
Setelah Lin Jianheeng memberikan sedikit sambutan kepada para tamu yang ada di aula, acara peringatan hari kelahiran Lin Feng kemudian dimulai, acara tersebut dimulai dengan Lin Jianheeng yang memberikan hadiah kepada cucunya, kemudian diikuti oleh para tamu yang lainnya.
Para tamu undangan kebanyakan memberikan sumberdaya untuk meningkatkan energi spiritual, namun ada juga yang memberikan pil tingkat tinggi yang juga berguna untuk meningkatkan kultivasi.
Lin Feng menerima semua hadiah yang diberikan padanya dengan senang hati, meskipun semua hadiah itu tidak terlalu berguna untuk tigkatan kultivasinya yang sekarang. "Terimakasih semuanya!" ucap Lin Feng, kemudian tersenyum ramah.
Semua orang tersentak kaget saat melihat senyuman indah yang terukir di bibir Lin Feng, selama ini mereka tidak pernah melihat Lin Feng menunjukkan senyuman seperti itu dan sekarang, mereka bisa melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, bahkan ada yang tidak percaya bahwa Lin Feng bisa tersenyum ramah seperti itu.
Beberapa saat kemudian, Lin Hua yang sejak tadi hanya duduk diam di kursinya tiba-tiba saja berdiri, kemudian menghampiri Lin Feng yang masih berdiri di atas panggung yang berada di tengah-tengah aula. Seketika itu juga, perhatian semua orang langsung terarah kepada Lin Hua, karena mereka semua penasaran dengan hadiah yang akan dia berikan.
"Ibu, ada apa?" tanya Lin Feng.
"Semua orang sudah memberikan hadiah kepadamu, jadi sekarang adalah giliran ibu" jawab Lin Hua, kemudian memberikan sebuah kotak kayu yang cukup panjang kepada Lin Feng.
Kotak kayu yang diberikan Lin Hua berhasil menarik perhatian semua orang, karena kotak kayu tersebut nampak sudah sangat tua dan usang, semua orang bahkan sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak kayu tersebut, lalu saat Lin Feng membuka dan mengeluarkan isi kotak kayu tersebut, semua orang tiba-tiba saja tercengang.
Di dalam kotak kayu tuan dan usang yang diberikan oleh Lin Hua kepada Lin Feng, ternyata ada sebilah pedang yang sangat indah, pada gagang pedang tersebut terdapat ukiran kepala naga yang berwarna emas dengan mulut yang terbuka dan tersambung langsung dengan bilah pedangnya.
Bentuknya benar-benar terlihat seperti seekor naga yang sedang mengeluarkan pedang dari mulutnya, pedang tersebut juga hampir sama dengan katana atau pedang emas hitam milik Lin Feng, yang hanya memiliki satu sisi yang tajam.
"Pedang ini sangat indah, dimana ibu mendapatkannya?" tanya Lin Feng.
"Pedang itu memang sudah ada sejak lama, karena pedang itu adalah pedang ayahmu" jawab Lin Hua.
Para anggota keluarga Lin tersentak kaget, karena hampir setiap anggota keluarga Lin mengetahui siapa ayah Lin Feng, yang hanya seorang sampah tidak berguna dan tidak berkultivasi. Tapi, bagaimana bisa seorang sampah mempunyai pedang yang sangat indah? Terlebih lagi, pedang itu tidak terlihat seperti pedang biasa, benar-benar membingungkan!
__ADS_1
"Ibu, bagaimana ayahku bisa punya pedang seperti ini? Bukankah dia..." Lin Feng tidak bisa melanjutkan perkataannya.
"Ada satu rahasia besar yang selama ini ibu sembunyikan dari mu dan semua anggota keluarga kita" ucap Lin Hua.
"Hua'er, apa maksudnya semua ini? Siapa sebenarnya pria itu?" tanya Lin Jianheeng, yang nampak sangat penasaran dengan sosok ayah Lin Feng.
"Maaf ayah, aku tidak bisa mengatakannya di sini, karena aku telah berjanji untuk tidak mengungkapkan jati dirinya kepada siapapun, kecuali kepada anak kami" jawab Lin Hua.
Lin Jianheeng dan para tamu undangan agak merasa kecewa dengan perkataan Lin Hua, karena mereka benar-benar sangat penasaran dengan identitas ayah Lin Feng yang sebenarnya. Tapi, mereka juga tidak bisa memaksa Lin Hua untuk bercerita, karena sebelumnya Lin Hua sudah berjanji untuk tidak mengatakan kepada siapapun kecuali anaknya sendiri.
