
Setelah menyimpan kristal merah tersebut, Lin Feng langsung berbalik ke belakang untuk menemui ayahnya. Namun sayangnya, Lin Feng tidak menemukan siapapun di depannya sekarang, seolah-olah yang baru saja terjadi padanya hanyalah ilusi belaka, tapi entah mengapa untuk sesaat Lin Feng benar-benar merasakan keberadaan ayahnya.
Dengan perasaan yang sedikit kecewa, Lin Feng lalu mengepakkan sayapnya dan terbang kembali ke dermaga, kedatangannya di dermaga disambut dengan perasaan senang dan haru oleh semua penduduk kota, bahkan mereka semua langsung berlutut dengan satu kaki dihadapan Lin Feng, untuk memberikan rasa hormat mereka kepada Lin Feng yang telah menyelamatkan kota mereka.
Begitu juga dengan raja Mo Fan Chun, meskipun sebelumnya agak kesal dan jengkel dengan sikap Lin Feng, tapi sekarang Mo Fan Chun sudah bisa memakluminya, bahkan saat ini Mo Fan Chun benar-benar menaruh rasa hormatnya kepada Lin Feng, karena di mata Mo Fan Chun saat ini, Lin Feng adalah sosok yang sangat luar biasa, yang bisa menyelesaikan masalah tanpa banyak omong kosong.
"Tuan, saya sebagai raja kota Yumin, mewakil semua penduduk kota Yumin untuk mengucapkan rasa terimakasih kepada tuan, berkat usaha tuan, kota Yumin bisa selamat dari ancaman kehancuran" ucap Mo Fan Chun sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Kami sangat berterimakasih tuan!" ujar semua penduduk kota serempak.
"Tidak perlu berterimakasih, aku melakukan semua ini karena monster itu telah mengganggu perjalananku" ucap Lin Feng.
"Apa maksud anda tuan?" tanya Mo Fan Chun.
"Sebenarnya aku ingin pergi ke benua Utara, tapi setelah mendengar kapal tidak bisa berlayar, tentu aku tidak bisa diam saja, jadi aku menghabisi monster laut tersebut hanya agar aku bisa melanjutkan perjalananku" jawab Lin Feng.
"Baiklah, kalau memang seperti itu, maka izinkan saya menyediakan sebuah kapal untuk mengantar tuan sampai ke benua Utara" Mo Fan Chun langsung menawarkan bantuan pada Lin Feng.
Meski ragu apakah Lin Feng akan menerima bantuannya atau tidak, tapi Mo Fan Chun tetap tidak putus asa untuk mencoba, karena mau bagaimanapun juga, Lin Feng adalah orang yang telah menyelamatkan kota mereka dari kehancuran. Walaupun, Lin Feng memberikan alasan yang masuk akal, tapi secara tidak langsung Lin Feng memang telah menyelamatkan kota mereka.
"Baiklah, kali ini aku akan menerima bantuan yang kau tawarkan, aku akan berangkat besok pagi tepat saat matahari terbit" ucap Lin Feng, kemudian pergi meninggalkan dermaga bersama Huise dan Qiao Chen.
Setelah mereka bertiga berada cukup jauh dari dermaga, Qiao Chen mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya pada Lin Feng. "Lin Feng, apa kau yakin ingin tinggal di rumahku?"
"Tentu saja paman, memangnya ada apa? Apa paman tidak mengizinkan kami tinggal di sana?!" jawab Lin Feng.
"Tidak, sama sekali bukan seperti itu maksudku, aku hanya merasa bingung dengan keputusan yang kau ambil, padahal raja kota sudah menawarkan istana yang sangat megah dan pastinya lebih nyaman dari rumahku, tapi kau malah memilih gubuk yang sudah hampir rubuh" Qiao Chen berbicara dengan suara pelan.
"Paman, meskipun kau hanya memiliki gubuk yang hampir rubuh, setidaknya kau masih beruntung karena memiliki tempat tinggal, sangat berbeda dengan orang yang tidak punya apa-apa sepertiku" ujar Lin Feng.
__ADS_1
Perkataan Lin Feng bukan merujuk pada kehidupannya yang sekarang, justru perkataan Lin Feng merujuk pada kehidupannya ketika di bumi, Lin Feng memang memiliki sebuah tempat tinggal, lengkap dengan keluarga kecil yang tinggal di dalamnya, tapi setelah keluarganya di bunuh, Lin Feng benar-benar sendiri dan tidak memiliki apapun lagi, termasuk tempat untuk kembali yang disebut dengan rumah.
Qiao Chen sedikit tersentak mendengar perkataan Lin Feng, lalu muncul sedikit rasa bersalah dalam dirinya, karena telah mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan Lin Feng. Meskipun yang dikatakan oleh Lin Feng tidak ada buktinya sama sekali, tapi dari raut wajah yang ia tunjukkan, Qiao Chen bisa menebak bahwa cerita tersebut sama sekali bukan omong kosong yang dibuat-buat.
"Maaf, aku tidak bermaksud..." perkataan Qiao Chen seketika terhenti, saat Lin Feng menepuk pelan pundaknya sambil tersenyum ramah kepadanya.
"Tidak masalah paman! Jadi, apa aku diizinkan menginap di rumahmu?" tanya Lin Feng.
"Dengan senang hati" jawab Qiao Chen.
Tidak lama kemudian, mereka bertiga akhirnya sampai di rumah Qiao Chen. Karena malam sudah cukup larut, Qiao Chen langsung mempersilahkan Lin Feng dan Huise untuk tidur di kamar yang pernah ditempati oleh mendiang putrinya, agar mereka berdua bisa beristirahat dengan segera.
Setelah berada di dalam kamar, Lin Feng langsung merebahkan tubuhnya ditempat tidur, karena yang Lin Feng butuhkan sekarang adalah mengistirahatkan seluruh tubuhnya, terlebih setelah melakukan pertarungan berat yang cukup melelahkan dan yang hampir saja membuatnya terluka parah.
"Tuan, izinkan aku kembali ke ruang jiwa" pinta Huise yang masih berdiri di samping tempat tidur.
Karena telah mendapatkan izin dari Lin Feng, Huise kemudian langsung masuk ke dalam ruang jiwa Lin Feng, meskipun sekarang wujudnya menyerupai manusia, bahkan cara bicaranya saja sudah benar-benar terdengar seperti seorang manusia, tapi bagi Huise, tempat ternyaman untuknya kembali adalah ruang jiwa Lin Feng, bahkan Huise sudah menganggap tempat tersebut sebagai rumahnya.
"Tuan, boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Huise ketika telah berada di ruang jiwa Lin Feng.
"Tentu!" jawab Lin Feng singkat.
"Apa tuan tidak mendapatkan imbas apapun setelah melepaskan kekuatan petir merah sampai tahap maksimal?" tanya Huise, yang memang sejak awal sudah sangat penasaran dengan hal tersebut.
"Tentu saja tidak, bahkan aku merasa seperti telah menguasai kekuatan petir merah sepenuhnya" jawab Lin Feng, yang juga tidak menyangka dengan hal tersebut.
"Aneh, padahal tuan masih belum terbiasa dengan kekuatan itu" ucap Huise kebingungan.
"Aku juga tidak mengetahuinya dengan pasti, tapi ketika aku menahan serangan energi monster laut tersebut, aku bertemu dengan sosok jiwa ayahku" ujar Lin Feng.
__ADS_1
"Jika memang demikian, mungkin saja kemunculan jiwa beliaulah yang telah menjadi alasan kenapa tuan bisa menggunakan kekuatan petir merah sampai tahap maksimal" ucap Huise.
Lin Feng tiba-tiba saja menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan Huise, meskipun memang sempat melihat sosok jiwa ayahnya, tapi entah kenapa Lin Feng masih bingung dengan semua yang ia alami.
"Entahlah Huise, tapi setidaknya aku sudah menguasai kekuatan petir merah sepenuhnya" Lin Feng berkata pelan, kemudian menutup matanya secara perlahan-lahan, hingga akhirnya tertidur lelap.
***
Keesokan harinya, tepat di saat matahari terbit, para penduduk kota nampak telah berkumpul kembali di dermaga, begitu juga dengan para bangsawan dan raja kota Yumin. Lalu di belakang mereka semua, berlabuh sebuah kapal yang sangat besar dan sangat megah, yang tidak lain adalah kapal yang telah disiapkan oleh Mo Fan Chun untuk mengantar Lin Feng ke benua Utara.
Tidak lama kemudian, Lin Feng, Huise dan Qiao Chen datang ke dermaga, kedatangan mereka lalu disambut dengan rasa hormat oleh para penduduk kota, meski Lin Feng sudah mengatakan alasan kenapa dia menghadapi monster laut, tapi para penduduk kota tetap menganggapnya sebagai penyelamat mereka.
"Selamat datang tuan, saya telah menyiapkan kapal untuk mengantar tuan ke benua Utara, ini dia kapalnya" ucap Mo Fan Chun, sambil menunjuk ke arah kapal besar yang sedang terparkir di dermaga.
"Terimakasih raja kota, aku benar-benar merasa terhormat karena bisa menumpangi kapal anda" Lin Feng berkata dengan nada yang sedikit lebih sopan dari sebelumnya.
"Tidak masalah tuan, karena ini semua masih belum sebanding dengan apa yang anda lakukan untuk kota Yumin. Kalau begitu, mari kita naik sekarang!" ajak Mo Fan Chun.
"Tunggu sebentar!" ujar Lin Feng, kemudian berpamitan kepada Qiao Chen dan memberikan kotak kayu yang berukuran cukup besar kepadanya.
Semua orang nampak sangat penasaran dengan isi kotak kayu tersebut, begitu juga dengan Qiao Chen dan Mo Fan Chun, tapi Lin Feng melarang Qiao Chen untuk membukanya di sana, apa lagi di hadapan semua penduduk kota Yumin. Lin Feng hanya mengizinkan Qiao Chen membuka kotak tersebut saat dia telah berada dirumahnya, atau berada ditempat yang benar-benar sangat sepi.
"Baiklah paman, kalau begitu aku dan saudaraku pergi sekarang!" ucap Lin Feng, kemudian melompat kedalam kapal
"Selamat tinggal paman" Huise menimpali, lalu menyusul Lin Feng yang telah naik ke atas kapal terlebih dahulu.
"Terimakasih dan selamat jalan!" ujar Qiao Chen.
Setelah Lin Feng dan Huise naik ke atas kapal, Mo Fan Chun yang telah berada di atas kapal lebih dulu, kemudian langsung memerintahkan awak kapalnya untuk segera berlayar meninggalkan dermaga, agar mereka bisa segera sampai ke benua Utara.
__ADS_1