
Lin Feng kemudian berjalan menghampiri naga hitam yang sedang tergeletak di tanah, karena terjatuh akibat ledakan yang disebabkan oleh serangan Lin Feng sebelumnya. Ketika melihat Lin Feng yang sedang berjalan mendekatinya, naga hitam kemudian mencoba untuk menghembuskan nafas apinya lagi, namun sayangnya ia tidak bisa melakukan itu.
Naga hitam lalu menyerang Lin Feng dengan mengibaskan ekornya, tapi serangan itu berhasil dihindari dengan mudah oleh Lin Feng, karena selain gerakannya yang sangat lambat, serangan tersebut juga tidak bertenaga, karena tubuh naga hitam tiba-tiba menjadi lemas sejak terkena serangan Lin Feng, bahkan tenaganya perlahan-lahan mulai menghilang dari tubuhnya.
Setelah sampai di hadapan naga hitam, Lin Feng memberikan tatapan tajam dan sangat mengerikan pada naga tersebut, namun naga hitam tidak terlihat takut sama sekali, ia justru membalas tatapan tajam Lin Feng dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Sama seperti Lin Feng yang sangat membencinya, begitu juga sebaliknya, naga hitam juga sangat membenci Lin Feng, namun sayangnya tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan lagi, selain menyimpan kebencian tersebut.
"Tidak ada gunanya kau membenciku, karena yang menciptakan kebencian ini adalah kalian sendiri!" ucap Lin Feng, kemudian berjalan melewati kepala naga hitam, lalu berhenti di dekat tubuhnya yang ditutupi dengan kedua sayapnya.
Setelah itu, Lin Feng langsung memotong sayap naga tersebut dengan pedang emas hitam, namun kali ini Lin Feng menggunakan teknik pedang hampa untuk memotong sayap naga tersebut, karena tubuh naga tersebut tidak akan terluka sedikitpun jika hanya menggunakan tebasan biasa saja. Setelah berhasil memotong sayap naga hitam, Lin Feng kemudian menyentuh tubuh naga tersebut dengan telapak tangannya.
Ketika telapak tangannya menyentuh tubuh naga tersebut, Lin Feng langsung merasakan adanya energi yang sangat besar di dalam tubuh naga hitam, energi tersebut sama persis dengan energi yang ia rasakan dari naga api hitam. Setelah cukup lama menyentuh tubuh naga tersebut, Lin Feng kemudian menarik tangannya lagi, namun saat itu juga, naga hitam langsung menyerang Lin Feng dengan cakarnya.
Beruntung Lin Feng bisa menyadari serangan itu, sehingga ia bisa menghindarinya dan langsung memotong tangan naga tersebut, jika Lin Feng terlambat menyadari serangan naga hitam, pastinya dia akan terlempar cukup lagi jauh karenanya. Dan karena tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali, Lin Feng akhirnya memotong tangan dan kaki naga hitam tersebut, bahkan Lin Feng juga memotong ekornya.
Para prajurit yang menyaksikan perbuatan Lin Feng hanya bisa menggelengkan kepalanya, mereka benar-benar tidak menyangka jika Lin Feng masih bisa menyiksa seekor naga yang sudah tidak berdaya, tapi mau bagaimana lagi, sekalipun mereka merasa kasihan pada naga hitam tersebut, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan jika sang naga yang berada di posisi Lin Feng, bisa saja dia langsung membunuh mereka semua yang ada di sana.
"Entah kenapa aku jadi kasihan dengan naga itu" ucap salah seorang prajurit.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak membantunya saja?" ucap prajurit lainnya memberikan saran.
"Apa kau bodoh? Bagaimana mungkin aku mau membantu naga itu!" ujar prajurit yang sebelumnya.
"Lalu untuk apa kau merasa kasihan padanya?" tanya prajurit yang ada di belakangnya.
__ADS_1
"Entahlah, aku hanya tidak menyangka saja jika tuan Lin Feng sebenarnya adalah orang yang sangat kejam"
Di sisi lain.
Setelah selesai memotong kaki, tangan, serta ekor naga hitam tersebut, Lin Feng kemudian membelah dada naga tersebut kemudian mengambil kristal hitam yang ada di dalamnya. Padahal saat itu, naga tersebut masih hidup, namun sudah tidak berdaya lagi karena beberapa bagian tubuhnya telah dipotong oleh Lin Feng, lalu setelah Lin Feng mengambil kristal hitam di dalam dadanya, barulah naga tersebut benar-benar mati.
