My StuPid Girl

My StuPid Girl
38. Mesra


__ADS_3

Perpustakaan adalah salah satu tempat yang di tuju pada siswa siswi jika ada jam kosong atau waktu istirahat apa lagi disaat ujian sudah mulai dekat. Seperti saat ini Sagara dan Quinsya sedang belajar di perpustakaan sekolah karena ada guru yang sedang sakit.


Perpustakaan sekolah yang lumayan besar dan sangat luas merupakan salah satu fasilitas yang paling bagus di sekolah itu.


“grooookkk grooookkk” terdengar suara ngorok Quinsya, dan itu membuat sagara yang sedang fokus membaca menyunggingkan senyumnya. Benar saat ini si Ratu tidur sudah kelelahan setelah belajar selama 30 menit, merasa pusing dan kelelahan Quinsya akhirnya istirahat sebentar, dengan menjadikan paha Sagara sebagai bantalnya, untung saja pria itu tidak marah, saat ini kedua orang itu berada di sudut perpustakaan sagara yang duduk di lantai dijadikan sebagai bantal Quinsya.


Sagara diam saja saat gadis itu memejamkan mata dan mulai tertidur dengan menjadikan dirinya sebagai bantal, pria itu hanya serius membaca catatan milik Quinsya, merasa tertarik dengan catatan itu karena berisi berbagai macam trik dan penjelasannya sangat mudah. Sagara yakin kedua saudara Quinsya sangat pintar hingga bisa menciptakan buku tutorial semudah itu, Siapa yang menyangka dua pria kembar yang terlihat acuh dengan pelajaran ternyata sangat pintar dan bisa dikatakan jenius, Sagara yakin fani yang dan dwi yang biasanya memperoleh posisi nomor 1 dan 2 akan tersingkir dengan kehadiran dari Azmi dan Aryan.


“grooookkk grooookkk” suara ngorok Quinsya kembali terdengar, untung saja hanya sagara yang mendengarnya, jika tidak maka mereka akan dikeluarkan dari perpustakaan karena membuat keributan. Sagara menunduk untuk melihat wajah gadis yang terlelap di dalam tidurnya, sudut bibir Sagara kembali terangkat membentuk sebuah senyuman, senyuman yang sangat jarang dia tunjukkan pada orang lain kecuali alien dari keluarga tiandra yaitu Alquinsya, alien cantik yang membuat pria itu merasa nyaman. Tangan sagara hendak mengelus pipi Quinsya tapi tiba tiba tangan itu mengepal tidak jadi menyentuh pipi Quinsya dan wajah sagara yang tadinya tersenyum berubah menjadi sedih.


“Lo kok masih mau dekat dengan gue?” tanya sagara dari dalam hatinya. Pria itu ingin sekali menyentuh Quinsya, tapi takut sentuhannya akan membuat gadis itu terluka.


“Caca tidur?” suara Azmi membuyarkan lamunan sagara, pria itu mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat pria yang berdiri di dekatnya.


“Hmm” hanya dehaman yang sagara berikan untuk menjawab Azmi.


“Udah berapa menit dia belajar?” tanya azmi lagi, kali ini pria itu duduk di sebelah sagara.

__ADS_1


Sagara berpikir sebentar, “30 menit” jawab pria itu singkat.


“Hahahha” Azmi tertawa kecil, “udah limit nya ternyata” lanjut pria itu di sela tawa nya.


Sagara sedikit menaikkan alis matanya kebingungan dengan maksud dari ucapan Azmi barusan.


“Dulu gue pernah ceritakan saat ceritakan kalau caca sakit waktu dia masih kecil, dia tidak bisa kelelahan, begitu juga dengan berpikir terlalu keras, belajar termasuk keduanya, dan setiap dia belajar lebih dari 30 menit maka hidungnya akan mengeluarkan darah, dia mimisan, sejak itu caca gak pernah dipaksa untuk belajar, paling belajarnya pakai batas waktu” ungkap azmi tanpa menunggu sagara bertanya dulu, dia tau pria disebelahnya itu penasaran tapi tidak akan bertanya apapun.


