnya, tapi pria itu menganggukkan kepalanya pelan, “hmm” jawabnya singkat, dia terlalu malas berdebat dengan Aditya.

__ADS_1


Aditya mengelus puncak kepala sagara dengan lembut, “jangan berpacaran dulu, berteman aja, kamu dan dia masih pelajar, dan obati luka di tanganmu, jika dia tau dia akan sedih” nasehat Aditya sebelum pergi dari hadapan sagara.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2