
Keesokan harinya, cahaya matahari pagi yang sangat hangat mulai menyinari setiap daratan yang ada di dunia kultivator, khususnya benua biru bagian tengah, Lin Feng mulai membuka matanya secara perlahan-lahan saat sinar matahari pagi yang hangat menyentuh wajahnya.
Lin Feng tidak langsung bangkit dan berolah raga seperti biasanya, melainkan menatap indahnya langit biru yang dihiasi oleh awan putih, meskipun wajahnya nampak tenang dan tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Lin Feng menyimpan kesedihan yang sangat mendalam.
"Meskipun hanya mimpi, tapi aku benar-benar bahagia karena telah bertemu dengan kalian" gumam Lin Feng.
Di dalam ruang jiwa Lin Feng, Huise yang sebelumnya ingin menyampaikan tentang kedatangan tiga sosok misterius kepada Lin Feng, langsung mengurungkan niatnya, saat melihat raut wajah Lin Feng yang tidak bisa diartikan, selain itu, Huise juga bisa merasakan adanya kesedihan dan kebahagiaan disaat yang bersamaan.
"Tuan, maaf jika aku lancang, tapi apa yang sedang tuan pikirkan?" tanya Huise.
"Bukan apa-apa Huise, aku hanya sedang merindukan keluargaku" jawab Lin Feng.
"Huise..." panggil Lin Feng.
"Iya tuan, ada apa?!" tanya Huise.
"Apakah aku harus mengubah sikapku?" tanya Lin Feng
"Berubah atau tidaknya, semua tergantung pada tuan dan aku akan tetap mendukung apapun keputusan tuan" jawab Huise.
"Terimakasih, kalau begitu sekarang kita akan berangkat menuju ke negeri awan" ucap Lin Feng.
Lin Feng kemudian mengeluarkan sepasang sayap Phoenix di punggungnya, setelah itu, Lin Feng langsung melesat terbang meninggalkan hutan tersebut dengan kecepatan tinggi sampai menembus awan. Sesuai dengan arahan Huise, Lin Feng kemudian terbang menuju ke arah selatan untuk mencari keberadaan negeri awan.
***
Di istana kekaisaran Luo, seorang pria yang berpakaian layaknya Assassin tiba-tiba saja muncul di hadapan semua orang yang ada di sana, kemunculan pria misterius tersebut membuat mereka semua sangat kaget, bahkan mereka sampai langsung beranjak dari tempat duduknya untuk melindungi Luo Ming An.
"Siapa kau!?" tanya salah satu petinggi istana.
"Jangan bicara lagi, habisi saja dia karena telah menyusup sembarangan!" ujar petinggi lainnya.
__ADS_1
"Harap tenang para petinggi sekalian, dia bukanlah musuh, melainkan mata-mataku yang ada di kekaisaran Qian" ucap Luo Ming An menenangkan semua orang.
Setelah mendengar perkataan Luo Ming An, para petinggi akhirnya menghela nafas lega, karena mereka sempat berpikir bahwa pria tersebut adalah Assassin yang dikirim untuk membunuh kaisar, tidak lama kemudian, para petinggi istana langsung kembali ketempat duduk mereka masing-masing.
"Maaf karena kedatanganku telah mengagetkan para petinggi sekalian, tapi itu aku lakukan karena ada sesuatu yang sangat penting yang ingin aku sampaikan" ucap pria tersebut.
"Memangnya berita penting apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Luo Ming An.
"Begini yang mulia, kaisar Qian Zhi Dao akan melakukan penyerangan terhadap kekaisaran kita" jawab pria tersebut.
"Apa kau yakin dengan hal itu?" tanya salah satu petinggi istana.
"Aku sangat yakin, karena aku mendengarkan pembicaraan mereka secara langsung, tapi mereka tidak akan melakukan serangan dalam waktu dekat, karena sekarang mereka sedang menambah kekuatan mereka, selain itu mereka juga menantikan kehadiran seseorang" jawab pria tersebut.
"Seseorang? Memangnya siapa?" tanya Luo Ming An.
