
Beberapa hari kembali berlalu sejak pembantaian yang dilakukan oleh Lin Feng terhadap sekte Harimau Hitam. Stelah kejadian buruk yang menimpa ibunya beberapa hari yang lalu, Lin Feng sepertinya sangat enggan jauh-jauh dari ibunya, buktinya, ia selalu menemani ibunya jika ingin pergi kemanapun, padahal Lin Hua hanya berkeliling di sekitaran wilayah keluarga Lin, bahkan saat Lin Hua tidur, Lin Feng berdiri dengan setia di sudut kamarnya seperti seorang pengawal.
Lin Feng melakukan itu semua bukan tanpa alasan, ia ingin benar-benar memastikan jika kejadian buruk tidak terulang lagi pada ibunya, bahkan bayang-bayang ingatan tentang keluarganya yang dibantai dengan sangat kejam selalu menghantuinya, hal itu jugalah yang membuat Lin Feng tidak bisa meninggalkan ibunya begitu saja, karena ia benar-benar takut jika hal yang sama akan terulang kembali pada ibunya yang sekarang.
Di sisi lain.
Keaadan dan kondisi kota Zuanshi juga sudah mulai membaik, bangunan-bangunan kota yang hancur juga sudah mulai diperbaiki lagi, sama halnya dengan keadaan di wilayah keluarga Lin, meskipun kehancuran pada keluarga Lin bisa dikatakan jauh lebih parah dibandingkan dengan kehancuran yang terjadi di kota, karena pusat utama peperangan yang terjadi waktu itu adalah di wilayah keluarga Lin. Lalu keadaan Lin Jianheeng, serta kedua anaknya juga sudah membaik, mereka bahkan sudah mulai melakukan aktivitas seperti biasa.
Meski semuanya sudah mulai berjalan baik-baik saja, namun semua orang yang ada di kota masih dalam keadaan berduka, karena tidak sedikit dari penduduk kota yang gugur saat peperangan berlangsung, khususnya keluarga Lin, yang bahkan telah kehilangan lebih dari setengah pasukannya dan tidak sedikit juga anggota keluarga yang meninggal karena peperangan tersebut. Salah satu orang yang berduka adalah Lin Tian, karena ibu kandungnya juga menjadi korban peperangan tersebut.
Saat ini, Lin Tian sedang duduk di taman yang ada di wilayah keluarga Lin bersama sang istri, ia nampak sagat murung dan sangat sedih, karena dia sudah tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini, kecuali sang istri dan calon bayi mereka yang sedang berada dalam kandungan istrinya. Lin Tian memang sudah menganggap keluarga Lin seperti keluarganya sendiri, bahkan keluarga Lin tidak pernah menganggapnya sebagai orang asing, tapi tetap saja, tidak ada ikatan darah sama sekali antara dirinya dan keluarga Lin.
"Suamiku, jangan bersedih lagi, karena ibu juga akan bersedih jika kau terus-terusan seperti ini" ucap Feng Yue Yin mencoba menenangkan suaminya.
"Terimakasih Yuyue, sekarang hanya kalian berdua yang aku miliki" jawab Lin Tian sambil mengelus perut istrinya yang sudah mulai membesar.
"Benarkah? Apa kau tidak menganggap keberadaan ku lagi?" ujar Lin Feng dari arah belakang mereka berdua.
"Kakak, bu-bukan seperti itu, aku hanya..."
"Aku tahu, aku juga minta maaf karena tidak datang diwaktu yang tepat, andai saja aku datang lebih cepat mungkin aku masih bisa menyelamatkan ibumu" ujar Lin Feng.
__ADS_1
"Tidak kak, kau tidak salah sama sekali, justru aku sangat senang karena kau telah membalaskan dendam ibu" jawab Lin Tian.
"Kalau begitu berhentilah berkata jika kau tidak punya siapa-siapa lagi, karena masih ada aku, ibu dan yang lainnya di sini" ucap Lin Feng.
"Yang dikatakan kakak ipar memang benar, karena semua yang ada di sini adalah keluarga kita" Feng Yue Yin menambahkan.
Lin Tian kemudian tersenyum senang, ia benar-benar sangat bersyukur karena masih memiliki orang-orang yang bisa disebut sebagai keluarga, terutama Lin Feng yang memang sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri, bahkan karena Lin Feng juga ia dan ibunya bisa diterima dengan sangat baik di keluarga Lin. Jika tidak, mungkin dia masih akan hidup dalam penderitaan di keluarga Zhao, yang tidak pernah menganggap mereka ada.
"Baiklah, kalian bisa melanjutkan obrolan kalian lagi, karena aku harus memeriksa keadaan kota" ucap Lin Feng.
"Memeriksa kota? Memangnya kakak tidak menjaga ibu lagi?" tanya Lin Tian, karena biasanya Lin Feng tidak mau jauh-jauh dari ibunya.
"Kata siapa? Saat ini aku masih bersama ibu di taman belakang kediamannya" jawab Lin Feng.
"Bukan apa-apa, kalau begitu aku pergi sekarang!" jawab Lin Feng, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah Lin Feng pergi, Lin Tian dan Feng Yue Yin saling berpandangan, mereka berdua nampak sama-sama bingung dan tidak mengerti maksud perkataan Lin Feng, karena sangat penasaran dengan perkataan Lin Feng sebelumnya, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pergi ke taman yang ada di belakang kediaman Lin Hua.
Setibanya di sana, mereka berdua benar-benar sangat terkejut melihat Lin Feng yang sedang mengobrol bersama Lin Hua, padahal beberapa menit yang lalu, Lin Feng baru saja menemui mereka berdua, bahkan mereka melihat dengan jelas kepergian Lin Feng untuk memeriksa keadaan kota Zuanshi. Lalu siapa yang bersama Lin Hua sekarang?
"Sejak kapan kakak ipar ada dua? Apa jangan-jangan dia punya saudara kembar?" tanya Feng Yue Yin.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin! Aku sudah mengenal kakak sejak lama, dia adalah anak tunggal dan tidak memiliki saudara, apalagi saudara kembar" jawab Lin Tian.
"Lalu siapa itu?" tanya Feng Yue Yin.
"Entahlah, sebaiknya kita menghampiri mereka saja" jawab Lin Tian, kemudian mereka berdua menghampiri Lin Feng dan Lin Hua.
"Ibu, kakak" sapa Lin Tian dan Feng Yue Yin bersamaan.
"Yuyue, kemari duduk di sebelah ibu" ucap Lin Hua.
"Baik Bu" jawab Feng Yue Yin, kemudian duduk di sisi Lin Hua.
"Hei, kenapa kau hanya berdiri saja?" tanya Lin Feng.
"Kakak, maaf jika aku lancang, tapi beberapa menit yang lalu kau menemui kami di taman depan, lalu kau bilang ingin memeriksa keadaan kota, lalu kenapa sekarang kau malah di sini?" tanya Lin Tian.
"Ya, tadi aku memang menemui kalian, tapi sebenarnya itu bukan aku, melainkan bayanganku" jawab Lin Feng.
"Bayangan? Maksud kakak apa?" tanya Lin Tian, yang semakin bingung dengan penjelasan Lin Feng.
Melihat saudaranya yang sedang kebingungan Lin Feng akhirnya menjelaskan jika dia mempunyai dua jiwa silat, yang salah satunya adalah jiwa silat bayangan, Lin Feng juga menjelaskan jika jiwa silat bayangan bisa menyerupai dirinya sendiri, bahkan bisa menyerupai orang lain, namun sesuai dengan namanya, jiwa silat bayangan memang hanya sebuah bayangan saja, ia tidak akan bisa menyerupai orang lain tanpa kehendak dan perintah Lin Feng.
__ADS_1
"Ternyata begitu, pantas saja dia benar-benar mirip dengan kakak" ucap Lin Feng.
"Awalnya ibu juga kaget ketika melihat jiwa silat bayangan Feng'er, ibu bahkan sempat berpikir jika salah satu dari mereka adalah musuh yang menyamar dan ingin menjebak ibu, tapi setelah mendengar penjelasan dari Feng'er, ibu akhirnya mengerti" ujar Lin Hua.