Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-397. Kesedihan Mei Yin & Penantian Luo Ning


__ADS_3

Setelah berada di kota Jiesi selama beberapa hari, Lin Feng akhirnya memutuskan untuk kembali ke benua Timur, karena ia harus segera melakukan persiapan untuk peperangan melawan Yama yang akan terjadi tidak akan lama lagi. Kepergian Lin Feng tentu saja membuat Mei Yin sangat sedih, karena ia masih sangat ingin bersama Lin Feng.


Meski begitu, ia juga tidak mungkin menahan Lin Feng untuk selalu berada di sisinya setiap waktu, karena Mei Yin sendiri juga mengerti jika Lin Feng adalah pemuda yang bebas dan tidak suka terkekang oleh sesuatu. Akan tetapi, sebelum benar-benar melepas kepergian Lin Feng, Mei Yin sudah bertekad untuk menyatakan perasaannya, ia tidak peduli apakah akan diterima atau tidak, yang jelas ia harus mengatakannya.


Di gerbang kota Jiesi.


Beberapa orang paling berpengaruh di kota Jiesi nampak sedang berkumpul di depan gerbang, mereka adalah Li Haochun dan kedua anaknya, Wu Bian dan putranya, lalu Mei Yin dan terakhir tuan Hao, mereka sengaja berkumpul di sana karena ingin melepaskan kepergian Lin Feng, yang akan segera kembali ke benua timur.


"Lin Feng, jika ada waktu datanglah lagi ke kotaku" ucap Li Haochun.


"Kakak, kami akan menunggumu di sini, jadi jangan lupa untuk datang berkunjung!" ujar Li Wei dan Li Zhan serempak.


"Hati-hatilah diperjalanan nanti, jika membutuhkan sesuatu, selama kau berada di wilayah kekaisaran Tang, kami pasti akan membantu" ucap Wu Bian.


"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, karena kau adalah penyelamat hidupku, terimakasih saudaraku" sahut Wu Xiang.


"Tuan muda, jika senjata anda rusak atau membutuhkan senjata baru, aku akan selalu ada di sini" ujar tuan Hao.


"Terimakasih semuanya, kalian benar-benar sangat baik padaku" jawab Lin Feng.


Semua orang yang ada di sana telah menyampaikan apa yang ingin mereka katakan pada Lin Feng, kecuali Mei Yin yang masih nampak diam dan menundukkan kepalanya, ia benar-benar merasa gugup dan ragu, bahkan dia tidak tahu harus memulai kata-katanya dari mana, karena selama ini ia belum pernah mengungkapkan perasaannya kepada pria manapun.


Setelah mengungkapkan keberanian, Mei Yin kemudian mengangkat wajahnya, lalu menatap wajah Lin Feng. "Lin..." Baru saja Mei Yin ingin berbicara, tapi perkataannya sudah dipotong oleh Li Wei.


"Kakak, apa kau sudah menikah?" tanya Li Wei.

__ADS_1


Mei Yin sebelumnya merasa sangat kesal dan ingin marah pada Li Wei, namun setelah mendengar pertanyaan Li Wei, ia justru merasa penasaran dan sangat ingin mendengar jawaban pertanyaan tersebut, tapi ia juga telah mempersiapkan diri untuk mendengar jawaban yang sangat tidak ingin dia dengar dari Lin Feng.


"Belum, aku belum menikah" jawab Lin Feng.


Raut wajah Mei Yin yang sebelumnya nampak tegang dan gugup, langsung berubah ceria setelah mendengar jawaban Lin Feng, ia bahkan sangat bahagia ketika mengetahui jika Lin Feng belum menikah, tapi kebahagiaannya langsung hancur ketika Lin Feng melanjutkan perkataannya.


"Tapi aku sudah bertunangan dan akan segera menikah" jawab Lin Feng.


Degh... Seketika itu juga, Mei Yin merasakan sesak dalam dadanya, seluruh tubuhnya terasa lemas, bahkan tangan dan kakinya nampak sedikit bergetar, jika Mei Yin tidak bisa mengontrol dirinya, mungkin ia sudah terjatuh karena kakinya sudah telalu lemah dan tidak sanggup lagi untuk menahan beban tubuhnya sendiri. Meski begitu, ia masih berusaha untuk tersenyum, seolah-olah ikut bahagia mendengar berita tersebut.


"Kami turut bahagia mendengarnya, ingatlah untuk mengundang kami saat kau menikah nanti" ucap Li Haochun.


