
Lin Jianheeng, kemudian mengajak kaisar Luo serta rombongannya menuju kediaman khusus yang digunakan untuk menyambut tamu penting, agar mereka semua bisa mengobrol dengan nyaman dan tenang di sana.
Setibanya di sana, Lin Jianheeng langsung memerintahkan para pelayan untuk menyediakan makanan serta minuman terbaik yang mereka miliki. Tentu saja, kedatangan kaisar Feng sebelumnya juga mendapatkan pelayanan yang sama.
"Yang mulia kaisar, maaf jika tempat ini membuat anda merasa tidak nyaman" ucap Lin Jianheeng.
Lin Jianheeng benar-benar merasa malu, karena telah menyediakan tempat yang kurang layak untuk seorang kaisar ternama, sebenarnya Lin Jianheeng ingin menyambut kedatangan kaisar Luo di istana, tapi Lin Jianheeng sendiri juga tidak menyangka bahwa kaisar Luo benar-benar akan datang.
"Apa yang anda katakan patriark Lin, seharusnya aku berterimakasih karena telah disambut dengan baik di sini" ujar Luo Ming An.
Luo Ming An datang ke benua tengah bersama orang-orang penting lainnya, diantaranya adalah beberapa bangsawan ibukota kekaisaran Luo, serta pangeran Luo Yuan dan beberapa kerabat kaisar Luo sendiri.
"Maaf jika saya lancang yang mulia, tapi saya tidak melihat putri Luo Ning, apakah dia masih bersama Lin Feng?" tanya Lin Jianheeng.
"Sebenarnya aku ingin sekali mengajaknya, mengingat mereka berdua adalah teman akrab, tapi sayangnya, Ning'er saat ini sedang pergi bersama gurunya" jawab Luo Ming An.
Luo Ming An tidak mau mengatakan bahwa saat ini Luo Ning sedang berada di alam dewa, karena menurutnya hal itu adalah rahasia kekaisaran Luo, lalu Luo Ming An juga tidak ingin mengatakan bahwa sebenarnya, Lin Feng telah bersumpah untuk melawan para dewa karena hal itu.
"Sayang sekali, padahal saya sangat menantikan kedatangan putri Luo Ning" ucap Lin Jianheeng.
Mereka lalu membicarakan hal-hal seputar Lin Feng, karena mereka semua penasaran bagaimana Lin Feng bisa mengenal kaisar Luo. Dan dengan senang hati, kaisar Luo menceritakan semuanya, mulai dari pertemuannya dengan Lin Feng, sampai jasa besar yang dilakukan Lin Feng untuk kekaisaran Luo.
Mereka semua benar-benar kagum mendengar cerita itu, bahkan Feng Jing Quo juga menceritakan dengan bangga, bagaimana Lin Feng telah menyelamatkan ibukota kekaisaran Feng dari kehancuran. Pada akhirnya, pembicaraan mereka semua hanya terpusat pada Lin Feng seorang.
***
Keesokan harinya, suasana kota Zuanshi menjadi semakin ramai dari biasanya, semua orang mulai membicarakan tentang kedatangan kaisar Luo ke keluarga Lin, bahkan masih ada beberapa orang yang tidak menyangka bahwa, kaisar Luo akan benar-benar datang ke kota mereka.
__ADS_1
Suasana di keluarga Lin juga tidak kalah ramainya, semua anggota keluarga semakin sibuk melakukan segala persiapan, untuk pesta perayaan peringatan kelahiran tuan muda mereka yang luar biasa. Semua orang bekerja dengan semangat dan tidak ada yang mengeluh sedikitpun.
Sementara itu, di gerbang kota Zuanshi. Setelah melakukan perjalanan panjang selama hampir satu minggu, Lin Feng akhirnya sampai di kota Zuanshi, kesan pertama yang Lin Feng rasakan saat memasuki kota adalah terkejut, karena melihat suasana kota yang sangat ramai.
"Ada apa ini, sepertinya kota ini menjadi lebih ramai dari biasanya" Lin Feng berbicara dalam hatinya.
"Mungkin akan ada perayaan tuan" ucap Huise, yang sekarang telah berada di ruang jiwa Lin Feng.
