My StuPid Girl

My StuPid Girl
8. Muse vs Alien


__ADS_3

Quinsya duduk dengan wajah cemberut sambil memicing kesal pada Farel.


“ca, udah dong marahnya, kasian abang ca! lo tadi janji gak bakal pergi tiba-tiba ca” kata Amira, remaja 15 tahun itu berusaha membuat Quinsya kembali tenang. “nih makan dulu” bujuk Amira lagi.


Quinsya masih cemberut dan tidak mau mengeluarkan suara lagi, ini pertama kalinya dia melihat seseorang yang ingin dia Lukis.


“Ca maafin abang ya, lagian cowok tadi bakalan marah kalau caca langsung panggil dia begitu aja, emang caca kenal dengan cowok tadi?” farel kembali berusaha membujuk Quinsya yang sedang ngambek.


Quinsya menghela nafas panjang, “baiklah” jawab Quinsya singkat. “caca mau cepat pulang mau melukis” tambah Quinsya.


“Ya udah habis makan kita pulang” kata Darel.


“Tapi mira belum beli apapun” kali ini yang protes adalah Amira.


“Iya kita beli barang yang Mira inginkan, caca dan farel pulang naik taksi, gak apa ca?” tanya Darel.


Tanpa mengeluarkan suara Quinsya hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Remaja 15 tahun itu sedang memikirkan tentang pria yang melintas di depannya, wajah pria itu terus terngiang di kepala Quinsya.


.


“ca, masih marah sama abang?” tanya Farel lembut.


“gak marah kok” jawab Quinsya, pandangannya beralih pada jalanan.


Farel menatap sendu Quinsya yang tidak mau menatapnya, dia merasa bersalah tapi dia tidak bisa melakukan apapun, tangannya bergerak sendiri untuk menahan badan quinsya agar tidak menjauh darinya, sejak kecil dia tau Quinsya sedikit special, entah kenapa dia menaruh hati pada adik sepupu nya sendiri.


“Gimana caranya biar abang dapat maaf caca?” Farel berusaha membujuk Quinsya agar tidak marah lagi.


“caca gak marah lagi” ujar Quinsya tapi matanya masih menatap jalanan.


“Hmm padahal abang mau ngajak caca beli ice cream dan makan mie ayam di tempat biasa” gumam Farel.


“Ayo bang, caca udah lama gak makan mie ayam di sana” Quinsya langsung terlihat bersemangat.


Dalam hati Farel bersyukur cara mengajak makan masih bisa berhasil untuk membujuk Quinsya untuk tidak merajuk lagi.


Farel sebenarnya tau dia sudah tidak berhak untuk melarang Quinsya untuk melakukan apa yang dia inginkan, dulu Farel yang sering menemani Quinsya bermain jika gadis itu sedang dirawat dirumah sakit atau saat Quinsya sedang menonton saudara saudaranya bermain, dan masih banyak hal lainnya.


.


“hai sayang, mana mira? Kok pulangnya gak bareng?” tanya mami cessa saat melihat hanya Quinsya dan Farel yang pulang.

__ADS_1


“caca mau melukis tiba-tiba datang ilham pada caca” jawab caca sambil berjalan memasuki kamarnya.


“gak makan malam sayang?” tanya Cessa karena sebentar lagi adalah saatnya makan malam.


“gak mi, tadi caca makan dua kali” jawab Quinsya.


Cessa mengerutkan kening bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Quinsya.


“tadi caca makan di mall dan café sama abang mi” farel menjawab kebingungan yang di tunjukkan oleh cessa, sebenarnya bukan café melainkan mie ayam langganan yang biasa mereka datangi.


“ohhh” cessa berguman mengerti.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Pagi pagi sekali Quinsya keluar dari mansion besar milik opa dan oma nya, remaja 15 tahun itu sudah lengkap dengan peralatan untuk olah raga, berhubung dia sudah lama tidak mengelilingi komplek, Quinsya jadi ingin berjalan mengelilini komplek untuk mengingat kembali jalan-jalan yang enak di lewati.


“mau kemana bang?” suara mami cessa mengejutkan 3 saudara kembar itu.


Aryan, Azmi dan Alquinsya sedang mengikat tali sepatu mereka, dan terkejut karena suara cessa.


