
Willy tampak tertawa kecil mendengar sang asisten bicara itu, memang benar adanya apa yang disampaikan oleh asisten pribadinya itu.
"Ya sudah, Aku berangkat sekarang," ucap Willy sembari menutup ponselnya. Kemudian Ia berbalik menoleh ke arah istrinya yang masih tampak malu-malu. Eve mendekati suaminya dan memberikan tasnya kepada Willy.
"Ini tasnya, sudah kubilang kan Kamu sedang ditunggu, nggak percaya!" seru Eve sembari mengusap bibir Willy yang terkena bekas lipstik dari bibirnya.
"Tidak masalah, masih ada banyak waktu untuk kita berdua, tunggu Aku pulang!" ucap Willy dengan senyum smirknya.
"Memangnya Pak Willy mau ngapain saya? Hmm!" seru Eve sembari menaikkan alisnya.
"Aku gigit kamu!" ucapnya sembari mencium bibir sang istri lagi dengan cepat sehingga membuat Eve menepuk-nepuk pundak Willy karena merasa tak bisa bernafas.
"Hmmmm ...." suara Eve yang menahan ciuman sang suami yang begitu cepat, dan setelah itu Willy segera pergi secepatnya dengan senyum merekah menghiasi wajah tampannya.
__ADS_1
"Dah ... muach," Willy mencium dari jauh sebelum wajah tampannya menghilang dari balik pintu. Eve tampak sedikit kesal, baru saja Ia membersihkan bibir suaminya yang terkena bekas lipstiknya, ternyata Willy menciumnya lagi, entah noda lipstik itu ada atau tidak Eve belum sempat melihatnya, karena Willy pergi begitu saja setelah Ia mencium bibir istrinya.
"Astaga! Lipstik nya ... au ah, salah sendiri nyium mulu, hmm ... tapi Aku menyukainya," ucapnya lirih sembari melihat dari balkon kamarnya, Willy yang sedang menaiki mobil mewahnya. Eve meraba bibirnya yang sudah dilahap habis oleh sang suami, lipstik yang Ia gunakan pun sudah tak berbekas, mungkin sudah berpindah pada bibir Willy.
Sesampainya di kantor PT Megantara, Willy turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam kantor, sesaat Ia membuka pintu utama kantor PT Megantara, Ia melihat setiap karyawan atau staf yang melihatnya tampak terkejut dan tersenyum kepadanya.
"Selamat pagi Pak Willy!" sapa salah seorang karyawannya.
"Selamat pagi!" jawabnya dengan percaya diri.
"Benarkah? Terima kasih!" balas Willy yang belum mengetahui maksud para karyawan yang tampak senyum-senyum kepadanya.
"Wah ... pak Willy makin cakep aja Pak, kalau boleh tahu yang bapak pakai itu warna apa ya Pak? Kok kelihatan seger banget!" tanya karyawan nya.
__ADS_1
"Hah ... Apa maksud kalian? Warna apa? Warna baju? Ya ini baju saya, kenapa keren kan! Ini istriku yang memilihnya, bagus kan?" Willy yang masih belum mengerti maksud dari karyawan yang sedang memperhatikan warna bibir nya yang kelunturan lipstik Eve, tampak percaya diri dan terlihat tersenyum senang, kemudian sang asisten datang menghampiri segerombolan karyawan yang sedang menyapa sang Direktur yang terlihat berbeda hari ini.
"Eh ... eh ... bubar-bubar, ngapain pada ngumpul di mari, ini bukan arisan ayo bubar, masuk ke ruangan masing-masing!" perintah Boy yang melihat Bosnya sedang dikerumuni bak seorang artis.
Setelah karyawan-karyawan itu pergi ke ruangan masing-masing, kemudian Boy menoleh kearah Willy dan tiba-tiba saja.
"Astaga Tuan muda! habis makan ayam mentah ya?" tanya Boy yang terkejut melihat bibir Willy yang tampak memerah. Boy terlihat mengelus dadanya sambil geleng-geleng kepala.
"Makan ayam, makan ayam gundulmu, Kowe pikir Aku Iki jaran kepang opo! ngawurae!"
(Makan ayam makan ayam, Kamu pikir Aku ini kuda lumping apa? Ngawur saja!" ucap Willy dengan logat jawanya yang khas.
Sang asisten terkekeh melihat bibir bosnya yang tampak merah merekah, meskipun tidak terlalu merah sekali, namun sangat terlihat jika bibir Willy terkena lunturan lipstik Istrinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