My StuPid Girl

My StuPid Girl
69. Bertengkar


__ADS_3

“Yuk pulang” Quinsya menarik tangan sagara untuk meninggalkan pesta itu bahkan fadi belum selesai menyanyi, tidak lupa gadis itu mengirimkan pesan pada amira bahwa dirinya pulang lebih dulu.


“Gak ucapkan terima kasih? Karena sudah menyanyi untukmu?” goda sagara.


“Gak penting, dan gak suka” jawab Quinsya ketus sambil terus melangkah menuju mobil mereka, supir sagara sudah berada di depan hotel menunggu mereka.


Sagara mengulum senyum mendengar ucapan Quinsya, dengan senang hati dia mengikuti keinginan Quinsya untuk segera menarik kakinya dari sana.


.


“Kita kemana?” tanya sagara begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil.


“makan!” seru Quinsya bersemangat.


“Baiklah kita makan” ajak sagara.


“makan jagung bakar yuk” ujar Quinsya semangat.


“Bentar ya”.


Quinsya menatap heran sagara yang mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan langsung menelpon seseorang.


“Assalamualaikum om” ucap sagara setelah teleponnya di angkat.


Quinsya langsung melotot mendengar ucapan sagara. “jangan bilang papi” ucap Quinsya tanpa mengeluarkan suara hanya gerakan bibir.


Sagara tersenyum sambil mencubit gemas pipi Quinsya.


“Waalaikum salam, ada apa saga?” tanya Papi Rafa.


“Saga mau izin om, ngajak Quinsya makan jagung bakar di taman kota, dan pulangnya sebelum jam 9, om” ujar sagara dengan sopan.


“Habis dari sana, langsung pulang ya” ujar Rafa.

__ADS_1


“Baik om”


“balikin anak oom dengan utuh, jangan di sentuh sentuh yang aneh aneh, kalian belum muhrim” ancam papi rafa.


“baik om” jawab sagara sekali lagi.


“ya sudah, hati hati” Papi rafa baru mematikan telepon setelah memastikan janji sagara.


“Apa kata papi? Pasti gak boleh kan? Harusnya jangan tanya papi~” gerutu Quinsya.


Sagara tertawa pelan dan kembali mencubit pipi quinsya, “siapa yang bilang gak boleh, kata om rafa boleh tapi batas waktunya sebelum jam 9 malam”.


Wajah Quinsya yang tadinya murung langsung berubah ceria, gadis itu menatap sagara dengan mata berbinar binar, “Yakin papi bolehin?” tanya Quinsya tidak percaya.


Sagara mengangguk, “iya boleh”.


“Yuhuu!” Quinsya langsung bersorak bahagia dan memeluk sagara sangking senangnya. “Pak supir kita ke taman kota sekarang!” lanjut Quinsya memberi perintah pada supir pribadi sagara.


.


Sementara di pesta, Fadi yang asik menyanyi tanpa melihat Quinsya sedikit terkejut saat dia berhenti menyanyi, ternyata gadis itu sudah tidak ada di tempat terakhir dia lihat, matanya berkeliling mencari Quinsya dan amira tapi sayang kedua gadis yang menarik perhatiannya telah pergi dari pesta tanpa pemberitahuan pada penyelenggara pesta.


“Lo hebat fadi” puji Rina begitu fadi turun dari panggung.


“Iya gue tau, gue hebat, tapi gadis yang ingin gue goda udah menghilang” ujar fadi kesal.


Mendengar ucapan fadi, Rina langsung melihat keselilingnya memastikan ucapan pria itu bahwa Quinsya menghilang, “sial, kok bisa bisanya dia menghilang tanpa permisi sama gue yang berulang tahun!” gerutu Rina kesal padahal tadi dia berniat memanggil nama sagara untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya sebagai hadiah ulang tahun tapi semua itu harus pupus karena sagara pun menghilang bersama Quinsya.


“Gue punya nomor Quinsya, lo godain dia terus” Rina berkata sambil mengirim kontak ponsel Quinsya pada saudara sepupunya, dia akan terus membantu Fadi untuk mendekati Quinsya, jika perlu dia akan mengompor ngompori tentang kehebatan fadi pada Quinsya agar gadis itu tertarik pada saudaranya.


...🍀🍀🍀🍀🍀...


“Pacaran lagi kamu saga!” suara melengking ayah Aditya menyambut sagara yang baru saja memasuki rumahnya.

