
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa sudah dua Minggu berlalu sejak Lin Feng dan Luo Ning kembali ke keluarga Lin, selama dua Minggu tersebut, Lin Feng dan Luo Ning terus meningkatkan kekuatannya untuk menghadapi bencana petir surga yang akan segera datang.
Meskipun tingkat kultivasi Lin Feng sudah bisa dikatakan sangat tiggi untuk pemuda seusianya, bahkan kekuatannya mampu menyaingi kultivator yang berada satu ranah lebih tinggi darinya, tapi jika berhadapan dengan kekuatan petir surga, kekuatan Lin Feng masih sangat jauh dari kata cukup.
Begitu juga dengan Luo Ning, yang kekuatannya masih sangat jauh bila dibandingkan dengan Lin Feng, namun Luo Ning tentunya lebih unggu saat menghadapi bencana petir surga nantinya, karena tubuh Luo Ning adalah tubuh yang terbuat dari kekuatan petir surga, atau tubuh yang khusus untuk menampung kekuatan petir surga.
Saat ini, kesadaran Lin Feng sedang berada di dalam ruang jiwanya sendiri, bersama dengan Huise dan Jin Zhan Shi sang penjaga pedang emas, mereka bertiga sedang berdiskusi mengenai bencana petir surga, serta cara untuk mengatasi kekuatannya yang sangat luar biasa.
"Zhan Shi, apa aku bisa menggunakan pedang emas untuk menahan kekuatan petir surga?" tanya Lin Feng.
"Tentu saja bisa tuan, tapi pedang emas hanya bisa digunakan saat Sambaran petir surga yang ke-tujuh sampai selesai" jawab Jin Zhan Shi.
"Tuan, untuk menghadapi sambaran yang pertama sampai ke-enam, sebaiknya tuan mengunggunakan pedang kayu roh dan segel petir surga yang ada di tangan tuan" ucap Huise.
"Yang dikatakan oleh saudara Huise memang benar, karena pada dasarnya kekuatan petir surga juga berasal dari energi kehidupan, tapi tidak terlalu besar, tentu saja pedang kayu roh bisa digunakan untuk menahan beberapa Sambaran" ujar Jin Zhan Shi membenarkan.
"Satu hal lagi yang harus tuan ingat, saat menghadapi sambaran petir surga, sebaiknya tuan dan Luo Ning tetap bersama, dengan begitu kalian berdua akan memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan setiap sambarannya" ucap Huise.
"Aku juga mengetahui hal itu, tapi masalahnya, kekuatan petir surga masih terlalu besar untuk kami berdua" ujar Lin Feng.
"Tuan, aku sangat yakin kalau tuan akan berhasil melewati sembilan sambaran tersebut, karena hanya tuan yang memiliki takdir untuk menyelamatkan dunia ini dari kehancuran, serta tuan adalah orang yang dipilih sendiri oleh yang mulia Dewi Nuwa" ucap Huise.
"Semoga saja" ujar Lin Feng.
Bencana petir surga sendiri adalah Sambaran petir merah yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, bahkan kekuatan dari satu sambaran petir surga mampu membunuh kultivator ranah Supreme Emperor dengan sangat mudah, namun jika berhasil melewatinya, maka akan mendapatkan kekuatan yang sangat luar biasa.
Bencana petir surga juga memiliki sembilan tingkatan, atau sembilan sambaran petir, yang mana di setiap sambarannya memiliki kekuatan yang berbeda-beda, semakin tinggi tingkatannya maka kekuatannya juga akan semakin dahsyat.
Selama ini hanya ada satu orang yang berhasil melewati sembilan sambaran tersebut, yang tidak lain adalah kultivator yang telah menciptakan pedang emas, yang sekarang berada dalam tubuh Lin Feng.
__ADS_1
Karena kekuatannya yang terlalu dahsyat, banyak kultivator yang tidak mau berurusan dengan bencana petir surga, meskipun mereka telah mengetahui apa yang akan mereka dapatkan jika berhasil.
Bahkan sang dewa iblis Yama juga tidak mau mengambil resiko untuk menahan kekuatan petir surga, terlebih lagi, kekuatan petir surga adalah salah satu kekuatan yang bisa memusnahkan bangsa iblis.
"Satu hal lagi yang ingin aku tanyakan kepada kalian berdua, apa kalian mengetahui dimana petir itu akan muncul?" tanya Lin Feng.
"Tentu saja tuan, petir sembilan surga akan muncul di benua tengah, tepatnya di gunung Yunshan" jawab Jin Zhan Shi.
"Apa? Kenapa bisa muncul di sana?" tanya Lin Feng penasaran.
"Ada dua tempat yang memiliki kekuatan petir di benua ini, yang pertama adalah puncak gunung Yunshan, yang kedua adalah danau es yang ada di benua selatan, tapi petir surga tidak mungkin muncul di benua selatan, karena kekuatan petir di danau es tersebut tidak alami" jawab Huise.