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita lanjutkan saja acaranya!" ujar Lin Jianheeng. Setelah itu, pesta peringatan hari kelahiran Lin Feng dilanjutkan sampai siang, yang kemudian di akhiri dengan acara makan bersama.
***
Sore harinya, setelah semua tamu pergi meninggalkan aula pesta, Lin Hua kemudian mengajak Lin Feng menuju ke suatu tempat yang berada cukup jauh dari wilayah keluarga Lin, bahkan bisa dikatakan sudah berada di luar kota Zuanshi, namun masih berada dalam wilayah kekuasaan kerajaan.
"Kita akan pergi menuju makam ayahmu" jawab Lin Hua.
"Makam ayah? Tapi kenapa tempatnya sangat jauh?" tanya Lin Feng penasaran.
Lin Hua kemudian menghela nafas panjang, lalu menjelaskan kenapa makam ayah Lin Feng berada sangat jauh dari wilayah keluarga Lin. "Bukankah kau sudah tahu, bahwa kakekmu dulu sangat tidak merestui hubungan ibu dan ayahmu, bahkan kakek sampai tega membunuh ayahmu dengan tangannya sendiri" ucap Lin Hua.
"Meskipun begitu, kakekmu juga meminta anggota keluarga Lin untuk memakamkan ayahmu secara layak, tapi makamnya tidak boleh berada di wilayah keluarga Lin" lanjutnya. Kemudian tersenyum, walaupun ada rasa sakit dan kecewa dalam hatinya, tapi dia juga senang karena pria yang dicintainya telah dimakamkan dengan layak oleh ayahnya.
"Ternyata begitu, padahal aku pikir kakek akan benar-benar melenyapkan ayahku" ucap Lin Feng.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, mereka berdua akhirnya sampai di sebuah hutan bambu yang tidak terlalu luas, yang mana di dalam hutan bambu tersebut, terdapat sebuah makam yang tidak lain adalah makam ayah Lin Feng.
Setelah berada di dekat makam ayahnya, Lin Feng kemudian bersujud sebanyak tiga kali untuk memberikan penghormatan kepada ayahnya. "Ayah, maaf karena selama ini aku tidak pernah datang menemui ayah" Lin Feng berkata pelan.
"Ibu, apa aku bisa mengetahui siapa ayahku sekarang?" tanya Lin Feng, kemudian berdiri dan menghampiri Lin Hua.
"Baiklah!" jawab Lin Hua, kemudian tersenyum sambil mengusap rambut Lin Feng, "nama ayahmu adalah Yuan Long, dia bukan berasal dari benua timur ataupun kekaisaran Feng, tapi dia berasal dari salah satu kekaisaran yang ada di benua Utara"
Lin Feng terdiam dan sedikit terkejut mendengar perkataan ibunya, dia benar-benar tidak menyangka bahwa ayahnya adalah seorang pengembara yang berasal dari tempat yang jauh. "Benua Utara? Itu sangat jauh sekali! Lalu kenapa ayah bisa sampai di benua timur ini?" tanya Lin Feng semakin penasaran.
Rasa penasaran Lin Feng terhadap sosok ayahnya semakin membesar, entah kenapa dia sekarang benar-benar merasa yakin bahwa ayahnya bukanlah seorang sampah yang tidak berguna.
Jika ayahnya memang orang yang tidak berguna, lalu bagaimana dia bisa sampai ke benua timur? Sedangkan jarak antara benua Utara dan benua timur sangat jauh dan pastinya, akan menempuh perjalanan yang berbahaya.
"Ibu, tolong katakan semua tentang ayah, karena aku sangat yakin kalau ayah bukanlah orang biasa!" ujar Lin Feng.
...\=\=\=\=\=\=...
**Author : Kira-kira apa ya, identitas ayah Lin Feng yang sebenarnya?...
Lin Feng : Siapa Thor? Aku penasaran!...🤔
Author : Tunggu jawabannya di chapter selanjutnya!...
Lin Feng : 😏😏 Tujuh Tebasan kematian (Bergumam dalam hati)
__ADS_1
Author : 😱😱😱
Jangan lupa untuk memberikan Like dan Vote nya ya! Jika ada saran jangan segan-segan untuk menuliskannya di kolom komentar, see you next chapter, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, baibai👋**