"Pasti!" jawab Lin Feng singkat.


"Tunangan mu pastilah gadis yang sangat cantik, dia benar-benar beruntung karena berhasil mendapatkan pemuda sepertimu" ujar Mei Yin, ia kemudian tersenyum senang kepada Lin Feng, tapi hatinya, hanya dia sendirilah yang tahu.


Setelah cukup jauh dari kota Jiesi, Huise yang semula diam tiba-tiba saja berbicara dari dalam ruang jiwa Lin Feng. "Tuan..."


"Aku tahu, aku sengaja mengatakan tentang pertunangan ku dengan Luo Ning, agar dia tidak terlalu berharap, lagipula lebih baik aku mengatakan yang sejujurnya daripada aku diam dan malah akan membuatnya lebih terluka lagi" ujar Lin Feng, yang tentunya sudah mengerti apa yang ingin Huise katakan.


"Baik tuan, aku mengerti" jawab Huise.


***


Di daratan suci, istana kerajaan dewa petir.

__ADS_1


Keadaan Luo Ning benar-benar sangat memprihatikan, tubuhnya terlihat kurus, wajah cantik serta kulitnya terlihat pucat karena terus-terusan disiksa oleh prajurit dewa petir, di sekujur tubuhnya juga terdapat begitu banyak luka dan lebam bekas cambukan. Meski begitu, kecantikan Luo Ning tidak memudar sedikitpun.


"Luo Ning, apa kau tidak lelah terus-terusan disiksa seperti ini? Kami saja yang menyiksamu merasa sangat lelah dan bosan, tapi kenapa kau masih bisa bertahan dengan egomu itu?" tanya salah seorang prajurit.


"Kalian semua akan mendapatkan balasannya, setelah dia datang, tidak akan ada seorangpun yang bisa menyelamatkan kalian dari kematian" jawab Luo Ning dengan suara serak.


"Dia, dia dan dia, setiap diberi pertanyaan kau menjawab dengan menyebut dia, memangnya dia itu siapa? Meskipun dia hebat, dia bukanlah tandingan yang mulia!" ujar prajurit yang sebelumnya bertanya.


Tidak lama kemudian, dewa petir datang ke ruangan dimana Luo Ning di tahan, ketika ia datang para prajurit langsung memberikan hormat padanya, namun ia mengabaikan mereka dan langsung mendekati Luo Ning, lalu berkata dengan sedih. "Luo Ning, guru benar-benar tidak tega melihat kecantikan mu harus rusak karena hukuman ini, jadi terimalah tawaran guru dan kau akan..."


"Kau bukan guruku dan aku tidak akan mau menuruti keinginanmu!" ujar Luo Ning memotong perkataan dewa petir.


"Hahahaha! Ternyata kau masih saja keras kepala, aku benar-benar bingung denganmu, kenapa kau lebih memilih disiksa daripada menuruti keinginanku?" tanya dewa petir.


"Akan lebih baik aku mati disiksa di sini daripada menuruti keinginanmu, karena siksaan yang aku dapatkan akan dibalas olehnya dengan berkali-kali lipat" jawab Luo Ning.


"Dia, selalu saja dia yang kau bicarakan, bisakah kau beritahu aku siapa dia yang kau maksud itu?" tanya dewa petir.


"Kau tidak perlu tahu, karena dia sendiri yang akan datang padamu" jawab Luo Ning.


Dewa petir terdiam selama beberapa saat, lalu tiba-tiba saja ia tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Apa kau pikir dia yang kau maksud itu bisa mengalahkan ku? Tapi baiklah, aku akan menanti kedatangannya dan akan menyambutnya dengan sambutan yang paling meriah" ucap dewa petir.


"Silahkan saja, karena saat kau menyambutnya, sama saja dengan kau menyambut kematian mu sendiri" ujar Luo Ning.


"Lin Feng, aku berjuang menahan semua ini hanya untukmu, semoga kau juga merasakan apa yang aku rasakan sekarang dan semoga saja, hatimu memanglah untukku" Luo Ning berbicara dalam hatinya, tanpa disadari air matanya menetes dan jatuh ke lantai.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, Lin Feng yang sedang melesat terbang untuk kembali ke benua Timur, tiba-tiba saja terhenti karena merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, bahkan jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan cepat. Dan untuk sesaat, ia seperti mendengar suara Luo Ning sedang memanggilnya. "Luo Ning, tunggulah sebentar lagi" Lin Feng bergumam pelan, kemudian melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2