
Tiga hari kemudian.
Setelah tinggal di istana kekaisaran Luo selama tiga hari, Lin Jianheeng akhirnya memutuskan untuk kembali ke benua Timur, karena mereka tidak bisa tinggal lebih lama lagi, bukan karena merasa tidak nyaman berada di sana, tapi karena ia tidak bisa meninggalkan kota Zuanshi terlalu lama, terlebih lagi, Feng Jing Quo juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan ibukota kekaisaran Feng.
Luo Ming An nampak tidak rela akan kepergian mereka semua, karena kehadiran mereka di istana kekaisaran Luo, berhasil membuat suasana istana terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Selain itu, Luo Ming An juga sudah sangat akrab dengan mereka semua, bahkan ia sudah menganggap Lin Jianheeng, Feng Jing Quo dan Liu Changhai sebagai saudaranya sendiri, tapi Luo Ming An juga tidak bisa memaksa mereka untuk tetap tinggal, karena mereka masih memiliki urusan lain yang harus di selesaikan.
"Sebenarnya aku sangat sedih karena kalian akan kembali hari ini, tapi aku juga tidak bisa menahan kalian lebih lama lagi" ucap Luo Ming An.
"Saudara Luo, anda tenang saja, jika ada kesempatan, maka kami akan meluangkan waktu untuk datang ke sini" jawab Feng Jing Quo.
"Itu benar, kami pasti akan datang ke sini lagi" Liu Changhai menambahkan.
"Baiklah, kapanpun kalian mau datang, gerbang kekaisaran Luo pasti akan selalu terbuka untuk kalian" ujar Luo Ming An.
"Terimakasih saudara Luo" ucap Lin Jianheeng.
Setelah itu, Luo Ming An langsung mengantar mereka semua sampai ke gerbang ibukota, karena sebelumnya ia telah menyambut kedatangan mereka di sana, jadi ia harus melepaskan kepergian mereka di gerbang ibukota juga. Ketika mereka telah sampai di luar gerbang ibukota, Feng Jing Quo kemudian memanggil para Beast burung yang merupakan tunggangan mereka sebelumnya.
"Saudara Luo, kami pergi sekarang" ucap Feng Jing Quo.
"Baiklah, ingatlah untuk datang ke sini lagi" jawab Luo Ming An.
"Itu sudah pasti!" ujar Feng Jing Quo.
Setelah berpamitan, Feng Jing Quo dan yang lainnya langsung naik ke punggung para Beast burung tersebut, namun tidak dengan Lin Feng yang masih berdiri di samping Luo Ming An. "Feng'er, kenapa kau tidak naik?" tanya Lin Hua.
__ADS_1
"Aku masih ingin di sini, Bu. Karena masih ada hal yang harus aku lakukan di sini" jawab Lin Feng.
"Baikalah, kalau begitu ibu mengizinkanmu untuk tinggal di sini, tapi setelah urusanmu selesai, kau harus segera kembali ke benua Timur. Dan ingatlah, jangan membuat masalah apapun selama kau berada di sini" ucap Lin Hua.
"Ibu tenang saja, aku tidak akan membuat masalah apapun" jawab Lin Feng, kemudian tersenyum lembut pada ibunya.
"Baguslah, ibu senang mendengarnya" ucap Lin Hua, kemudian mereka semua langsung kembali ke benua Timur.
Tidak lama setelah mereka semua pergi, senyuman indah di bibir Lin Feng langsung menghilang seketika itu juga, tatapan mata yang sebelumnya terlihat sangat tenang, sekarang justru berubah tajam lagi, bahkan Luo Ming An sangat terkejut ketika melihat tatapan mata Lin Feng yang sangat tajam dan tentunya, tatapan tersebut berhasil membuatnya bergidik, padahal sudah sangat jelas jika tatapan tajam Lin Feng bukanlah untuknya.
Selain itu, Luo Ming An juga tiba-tiba saja memikirkan beberapa kemungkinan buruk yang akan terjadi, misalnya seperti Lin Feng akan menghancurkan ibukota kekaisaran Luo, dengan alasan kesal karena tidak berhasil membunuh kaisar Tang, lalu karena rasa kesal itulah, Lin Feng akan menghancurkan ibukota kekaisaran Luo sebagai pelampiasan kekesalannya. Padahal, Lin Feng tidak memikirkan hal itu sama sekali.
