
Bersamaan dengan menghilangnya Lin Feng dari tempat tersebut, aura intimidasi yang sebelumnya menindas semua orang juga langsung menghilang, sehingga membuat semua orang bisa menghela nafas dengan lega lagi. Meski aura yang menindas mereka sudah tidak ada lagi, tapi entah kenapa tidak ada satupun dari mereka yang merasa bahagia.
Orang-orang yang ada di kota menunjukkan kesedihannya masing-masing, karena begitu banyak prajurit yang menjadi korban keganasan Lin Feng dan Huise, bahkan kesedihan mereka semakin bertambah setelah mengetahui identitas Lin Feng yang sebenarnya, yang tidak lain adalah putra dari Yuan Long. Meski Yuan Long telah menghilang selama bertahun-tahun, tapi kebaikan dan kehebatannya masih melekat dengan jelas di hati mereka semua.
Kesedihan yang sama juga dirasakan oleh Yuan Chun Zhe, dia benar-benar menyesal karena telah berusaha untuk menghentikan cucunya membalaskan dendam ayahnya, meski Yuan Chun Zhe sudah lama menghilang dari kekaisaran Yuan, tapi dia juga sudah mengetahui seperti apa perlakuan Yuan Haochun, yang selalu tergiur dengan harta dan kekuasaan.
"Apa keputusanku waktu itu salah?" tanya Yuan Chun Zhe pada dirinya sendiri.
Ada rasa penyesalan yang sangat mendalam di hati Yuan Chun Zhe, andaikan saja waktu itu dia tidak memutuskan untuk pergi, mungkin tidak akan pernah ada kejadian seperti sekarang ini. Tapi kepergian Yuan Chun Zhe waktu itu juga bukan tanpa alasan, dia ingin meningkatkan kekuatannya dengan cara melakukan latihan tertutup, agar dia masih bisa melindungi kekaisaran Yuan nantinya, walaupun dia sudah tidak duduk di tahta kekaisaran.
Dengan perasaan sedih dan menyesal, Yuan Chun Zhe kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut, Yuan Chun Zhe bahkan tidak menghiraukan Yuan Haochun yang sedang merintih kesakitan. Akan tapi langkah kakinya terpaksa harus ia hentikan setelah Yuan Haochun memanggilnya.
"A-ayah, jangan tinggalkan aku sendirian, bagaimanapun juga, ayah harus membalaskan dendam ku pada bocah itu!" ujar Yuan Haochun, dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan jika dirinya sekarang hanyalah sampah tak berguna.
"Membalaskan dendam mu? Apa kau pikir aku bodoh?! Dia adalah cucuku, tidak mungkin aku mau melawannya. Lagipula, semua ini adalah akibat dari perbuatan mu sendiri!" Yuan Chun Zhe menatap sinis pada Yuan Haochun, lalu menghilang dari tempat tersebut.
Yuan Haochun membeku mendengar perkataan ayahnya, padahal hanya ayahnya saja yang menjadi satu-satunya harapan bagi Yuan Haochun untuk membalaskan dendamnya, tapi siapa sangka? Ayahnya sendiri malah mendukung keputusan Lin Feng yang telah menghancurkan kultivasinya.
***
Ditempat yang tidak terlalu jauh dari ibukota kekaisaran, Lin Feng sedang duduk termenung sambil menggenggam pedang dewa naga ditangannya, armor naga yang melindungi tubuhnya telah ia lepas dan ia simpan kembali di dalam cincin penyimpanannya. Sedangkan Huise, ia telah berubah menjadi manusia lagi dan hanya berdiri dengan setia dibelakang Lin Feng, tanpa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Yuan Chun Zhe muncul cukup jauh dari mereka berdua, lalu ia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Lin Feng dan Huise. Lin Feng yang sedang duduk termenung tiba-tiba saja tersenyum, seolah-olah sudah mengetahui bahwa Yuan Chun Zhe akan datang menemuinya. Akan tetapi, Lin Feng tidak memandang Yuan Chun Zhe sama sekali, karena Lin Feng masih sangat kecewa dengan kakeknya itu.
"Jadi, apa kakek memutuskan untuk membalaskan dendam putra kesayangan kakek?" tanya Lin Feng, ketika Yuan Chun Zhe telah berada di hadapannya.