"Aku juga tidak mengetahui dengan jelas, karena pada saat itu penyamaran ku hampir diketahui oleh para prajurit, tapi yang pasti dia adalah orang yang sangat kuat" jawab pria tersebut.
"Baik yang mulia!" ujar pria tersebut, kemudian menghilang dari hadapan mereka semua.
Setelah pria tersebut menghilang, raut wajah Luo Ming An tiba-tiba saja berubah, dia yang sebelumnya nampak tenang dan biasa saja, sekarang nampak sangat serius, tangannya nampak sedikit bergetar karena menahan amarah yang bisa meledak kapan saja.
"Kaisar Qian Zhi Dao, kali ini aku pasti akan membunuhmu!" ucap Luo Ming An geram.
"Yang mulia, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya salah satu petinggi istana.
"Kita tidak bisa berdiam diri dan menunggu mereka datang menyerang kita, kita juga harus melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan mereka" jawab Luo Ming An.
"Jendral Ye Xuan, perintahkan para pasukan untuk meningkatkan penjagaan, jangan biarkan musuh sampai menyusup ke ibukota kekaisaran, kalau ada yang mencurigakan segera laporkan padaku" ucap Luo Ming An.
"Baik yang mulia" jawab jendral Ye Xuan. Setelah itu, jendral Ye Xuan langsung pergi meninggalkan istana untuk menjalankan perintah Luo Ming An.
__ADS_1
***
Sementara itu, di atas awan. Lin Feng masih nampak terbang dengan kecepatan tinggi sambil terus mencari keberadaan negeri awan, namun setelah berjam-jam berlalu, Lin Feng masih belum berhasil menemukan dimana keberadaan negeri awan tersebut.
Selang beberapa menit, Lin Feng melihat dua orang kultivator yang sedang terbang didepannya, Lin Feng kemudian menghampiri kedua kultivator tersebut untuk bertanya kepada mereka berdua. Akan tetapi, kedatangan Lin Feng justru disambut dengan tatapan aneh dari mereka berdua.
"Siapa kau bocah! Kenapa kau menghentikan perjalanan kami?" tanya salah satu kultivator sinis.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu kalian, aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepada kalian berdua" jawab Lin Feng, sambil mencoba untuk bersikap ramah.
"Apa yang mau kau tanyakan?" tanya yang lainnya.
"Apa kalian berdua mengetahui dimana negeri awan berada?" tanya Lin Feng.
"Tentu saja kami mengetahuinya, karena kami berdua juga akan ke sana" jawab kultivator tersebut.
"Baguslah, kalau begitu bisakah aku mengikuti kalian?" tanya Lin Feng.
"Bisa saja, asalkan kau memberikan kami bayaran yang besar, atau kalau kau mau, kau juga bisa memberikan cincin penyimpanan mu" jawab yang lainnya.
Lin Feng kemudian menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak menyangka bahwa akan ada yang mencoba untuk memerasnya lagi, meskipun Lin Feng sangat ingin mengetahui dimana letak negeri awan, tapi Lin Feng tidak mungkin mau ditindas begitu saja.
Swush... Lin Feng langsung melepaskan aura dewa kematian dari tubuhnya secara tiba-tiba, sehingga membuat kedua pria tersebut gemetaran dan merasakan tekanan intimidasi yang sangat besar dan mengerikan, mereka berdua sebenarnya adalah kultivator ranah Tyrant, tapi di hadapan aura dewa kematian Lin Feng, mereka bukanlah apa-apa.
"Karena aku sangat ingin pergi ke negeri awan, maka aku tidak akan membuat masalah dengan kalian. Tapi, kalau kalian masih menginginkan bayaran maka..."
"Ti-tidak perlu, kami akan mengantarmu tanpa bayaran apapun" ujar salah satu pria tersebut, memotong perkataan Lin Feng.
"Terimakasih, kalian sangat baik, kalau begitu mari kita berangkat sekarang" ajak Lin Feng, kemudian menarik kembali aura dewa kematiannya.
"Ba-baik" ucap mereka berdua serempak.
__ADS_1