Saat memutuskan untuk kembali ke kota Zuanshi, Lin Feng meminta Huise untuk kembali ke ruang jiwanya, karena penampilan Huise bisa membuat orang ketakutan, terlebih lagi saat melihat matanya yang menyerupai mata serigala. Bukan tidak mungkin, orang-orang akan berpikir bahwa Huise adalah siluman atau bangsa iblis.
Lin Feng memilih untuk tidak menghiraukan suasana kota yang berbeda dari biasanya, ia kemudian bergegas menuju ke wilayah keluarga Lin, karena sudah sangat merindukan ibunya. Akan tetapi, saat sampai di sana, Lin Feng semakin kaget, karena suasana di sana bahkan jauh lebih ramai dari kota.
"Ada apa ini, kenapa hampir setiap bangunan ada hiasannya? Apa jangan-jangan akan ada pernikahan? Tapi siapa?"
Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benak Lin Feng, tapi dia lebih memilih untuk tidak menanyakannya pada siapapun.
"Selamat datang tuan muda!" sapa para prajurit penjaga gerbang.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa mereka semua mengucapkan selamat padaku?" Lin Feng bertanya dalam hatinya.
"Sepertinya hanya ada satu orang yang bisa menjawab semua pertanyaan ku!" Lin Feng berkata pelan, kemudian bergegas menuju ke kediaman kakeknya.
Ketika Lin Feng hampir sampai di kediaman kakeknya, seorang prajurit tiba-tiba saja menghentikannya, lalu mengatakan padanya bahwa kakek dan yang lainnya telah menunggu di kediaman khusus. Tanpa basa-basi lagi, Lin Feng langsung bergegas menuju tempat yang dimaksud.
"Kakek, katakan padaku apa yang telah kau lakukan!" ujar Lin Feng dengan suara keras, sambil membuka pintu dengan paksa.
Setelah pintu terbuka, Lin Feng terdiam dan mematung di depan pintu, karena semua orang yang ada di ruangan tersebut mengarahkan pandangan mereka padanya, bahkan Lin Feng benar-benar kaget saat mengetahui siapa saja yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Lin Feng sinis.
"Selamat datang Lin Feng, kami semua memang sedang menunggu kedatangan mu" jawab Luo Ming An.
"Jangan basa-basi denganku, jawab pertanyaan ku tadi!" ujar Lin Feng kesal.
"Hahahaha! Jangan memandangku seperti itu, kami semua datang karena undangan dari kakek mu" ucap Luo Ming An.
"Feng'er, tidak bisakah kau bersikap lebih sopan di hadapan mereka? Bagaimanapun juga, mereka semua adalah..."
"Kakek! Katakan yang sebenarnya!" ujar Lin Feng.
Lin Jianheeng menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak menyangka bahwa cucunya adalah pemuda yang temperamental. "Mereka datang untuk merayakan peringatan kelahiran mu yang akan diadakan besok" ucap Lin Jianheeng.
Lin Feng tersentak kaget mendengar perkataan kakeknya, dia benar-benar tidak menyangka bahwa besok adalah hari kelahirannya. "Jadi besok adalah hari ulang tahun pemilik tubuh ini" Lin Feng bergumam dalam hatinya.
"Dari ekspresi yang kau tunjukkan, sepertinya kau benar-benar melupakan hari kelahiran mu sendiri!" ujar Lin Jianheeng.
"Maaf, aku benar-benar melupakan itu" Lin Feng berkata pelan.
Setelah itu, Lin Feng melangkahkan kakinya dan masuk ke ruangan tersebut, lalu duduk di samping ibunya yang juga ada di sana.
"Ibu..."
"Tidak apa-apa, lagipula ibu bisa memaklumi hal ini, karena selama ini kau tidak pernah merayakan hari kelahiran mu, jadi ibu berpikir untuk merayakannya tepat saat usiamu menginjak 20 tahun" ujar Lin Hua.
(*Halo semua, maaf ya kalau chapter kali ini kurang seru, tapi author sengaja bikin chapter ini supaya ga bosan, lagipula ga mungkin juga di setiap chapter akan ada pertarungan dan pembunuhan terus... hehe!
__ADS_1
anggap aja dua chapter ini sebagai chapter humor dalam perjalanan Lin Feng...
Akhir kata, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, see you next chapter, baibai*)