__ADS_1


Pria itu menghela nafas panjang, dan sedikit heran kenapa ayah Aditya lebih sering di rumah, bukannya pria itu mengatakan tidak sanggup berlama lama di rumah karena mengingat mendiang bunda Airi.


“Sagara! Mau sampai kapan kamu tidak menjawab ayah?!”bentak ayah Aditya karena sagara tidak menjawabnya.


Sagara menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap ayah Aditya. “Iya! sagara baru saja pulang dari kencan” jawab sagara datar.


“Kamu masih pelajar sagara! Umurmu masih 16 tahun, bisakah jangan berpikir tentang cinta cintaan untuk saat ini? Fokus dengan pelajaran mu sehingga ayah bisa memberikan perusahaan ayah padamu dengan tenang” ucap ayah Aditya.


“jangan berdebat denganku tentang hal ini, ayah tidak berhak mengaturku, dan soal perusahaan, berikan saja pada putra kedua ayah, aku tidak ingin memiliki harta ayah sepeserpun, dan aku tegaskan sekali lagi, aku tetap berada di sini di rumah ini karena permintaan bunda, jika tidak sudah lama aku meninggalkan rumah ini” ujar sagara tegas.


“mau jadi apa kamu di luar sana?! Bisa apa kamu tanpa uang dari ayah?! Mau hidup di jalanan? Kamu pikir enak hidup di jalanan?! sudah belasan tahun ayah hidup di jalanan dengan mengais ngais seperti pengemis, sekarang kamu enak bisa hidup mewah tanpa memikirkan tentang makan, hidupnya hanya tinggal menerima warisan ayah, jangan berpikir hidup di jalanan itu enak saga!” bentak ayah Aditya.


Dia yang berasal dari panti asuhan jadi sudah pernah hidup di jalanan hingga ada orang kaya yang mau membiayai hidupnya hingga kuliah, dari sanalah kehidupan Aditya mulai berubah, dia juga memanfaatkan beasiswa yang dia terima, Aditya memang pintar di saat dia masih muda pandai berbisnis dari restoran merambat menjadi hotel dan pariwisata, hingga sekarang dia sudah memiliki banyak hotel hampir terdapat di beberapa kota besar di Indonesia dan ada 2 buah di luar negri, lebih tepatnya di Australia dan singapura.


“Bagaimana saga hidup itu urusan saga, karena selama 16 tahun ayah tidak pernah tau apa yang saga lalui, saga sudah pernah hidup di jalanan, dan saga bahkan pernah menjadi tukang cuci piring di warung hanya untuk makan sepiring nasi, jadi jangan menggurui saga tentang pedihnya hidup di jalanan, saga sudah pernah menjalaninya” ungkap sagara, pria itu lalu berlalu pergi dari hadapan Aditya.


Aditya terdiam, pria itu terduduk dan memijat kepalanya karena kembali berdenyut nyeri. “Bik! bibik!” teriak Aditya memanggil asisten rumah tangga yang bekerja bersamanya sudah hampir belasan tahun.


“Ya tuan besar” jawab asisten rumah tangga itu.


“Katakan padaku bagaimana sagara diperlakukan di rumah ini!” perintah Aditya, pria itu sebenarnya tidak tau apapun bagaimana kehidupan sagara, yang dia tau, dia hanya menyerahkan pada istri dan pembantunya, selebihnya dia hanya mengirimkan uang pada sagara, istrinya dan pembantunya.


“A-anu tuan sejak tuan muda berumur berapa?”


“sejak saga kecil! Saat istriku masih hidup, katakan semuanya!” Perintah Aditya.


“ta-tapi tu-tuan jangan memecat saya ya” ujar asisten rumah tangga itu ketakutan.


Aditya mengernyitkan keningnya bingung dengan ucapan pembantunya, “tidak, jadi Katakan semuanya”


Asisten rumah tangga itu baru mulai menceritakan semua kisah sagara, tentang bagaimana bunda airi yang selalu memarahi putranya dan bahkan membiarkan sagara tidak makan selama beberapa hari, dia bahkan sampai sembunyi sembunyi memberikan makanan pada sagara, semua itu tidak dikatakan para pekerja di sana pada Aditya karena diancam oleh bunda airi serta Riri, kalau mereka mengatakannya maka mereka akan dipecat tanpa pesangon.


...🎄🎄🎄🎄🎄...

__ADS_1


__ADS_2