
“Bijinya masih ada~” terdengar suara rengekkan quinsya.
Cessa tersenyum mendengar suara putrinya yang merengek dari dalam kamar inap, perlahan wanita itu membuka pintu kamar inap Quinsya.
“Manja banget sih putri mami” tegur Cessa dengan senyum lega.
“Mami! Kenapa mami di sini?” tanya Quinsya dengan polosnya.
Cessa duduk di kursi yang baru saja Aryan tinggalkan, wanita itu mencubit gemas pipi Quinsya, “pastinya karena kamu! Bikin mami jantungan aja, dengan adek masuk rumah sakit, adek udah gak apa?”
Quinsya melirik pada sagara lalu memberi kode pada mami cessa, “adek masih sakit, gak ada tenaga mam~” ucap Quinsya dengan manja.
“Ohhh kalau gitu biar mami bantu saga kupaskan buahnya, biar adek banyak makan buah, jadi dapat banyak tenaga” goda Cessa, dia tau putrinya sedang ingin bermanja manja dengan sagara.
“Mam~ mami kan baru datang pasti capek, biar muse aja yang suapi caca ya, ya” pinta gadis itu dengan mata memohon.
“Iya tan, biar saga aja, gak susah kok Cuma ngupas buah aja” ujar sagara, tangan pria itu dengan cekatan mengupas buah pir yang baru saja azmi belikan, dan ada buah kiwi serta buah lainnya, yang sudah siap dimakan Quinsya.
“Jangan nak saga, biar mami aja, mami gak capek kok” Cessa mengambil garpu yang sudah ada buahnya lalu memberikan pada Quinsya.
Pasrah, Quinsya hanya bisa membuka mulut dengan terpaksa saat mami cessa yang sekarang menyuapi nya makan. Sementara itu azmi dan Aryan tertawa pelan melihat wajah cemberut Quinsya.
“Papi mana mi?” mata Quinsya sejak tadi mencari sosok papi rafa yang tidak kelihatan.
“Sedang tanya kondisi adek sama dokter yang menangani”
“Orang adek dah sehat kok, Cuma tinggal tunggu infusnya habis, setelah itu katanya adek boleh pulang” ujar Quinsya.
“Gak boleh, mesti nginap sehari disini, sekalian cek Kesehatan aja” ujar cessa.
“Mi~ adek udah gak sakit lagi, ngapain nginap sih” rengek Quinsya, mata gadis itu menatap cessa dengan lekat, gadis kecil itu tau, bagaimana khawatirnya cessa, terlihat bekas air mata dari sudut mata cessa, sebenarnya Quinsya memang merasa lemas, tapi dia tidak mau memperlihatkan itu pada mami cessa ataupun yang lain, dia tidak mau mami tersayang itu menangis lagi, dulu setiap Quinsya dirawat inap, Quinsya sering mendengar tangisan mami cessa yang menyalahkan dirinya karena Quinsya lahir dengan badan yang lemah, Quinsya sendiri tidak mau melihat kesedihan itu, walaupun sakit gadis itu tidak pernah menangis, dia memang cengeng, tapi jika tentang rasa sakit yang dia rasa, Quinsya tidak pernah menangis. Gadis itu terbiasa dengan rasa sakit, dia terbiasa tertawa agar keluarganya tidak cemas.
__ADS_1
“Gak ada tapi tapian, mami udah minta papi untuk cek semua kondisi tubuh adek, mau tidak mau adek harus cek Kesehatan” ucap tegas mami cessa.
“Kalau gitu belikan adek martabak ya, adek lapar” rengek Quinsya.
“Gak ada martabak! Mami akan masak bubur buat adek, mami ke dapur dulu” Mami cessa langsung beranjak dari duduknya, rumah sakit itu adalah milik Rafa, jadi Cessa bebas keluar masuk ke dapur atau tempat apapun. “Nak saga tolong gantikan mami ya suapin caca” Cessa menyerahkan tugasnya pada sagara.
Tentu saja di sambut baik oleh sagara.
“Iya tan” jawab sagara.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
Beberapa jam kemudian, Amira dan keluarga yang lain juga datang menjenguk Quinsya yang dirawat di rumah sakit. Amira menangis meminta maaf karena dirinya yang telah memberikan minuman berisi obat pada Quinsya.
“Ca~ maaf ya, seharusnya gue beli aja tadi minuman buat lo” isak Amira.
“Udah gak apa, caca masih dirawat karena papi sama mami yang lebay aja” kekeh Quinsya sambil menatap papi rafa dan mami cessa yang duduk di sofa bersama opa harry dan oma Dona.
“Liat kan betapa lebay nya mami gue” ulang Quinsya sekali lagi.
“Itu tandanya mami, sayang sama kamu dek” seru opa harry.
“Ya ampun opa, gimana caca gak bilang lebay, masuk rumah sakit karena sakit perut diare, terus harus dicek seluruhnya, sampai rontgen, dan periksa hal hal lainnya, dokter aja udah bilang caca gak apa” elak Quinsya.
“Nurut apa kata orang tua itu lebih baik, Cuma jalani pemeriksaan lebih lama aja, apa salahnya” balas opa harry.
Quinsya menghela nafas panjang, ”emang kalau pakar keluarga bagaskara caca ampun gak bisa ngelawan” kekeh Quinsya.
“bagaimana pelakunya fa? Sudah kamu hukum mereka?” tanya opa harry.
“Udah pi, tenang aja, rafa udah tarik semua investasi rafa dan semua proyek kerja sama dengan mereka” ujar Rafa.
__ADS_1
“Jadi papi bayar penalty dong? Karena putuskan proyek kerja secara sepihak” tanya azmi.
Quinsya yang lumayan penasaran ikutan melihat papi rafa yang sedang berdiskusi tentang orang yang menyebabkan hal itu padanya.
“Gak masalah rugi di awal, papi ini penentu bagi perusahaannya, kalau papi tidak mau berinvestasi lagi, maka perusahaan perusahaan yang lain juga tidak mau, sudah di pastikan perusahaan mereka akan gulung tikar dalam waktu dekat.
“Tapi pi, itu gak terlalu sadis ya?” celetuk Quinsya.
“Papi sudah memberikan peringatan di awal, dan jika dia tetap berani, apa boleh buat, papi gak akan lagi kasih ampunan” ucap papi rafa dengan tegas.
“apa benar mereka akan runtuh hanya dengan itu pi?” tanya Quinsya penasaran.
“Lihat saja sayang, papi ini bukan orang sembarangan” ujar papi rafa.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
‘plak’ tamparan keras baru saja di layangkan papa Tina pada putrinya sendiri.
“Apa lagi yang kamu lakukan! Kamu tidak tau bagaimana perbuatanmu baru saja membuat papa hancur!” maki papa Tina.
Tina menatap nyalang papa nya, “Apa maksud papa?! Aku tidak melakukan apapun ! aku salah apa pa!” bela tina.
“Salah apa? Dulu pemilik Ar Corporation membatalkan kerja sama secara tiba tiba karena kamu yang membully anaknya, pasti sekarang perusahaan itu menarik semua modal dan membatalkan kerja samanya karena kamu! Apa lagi yang kamu lakukan Tina!” maki papa nya dengan emosi yang sudah membuncah.
“Tidak ada! Tina tidak melakukan apapun!” Tina masih tidak mau mengakui kesalahannya pada sang papa.
“Baik! Jika kamu masih tidak mau mengaku, kemarikan semua hartamu! Ponsel! Kartu kredit! ATM! Dan uang tunai! Serta semua perhiasanmu! Mulai besok kamu tidak boleh menggunakan mobil lagi, papa akan memecat supir kamu dan menjual mobil itu, papa juga akan menjual rumah ini, kita akan hidup miskin mulai besok!” ujar papa Tina.
“Papa! Gak boleh! Ma! Bilang sama papa dengarin tina! Tina gak melakukan apapun kenapa tina yang salah!” pekik tina sambil menangis histeris, jika semua fasilitasnya di ambil bagaimana dia hidup nantinya? Dia gadis yang suka berfoya foya, dia tidak mau terlihat miskin di depan teman temannya.
“Akui semua kesalahanmu, dan dengar kan papa mu, tina” nasehat mama Tina.
__ADS_1
...🌿🌿🌿🌿🌿...