
"Aku tidak perduli itu anak siapa, tapi yang jelas Aku merasa jika kamu adalah wanita yang mampu menggetarkan hati seorang William Anthony, sejak pertama kali Aku melihatmu, Aku rasa ada gejolak aneh pada hati ini, jangan pergi dari kantor ini, Aku sangat membutuhkanmu" Willy berkata itu dengan menatap wajah wanita yang sangat Ia rindukan.
"Ta_tapi Pak!" Willy tampak menutupkan satu jarinya pada bibir Eve, entah kenapa Eve tidak bisa membantahnya, dirinya seperti terhipnotis dengan ucapan Willy.
"Sssttt ... tidak ada kata tapi-tapian, jika William Anthony sudah memberi keputusan, maka keputusan itu tidak bisa diganggu gugat." ucapnya sembari tersenyum kepada Eve.
"Astaga! Kenapa tubuhku terasa kaku saat berhadapan dengannya, siapa dia? Kenapa dia membuatku tak berdaya seperti ini, Aku seolah melihat Jaka pada dirinya, Jaka maafkan Aku."
Eve tampak terpaku dengan sikap Willy, tapi entahlah dirinya juga tidak menolak pengakuan bosnya tentang status anak yang Ia kandung saat ini.
Sementara itu Boy yang tahu jika Bosnya tengah merayu wanitanya, menyuruh seluruh karyawan untuk segera masuk ke ruangan masing-masing.
__ADS_1
"Baik semuanya! Acara penyambutan pak Willy sudah selesai, silahkan masuk ke ruangan kalian masing-masing dan selamat bekerja" seru Boy kepada seluruh karyawan yang hadir di tempat itu
Semua karyawan dan para staf segera pergi ke ruangan masing-masing, hanya Eve yang tinggal bersama Willy di tempat itu. Eve yang menyadari jika seluruh karyawan sudah masuk ke ruangannya mencoba menghindari Willy yang masih menahannya untuk pergi.
"Maaf Pak, sepertinya teman-teman sudah masuk ke ruangannya, jika Pak Willy tidak ingin Saya pergi dari kantor ini, maka izinkan Saya untuk pergi ke ruangan Saya" pinta Eve sembari mendorong tubuh Willy yang terlihat begitu dekat dengannya. Willy menghela nafasnya, dan terpaksa Ia harus mengizinkan Eve untuk pergi.
Setelah tubuh Willy sedikit menjauh, akhirnya Eve segera pergi dari hadapan Willy dengan cepat, Willy memperhatikan Eve, setiap langkah Eve setiap apa yang Eve lakukan semua itu tak luput dari pandangannya. Hingga akhirnya Eve masuk ke dalam lift, perlahan wajah cantik itu menghilang dibalik pintu lift yang mulai tertutup.
"Anda harus bersabar Tuan muda, dia masih syok dengan pengakuan Anda, dia masih menunggu kehadiran Jaka, sedangkan Jaka sekarang sudah berubah menjadi William Anthony, apakah Eve mampu mengenali Jaka yang sekarang sudah menjadi William Anthony, hanya ketulusan cinta Anda yang mampu meluluhkan hatinya, teruslah berusaha mendapatkan perhatiannya Tuan muda, yakinkan Eve jika Jaka telah pergi, dan sekarang hanyalah William Anthony yang akan selalu mendampingi dan mencintainya, Saya yakin cinta dan ketulusan Anda akan mampu membuat Eve mengenali sosok Jaka sebenarnya yang ada pada diri Anda."
Ucapan sang asisten nyatanya membuat Willy berfikir, Dia akan terus meyakinkan Eve jika sosok Jaka sudah pergi, dan Eve harus menerima sosok baru yang kini mencintainya, yaitu William Anthony.
__ADS_1
"Aku akan membuat Eve kembali ke dalam pelukanku, tapi dengan penampilanku sebagai William Anthony." ucapnya yakin.
Sementara di ruangan tempat Eve bekerja, terlihat Veren dan Alinda yang menyambut kedatangan Eve.
"Eve ... kami senang bisa melihatmu lagi" sambut Veren sembari memeluk teman sekantornya itu.
"Iya Eve ... kami khawatir banget, jika kamu benar-benar pergi dari sini" sambung Alinda.
"Iya Aku juga senang bisa bersama kalian lagi ... tapi Aku tak habis pikir, kenapa Pak Willy melakukan itu padaku, kenapa Dia harus mengakui anak ini sebagai anaknya, hanya demi menutupi aibku Dia harus menyebut dirinya sebagai ayah dari bayiku, lalu apa yang akan Aku katakan kepada Jaka nanti, Dia pasti akan kecewa." ucapnya khawatir.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥🔥