Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Eman-eman


__ADS_3

Di kantor


Willy kelihatan tidak tenang, keinginan sang Mommy untuk datang menjenguk Netta di rumah sakit, seolah ada sesuatu yang disembunyikan, dan itu membuat sang asisten pribadi bertanya-tanya.


"Tuan muda kenapa? Pengantin baru masa iya bersedih, harusnya semangat dong, emang semalam nggak di kasih!" celetuk sang asisten sambil melirik dengan senyum smirknya. Willy tersenyum menunjukkan deretan giginya yang putih, senyum seorang pria yang penuh dengan sejuta pesona.


"Bukan itu, kalau masalah itu tidak akan pernah terlewatkan setiap malam," jawabnya sembari merebahkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya, dengan senyum yang merekah pada wajah William Anthony yang tampan.


"Hehehe percaya deh, Anda terlihat begitu mencintainya," ucap sang asisten.


"Iya ... Kamu benar, Dia sudah membuat seorang William Anthony tergila-gila, Aku ingin selalu bersamanya, kalau bisa Aku ingin Dia menemaniku di sini, jujur saja Aku bosan melihatmu terus," jawaban Willy membuat sang asisten tersenyum kecut.


"Heleh ... baiklah kalau Tuan muda bosan melihat Saya di sini, biar Saya ke ruangan Veren saja," ucap Boy sembari menghela nafasnya.

__ADS_1


"Hmm ... Veren? Katakan padaku Boy! Apa yang Kamu suka dari gadis itu?" tanya Willy penasaran.


Boy tersenyum malu, mengingat dirinya memang sangat menyukai seorang Veren yang apa adanya dan tentu saja Veren suka sekali dengan sentuhan lembut yang Boy berikan lewat ciuman hangatnya.


"Dia gadis yang menurut Saya berbeda dari yang lainnya, Dia ceplas-ceplos, bicara apa adanya, meskipun sebenarnya Dia agak galak sih, tapi setelah Saya berhasil mencium bibirnya, si Veren jadi klepek-klepek lah Tuan muda," ungkap sang asisten sembari tertawa kecil.


"Kamu sudah menciumnya? Astaga! Apa Veren tidak alergi saat Kamu cium?" goda Willy dengan menaikkan ujung bibirnya. Boy tampak tersenyum paksa.


"Heleh Tuan muda! Jangan salah gini-gini ciuman Saya tuh mematikan, buktinya Dia langsung minta lagi, karena Saya ini lulusan pesantren, ya jadi ... Saya eman-eman lah Veren, biar nanti belah ciplukan nya bisa hot jeletot Tuan muda," ucapnya sembari tertawa renyah.


"Baiklah, Saya pasti ke sana!" ucapan terakhir Willy sebelum menutup teleponnya.


"Siapa Tuan muda? Sepertinya Anda serius sekali," tanya sang asisten penasaran.

__ADS_1


"Dari rumah sakit, Netta ingin bertemu dengan ku" jawabnya


"Arnetta Marchetti? Apa yang Dia inginkan? Apa belum cukup Dia mengganggu kehidupan Anda, bahkan saat Dia sakit pun masih ingin mengganggu Anda, benar-benar perempuan aneh," Boy terlihat memikirkan sesuatu.


"Aku rasa ada yang ingin Dia sampaikan," Willy beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Hari ini Aku membebaskan Rafael Marchetti, istriku yang memintanya, karena Ellen sedang hamil, tapi setelah Dia bebas Aku tidak ingin melihat pria itu ada di kota ini, Boy! Usahakan Rafael tidak mendapatkan tempat di kota ini, Aku ingin Kamu melakukan sesuatu agar perusahaan Rafael bisa jatuh ke tangan ku, Aku benar-benar tidak mau Dia masuk kembali ke dalam kehidupan Eve, karena Aku tahu Dia masih mencintai Istriku, jadi Aku harus membuat Rafael pergi dari kota ini selama-lamanya," seru Willy dengan tatapan serius.


"Terus bagaimana dengan Netta? Apa Tuan muda juga akan membebaskannya?" tanya sang asisten.


"Entahlah, ada sesuatu yang membuat ku ragu, antara memaafkannya atau memenjarakannya, tapi sekarang Dia masih dirawat, Aku dan Mommy hari ini akan menemui nya," ucapnya


BERSAMBUNG

__ADS_1


🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2