“Jogging keliling komplek mi” jawab Aryan.


“loh gak capek emang? Kalian pergi bertiga aja? Yang lain gak ikut?” selidik Cessa lagi.


Muncul sebuah senyuman di bibir cessa, “mami tau, kalian lagi pengen makan di pinggir jalan kan?” tebak cessa.


Serentak ketiga anak kembar itu berdiri kaku, “hahahha” cessa tertawa keras, “mami rahasiakan ini dari papi, tapi makannya jangan kebanyakan ya” tambah cessa.


“Yes! Mami memang yang terbaik, kami pergi dulu mi” Quinsya mencium pipi mami cessa lalu berjalan pergi.


.


Baru saja jalan selama 30 menit, 3 saudara itu sudah duduk di taman sambil memakan bubur ayam. Seperti biasa Quinsya memesan 2 mangkuk bubur ayam, ramaja 15 tahun itu memang sangat suka makan tapi badannya tetap kecil, dan itu adalah keuntungan yang dia miliki.


“Bang, habis ini kita makan mie ayam ya” ajak Quinsya dengan senyum lebar.


Azmi membelalakkan matanya, hampir saja bubur yang baru masuk ke dalam mulutnya kembali keluar karena mendengar penyataan adik kembarnya.


“makan lagi dek? Ini udah dua piring?!” tanya Azmi gak percaya dengan kemampuan adiknya dalam melahap makanan.


“Habiskan dulu yang ada di piring baru mikir makan lagi” kali ini Aryan yang berbicara.

__ADS_1


Quinsya mengangguk mengerti. Mulutnya asik mengunyah dan matanya berkeliling untuk melihat keseliling taman itu.


Sekali lagi mata Quinsya berhasil menemukan ‘Muse’ yang di acari selama beberapa hari ini, mata Quinsya tidak lepas dari sosok Muse yang sedang berbicara dengan salah satu penjual.


‘brak’ Mangkuk kosong yang di pegang Quinsya diletakkan dengan cepat di meja, “Bang caca duluan!” tanpa menunggu jawaban Aryan dan Azmi Gadis itu berlari menuju orang yang sudah dia cari.


“Dek! Woiii mau kemana!” teriakan Azmi tidak di dengar oleh Quinsya yang sudah berlari.


“Sepertinya dia mendapatkan apa yang dia cari” ujar Aryan.


“Gak khawatir? Tu anak kenapa-kenapa?” seru Azmi.


“udah besar, sesekali biarkan aja melakukan yang dia inginkan, gue yakin dia baik-baik aja” ujar Aryan dengan tenang, pembawaan Aryan memang tenang dan terarah, dia sudah memperkirakan setiap tindakan yang akan dia lakukan.


“Kalau caca kenapa-napa lo yang tanggung jawab” kata Azmi pasrah.


“hmm” hanya dehaman yang keluar dari mulut Aryan.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


“MUSE!” teriak Quinsya.


Tapi pria yang di panggil Muse itu tidak berhenti karena memang Namanya bukan Muse.


“MUSE! BERHENTI!” teriak Quinsya sekali lagi.


Muse masih berlari seperti biasa tanpa berhenti sedikitpun.


“Wuueekk hah hah, Muse gak boleh hilang!” karena berlari saat perut penuh menyebabkan Quinsya merasa sedikit mual, tapi dia mau menahanannya sedikit lagi agar bisa mencapai pria yang dipanggil Muse oleh Quinsya.


“Mus…wuueeekkkk” Quinsya berhasil mencapai muse nya dan semua makanannya pun keluar di depan orang itu dan muntahannya mengenai sepatu si pria.


“Woiii! Apa apaan nih!” pikik si pria.


“Ma- Wueeekk” sekalilagi Quinsya muntah dan kali ini mengenai baju si pria. “wuuaahhh akhirnya lega, tapi perut caca jadi lapar lagi” Quinsya mengusap mulutnya dengan punggung tangan, matanya baru menatap pria yang sudah terlihat seperti akan murka di depannya.


“Bisa tolong jelaskan apa yang sedang lo lakuin ke gue?” tanya si pria dengan senyum sinisnya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


bonus pict

__ADS_1


putri kesayangan Rafa (Quinsya)



__ADS_2