"Aku akan menyerang ibukota kekaisarannya Tang dan akan melenyapkan kaisar Yang serta seluruh keluarganya" ucap Lin Feng, ia akhirnya berbicara setelah terdiam cukup lama.
Luo Ming An akhirnya menghela nafas lega, setelah menyadari jika pikiran buruknya tentang Lin Feng tidaklah benar "Apa kau membutuhkan pasukan?" tanya Luo Ming An.
"Jika tidak membutuhkan pasukan, lalu kenapa kau memberitahuku tentang rencana mu itu?" tanya Luo Ming An.
"Bukan apa-apa" jawab Lin Feng singkat.
"Baiklah... Tunggu dulu, bukankah sekarang kau harus memanggilku ayah? Karena kau dan Ning'er akan menikah sebentar lagi" ucap Luo Ming An.
"Tidak, karena kami masih belum menikah" jawab Lin Feng.
"Meski begitu, kalian akan tetap menikah nantinya, jadi kau tetap harus memanggilku ayah, jadi tidak ada salahnya jika kau belajar dari sekarang" ucap Luo Ming An, entah kenapa dia sangat senang saat memikirkan jika Lin Feng akan memanggilnya dengan sebutan ayah.
__ADS_1
"Tidak!" jawab Lin Feng singkat.
"Hahahaha! Tidak perlu malu-malu, karena tidak ada seorangpun yang akan mengetahuinya" ujar Luo Ming An, ia masih terus berusaha untuk membujuk Lin Feng, tapi jawaban Lin Feng tetap sama seperti sebelumnya.
"Sudahlah, aku juga akan pergi sekarang!" ucap Lin Feng.
"Baiklah, kalau begitu kau harus berhati-hati, jika kau membutuhkan bantuan, aku dan pasukan ku akan siap membantu" jawab Luo Ming An.
"Terimakasih!" jawab Lin Feng, kemudian melesat terbang meninggalkan ibukota kekaisaran Luo.
***
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa hari, Tang Hao Yun serta rombongannya akhirnya sampai di ibukota kekaisaran Tang di benua Utara. Setibanya di istana kekaisaran, Tang Hao Yun langsung mengadakan pertemuan dengan para petinggi istana, karena ia harus segera menyusun rencana untuk membalaskan dendam putranya.
Para petinggi istana terlihat sangat marah ketika mereka mengetahui jika pangeran mahkota telah mati, bahkan amarah mereka semakin bertambah setelah melihat tubuh pangeran mahkota yang telah terpotong-potong oleh Lin Feng. Pada akhirnya, seluruh petinggi istana kekaisaran langsung setuju untuk membalaskan kematian pangeran mahkota.
"Yang mulia, kita tidak bisa diam saja, bagaimanapun caranya, kita harus membalaskan perbuatan mereka!" ujar salah seorang petinggi istana.
"Aku juga setuju yang mulia, bahkan kita harus membalas perbuatan mereka dengan berkali-kali lipat!" ucap yang lainnya menambahkan.
"Aku tahu itu! Tujuh hari lagi kita akan berangkat ke benua timur untuk menyerang kekaisaran Feng" jawab Tang Hao Yun.
"Kenapa harus menunggu selama tujuh hari lagi yang mulia? Kenapa tidak besok saja?" tanya petinggi istana yang lainnya.
"Aku juga ingin membalaskan dendam ini secepat mungkin, bahkan aku ingin menyerang mereka sekarang juga! Tapi kita tidak bisa melakukan hal itu, karena yang harus kita lakukan sekarang adalah menguburkan mayat putraku!" jawab Tang Hao Yun.
__ADS_1
"Baik yang mulia!" jawab para petinggi istana serempak.
Setelah pertemuan singkat tersebut berakhir, Tang Hao Yun bersama seluruh petinggi istana langsung menguburkan mayat Tang Ming, lalu Tang Hao Yun juga meminta salah seorang petinggi istana untuk menyebarkan berita tentang kematian putra mahkota ke seluruh wilayah kekaisaran.