Lin Feng kemudian menyimpan kristal hitam tersebut kedalam cincin penyimpanannya, lalu pergi meninggalkan mayat naga tersebut begitu saja, bahkan raut wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah atau penyesalan sedikitpun, benar-benar kejam!
"Ibu, maaf sudah membuat ibu khawatir" ucap Lin Feng, lalu memeluk ibunya dengan sangat erat.
Lin Hua hanya terdiam, kemudian membalas pelukan anaknya. Selama ini, Lin Hua hanya mendengar cerita tentang kekejaman putra semata wayangnya itu, tapi setelah menyaksikannya secara langsung, Lin Hua akhirnya mengerti jika cerita yang ia dengarkan ternyata hanya omong kosong belaka, karena pada kenyataannya, putranya jauh lebih kejam daripada iblis.
Meski begitu, Lin Hua tidak merasa takut ataupun merasa kecewa setelah mengetahui kebenaran tentang putranya, ia justru sangat bangga dengan putranya, karena ia juga mengetahui jika kekejaman anaknya hanya untuk para musuhnya saja.
"Kenapa harus bertanya seperti itu, Bu? Bukankah seorang ibu bisa mengatakan apapun kepada anaknya?" tanya Lin Feng.
"Hmm" Lin Hua menganggukkan kepalanya.
"Lalu kenapa ibu harus bertanya padaku?" tanya Lin Feng.
"Baiklah, ibu hanya ingin kau menjadi orang yang selalu berjalan di jalan kebenaran, bukannya ibu tidak suka dengan apa yang kau lakukan, ibu hanya takut kau..."
"Ibu, aku akan selalu berjalan di sisi kebenaran sampai aku mati, tapi jika kebenaran itu sendiri yang memaksaku untuk meninggalkannya, maka akan aku lakukan" ujar Lin Feng.
__ADS_1
"Apa maksudmu, nak?" tanya Lin Hua yang nampak kebingungan.
"Kita semua selalu menganggap jika dewa adalah panutan untuk berbuat baik, lalu bagaimana jika mereka melakukan kesalahan? Bukankah aku harus meninggalkan kebenaran untuk memusnahkan mereka?" jawab Lin Feng.
"Itu artinya, kau tidak akan benar-benar meninggalkan kebenaran, melainkan berdiri di sisi kegelapan untuk menegakan kebenaran" ujar Lin Hua.
"Sudahlah, yang penting ibu hanya ingin kau selalu berjalan di sisi kebenaran, apapun yang terjadi!" lanjutnya.
"Aku akan menuruti perintah ibu" jawab Lin Feng, lalu menggendong ibunya dan kemudian melesat terbang meninggalkan tempat tersebut.
Setelah Lin Feng dan ibunya pergi, Feng Jing Quo dan pasukannya justru kebingungan, sekarang mereka benar-benar tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, kedatangan mereka semua ketempat tersebut awalnya untuk berperang dengan pasukan sekte Harimau Hitam dan menyelematkan putrinya serta ibu Lin Feng, tapi semuanya pasukan tersebut sudah dibantai oleh Lin Feng, bahkan putrinya juga telah diselamatkan oleh Lin Feng.
"Tetua Liu, aku harus segera pergi menyusul tuan" ucap Huise.
"Tidak masalah, biarkan kami yang mengurus sisanya" jawab tetua Liu Changhai.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi!" ujar Huise, kemudian terbang mengikuti Lin Feng.
Tidak lama kemudian, Feng Jing Quo datang menghampiri tetua Liu Changhai. "Tetua, apa yang harus kita lakukan pada tubuh naga itu?" tanya Feng Jing Quo.
"Sebaiknya yang mulia membawa tubuh naga itu, karena sisiknya yang keras bisa dijadikan sebagai armor untuk yang mulia ataupun para prajurit" jawab tetua Liu Changhai.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membawanya, tapi apa itu tidak masalah? Karena yang membunuh naga ini..."
__ADS_1
"Tidak masalah yang mulia, lagipula tubuh naga ini tidak akan berguna untuknya" ujar tetua Liu Changhai.