"Tidak cucuku, kakek tidak akan melakukan itu padamu, kakek datang ke sini hanya ingin bertemu dengan cucu kakek" jawab Yuan Chun Zhe.
"Lalu, kenapa tadi kakek menghentikan ku?" Lin Feng memberikan pertanyaan seolah-olah sedang menginterogasi kakeknya sendiri.
"Cucuku, sebagai seorang ayah, tentu saja kakek tidak tega melihat anak kakek celaka, meski sifatnya tidak seperti ayahmu, tapi dia tetaplah anak kakek" jawab Yuan Chun Zhe.
"Kakek juga minta maaf padamu, karena kakek benar-benar tidak mengetahui apa yang telah terjadi sejak kakek memutuskan untuk melakukan latihan tertutup" lanjutnya.
"Dan aku tidak akan menceritakannya kepada kakek, karena menceritakan semua itu hanya akan membuatku semakin membenci Yuan Haochun" Lin Feng tidak lagi memanggil Yuan Haochun dengan sebutan paman, karena menurutnya, Yuan Haochun sangat tidak pantas untuk mendapatkan kehormatan dengan disebut sebagai paman.
"Dia bukan pamanku, dia tidak pantas untuk itu!" ujar Lin Feng.
Yuan Chun Zhe menghembuskan nafas panjang, dia mengerti kenapa Lin Feng bersikap seperti itu, terlebih setelah mengetahui apa yang terjadi pada ayahnya. "Baiklah, jika kau tidak suka kakek berada di sini, maka kakek akan pergi saja" ucap Yuan Chun Zhe, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu!" ujar Lin Feng, yang membuat Yuan Chun Zhe langsung menghentikan langkahnya, lalu menghadap ke arah Lin Feng.
"Kakek, namaku Lin Feng" Lin Feng menyebutkan namanya, lalu tersenyum pada Yuan Chun Zhe.
__ADS_1
"Terimakasih, cucuku!" Yuan Chun Zhe benar-benar sangat bahagia ketika Lin Feng memperkenankan dirinya.
Sejak datang menghampiri Lin Feng, Yuan Chun Zhe sebenarnya ingin sekali menanyakan nama Lin Feng, tapi Yuan Chun Zhe tidak berani melakukannya. Karena, Yuan Chun Zhe merasa tidak pantas baginya untuk mengetahui nama Lin Feng, terlepas dari semua yang telah terjadi pada ayah Lin Feng selama ini. Tapi siapa sangka, Lin Feng malah memperkenalkan dirinya sendiri, yang menandakan bahwa Lin Feng tidak benar-benar membenci dirinya.
"Tuan, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Huise.
"Kita akan kembali ke benua timur" jawab Lin Feng.
"Lalu bagaimana dengan kekaisaran Yuan, tuan?" tanya Huise.
"Aku tidak akan menghancurkannya, karena aku yakin ayah juga tidak akan setuju dengan itu. Lalu, aku juga masih memiliki kakek di sana, meski aku sempat merasa kecewa dengannya, tapi dia tetaplah kakek ku" jawab Lin Feng
"Baik tuan!" ujar Huise.
***
Di istana dewa petir, tepatnya di penjara petir abadi tempat Luo Ning di tahan.
Suara gemuruh petir terus terdengar dari ruangan penjara, suara yang berasal dari setiap cambukan yang mengenai tubuh indah Luo Ning. Sejak dirinya di seret dan ditahan dalam penjara petir abadi, Luo Ning selalu mendapatkan siksaan dengan cara dicambuk oleh para prajurit dewa petir, beruntung cambukan mereka tidak terlalu menyakiti dirinya, karena tubuhnya masih dilindungi oleh kekuatan tubuh petir surga.
"Benar-benar tidak seru, padahal aku sangat menantikan suara jeritan yang sangat keras darinya" ucap salah seorang prajurit.
__ADS_1
"Sudahlah, lakukan saja tugasmu, atau kau yang akan mendapatkan hukuman dari yang mulia!" ujar prajurit lainnya.
Luo Ning tidak menghiraukan perkataan para prajurit tersebut, bahkan ia sama sekali tidak menghiraukan rasa sakit dari setiap cambukan yang mengenai tubuhnya, yang Luo Ning pikirkan saat ini hanyalah kebodohannya yang telah percaya dengan perkataan dewa petir, jika bukan karena dewa petir, mungkin kekuatan petir surga tidak akan tersegel seperti sekarang.