"Tidak alami? Maksudmu?" tanya Lin Feng bingung.
"Kekuatan petir yang ada di danau es berasal dari mutiara petir yang berada di dasar danau. Selain itu, mutiara petir tersebut juga dijaga oleh seekor naga, jadi sangat tidak mungkin petir surga akan muncul di sana" jawab Huise.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke benua tengah sekarang juga, karena petir surga akan muncul tidak lama lagi" ucap Lin Feng, kemudian menghilang dari hadapan mereka berdua.
Setelah berada di kediaman ibunya, Lin Feng cukup terkejut saat melihat kakek dan kedua pamannya juga berada di sana, Lin Feng bahkan cukup kaget saat melihat Luo Ning yang ternyata telah menyelesaikan kultivasinya.
"Feng'er, kebetulan sekali kau datang ke sini, padahal kami ingin pergi ke kediamanmu, karena ada yang ingin kami bicarakan" ucap Lin Jianheeng.
"Kebetulan sekali, karena aku juga ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian" ujar Lin Feng, kemudian duduk di samping Lin Hua.
"Jadi, apa yang ingin kakek bicarakan denganku?" tanya Lin Feng.
"Sebenarnya kami telah merencanakan ini sejak awal, tapi kami baru saja selesai membicarakannya" jawab Lin Hua.
"Memangnya apa yang kalian rencanakan?" Lin Feng nampak sangat penasaran.
__ADS_1
"Kami merencakan pernikahanmu dengan Ning'er" jawab Lin Jianheeng.
"Apa?!" ujar Lin Feng kaget.
"Benar sekali, kami sudah membicarakan ini dengan Ning'er, tapi dia ingin mendengar pendapatmu lebih dulu" ucap Lin Jianheeng.
Lin Feng menghela nafas panjang sambil memijat dahinya, entah kenapa kepalanya tiba-tiba terasa pusing saat mendengar perkataan kakeknya, Lin Feng bahkan tidak pernah menyangka bahwa yang akan mereka sampaikan adalah masalah pernikahan.
"Feng'er, ibu juga ingin mendengar pendapatmu" ucap Lin Hua.
Lin Feng diam untuk sejenak, ia kemudian memandang Luo Ning yang sejak tadi hanya diam dan tertunduk malu, meskipun belum terlalu lama bersama Luo Ning dan tidak mempunyai pengalaman tentang jatuh cinta, tapi Lin Feng juga tidak memungkiri bahwa sebenarnya dia mulai menyukai gadis tersebut.
"Ini benar-benar situasi yang sulit" batin Lin Feng.
"Maaf tapi aku rasa ini terlalu cepat, bukannya aku menolak rencana kalian ataupun tidak menyukai Luo Ning, tapi untuk saat ini aku benar-benar tidak memikirkan tentang pernikahan, karena masih ada tugas berat yang harus aku lakukan" ucap Lin Feng memberikan pendapatnya.
"Terlebih lagi, aku dan Luo Ning harus menghadapi bencana petir surga yang akan segera datang, belum lagi masalah Yama yang telah bangkit dan terakhir, aku masih harus..."
"Tidak apa-apa, aku sudah mengerti sekarang!" ujar Luo Ning, kemudian memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Feng'er, kakek benar-benar kecewa denganmu, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu dihadapan seorang gadis yang menyukaimu!" Lin Jianheeng berbicara dengan nada keras.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, tapi aku benar-benar belum siap untuk pernikahan, karena aku masih ingin meyakinkan diriku sendiri, apakah yang aku rasakan ini benar-benar suka pada Luo Ning atau hanya sekedar mengagumi" ucap Lin Feng.
"Memangnya apa yang sekarang kau rasakan?" tanya Lin Hua.
"Entahlah ibu, aku juga tidak mengerti, tapi saat aku bersama Luo Ning, aku benar-benar merasa nyaman dan tenang, aku juga merasa sangat marah saat dia terluka, aku bahkan merasa takut kehilangannya" jawab Lin Feng.
"Luo Ning, aku benar-benar minta maaf karena masih belum bisa menikah denganmu, tapi bukan berarti aku menolak, mungkin sebaiknya kita lebih mendekatkan diri satu sama lain sebagai sepasang kekasih" ucap Lin Feng.
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf, karena aku juga belum siap untuk menikah" jawab Luo Ning.
Setelah itu, Lin Feng langsung meminta izin kepada keluarganya untuk kembali ke benua tengah bersama Luo Ning, karena mereka berdua harus menghadapi bencana petir surga yang akan segera datang, jika mereka terlambat, maka semuanya akan sia-sia dan tidak akan ada lagi yang bisa menghentikan Yama.