“Sekarang bukannya dia sudah sembuh?” akhir nya sagara mengeluarkan suara juga.


“Sudah, tapi mungkin karena terbiasa sejak kecil, jadi jika belajar lebih dari 30 menit dia akan mengeluh pusing dan mengantuk, akhirnya tidur” kekeh Azmi.


“lo suka sama adek gue?” tanya Azmi tiba tiba saat melihat cara Sagara memandang Quinsya.


Sagara kembali mengangkat wajahnya dan menoleh menatap azmi, tidak ada suara yang keluar dari mulut pria itu, wajahnya hanya datar tidak seperti dia memandang Quinsya.


“. . .”

__ADS_1


“Maaf, lupakan pertanyaan gue tadi, gue udah tau jawabannya” ujar azmi cepat karena sagara tidak juga menjawab ucapannya. “HAHHHH! Gue penasaran banget, bodo amat di bilang plin plan, Boleh gue tanya satu hal penting gak, satu aja, bukan soal tadi” sambung azmi sambil mengacak rambutnya frustasi.


“apa?” tanya sagara datar.


“Untuk ke depannya lo ada niat untuk menikah atau berpacaran gak?” tanya Azmi dengan wajah serius. Sebenarnya pria itu mendengar pembicaraan sagara dengan Quinsya di kamar karena azmi memasang alat penyadap di kamar adiknya namun hanya azmi yang mendengarnya karena suara pembicaraan mereka di dengar azmi melalui earphone, putra yang melihat rekaman itu tidak tau sama sekali ada rekaman suara juga.


Sagara menggelengkan kepalanya pelan “Tidak akan pernah” jawab pria itu dingin.


“Baiklah gue mengerti” Azmi berdiri dari tempat dia duduk dan menepuk pelan bahu sagara, “tolong jaga adek gue ya bro” ucapnya sebelum pergi.


Azmi yakin sagara tidak akan menyakiti adiknya, karena pria itu sedang dilemma dengan perasaannya, pria itu yakin sagara memiliki trauma masa kecil dimana dia menganggap dirinya adalah pembawa sial, dari pembicaraan mereka terakhir kali, azmi sudah mencari informasi tentang sagara secara diam diam, dimulai dari keluarga hingga sanak saudara dan para teman, tidak ada satupun wanita yang bisa berdekatan dengan sagara kecuali adiknya quinsya, yang bisa membuat sagara berbicara panjang juga adiknya quinsya, jadi dapat diambil kesimpulan pria itu menganggap quinsya special.


Jika pemikiran azmi salah, pria itu yakin sagara sudah lama bersikap kasar pada Quinsya tapi selama ini azmi tidak pernah melihat sikap kasar sagara pada adiknya, mungkin ada saat pertama kali bertemu, hanya beberapa kata menusuk, pastilah kalau bertemu alien pertama kali seperti Quinsya siapa saja akan bersikap sama dengan yang sagara lakukan. Apa lagi pertemuan pertama caca muntah di depan sagara, itu adalah pertemuan yang sangat tidak terduga.


Mungkin tadi kalau sagara menjawab akan menikah dan berpacaran azmi akan menjauhkan Quinsya dari sagara, karena pria itu terlihat seperti mempermainkan Quinsya, tapi jawaban sagara membuat azmi membiarkan pria itu tetap bersama Quinsya, seiring waktu berjalan Quinsya si alien dari keluarga Tiandra pasti bisa menyembuhkan luka hati yang sagara terima selama ini, sekarang masalahnya hanya pada putra, sahabat kecil azmi yang sangat menyukai Quinsya dan mengidolakannya, sebenarnya ada satu pria lagi, tapi azmi yakin hal itu tidak mungkin karena mereka terpaut hubungan saudara, pasti cinta pria itu adalah cinta pada adik bukan?


“Urusan putra biar gue yang selesaikan” gumam Azmi pelan sambil terus melangkahkan kakinya untuk berjalan keluar dari perpustakaan.

__ADS_1


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Terima kasih untuk dukungannya, jangan lupa tetap dukung author dengan cara like, vote dan hadiahnya ya


__ADS_2