Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Teh hangat


__ADS_3

Pagi menjelang, hari itu seperti biasa Eve berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya, putri dari mendiang Ernest Federico itu, tampak sedikit sendu, tangisnya semalam membuat matanya sedikit sembap.


Setibanya di parkiran mobil, Eve tidak sengaja bertemu dengan Jaka, sang OB yang semalam telah bercinta dengannya, Jaka menyapa Eve yang terlihat cuek kepadanya.


“Selamat pagi mbk Eve!”


“Pagi” jawab Eve dengan jutek. Eve segera pergi masuk ke dalam kantor, Jaka terlihat salah tingkah, ternyata Eve tidak memperdulikan nya, Eve seolah acuh terhadap OB nya itu, sedangkan Jaka terus mengikuti Eve dari belakang.


Eve yang menyadari jika Jaka sedang mengikutinya tampak menoleh ke arah Jaka.


“Ngapain kamu ikuti aku terus!” ucap Eve dengan wajah kesal.


“Loh kita kan sama-sama masuk ke kantor mbak e!” Jawabnya enteng.


Eve menghela nafasnya dan kemudian ia segera pergi ke ruang kantornya, sementara Jaka memperhatikan Eve yang sedang berjalan menuju ruang kantor dengan tersenyum tipis.


Tak lama kemudian Eve mulai masuk ke dalam ruang kantornya, sudah ada Alinda yang berada dalam ruangan tersebut.


“Hai Eve!” Alinda menghampiri Eve dengan menunjukkan sesuatu kepada Eve.


“Eve coba lihat deh! Ini benar-benar tempat yang bagus banget buat bulan madu kalian berdua, aku yakin kamu pasti suka tempat ini, selain tempatnya bagus, suasana nya juga sangat romantis, cocoklah untuk pasangan pengantin baru seperti kalian” Alinda Tampak antusias menunjukkan brosur rekomendasi tempat bulan madu di Maldives.


Eve hanya diam dan langsung duduk di meja kerjanya, Alinda yang melihat ada yang berbeda dengan sahabatnya itu lantas bertanya kepada Eve.


“Kamu kenapa Eve?” Alinda bertanya sembari memperhatikan ekspresi wajah Eve yang terlihat bersedih, hingga akhirnya air mata Eve lolos dari sudut matanya. Alinda benar-benar sangat terkejut, ada apa gerangan yang terjadi pada sahabatnya itu, seharusnya Eve bersuka cita karena besok lusa dirinya akan segera menikah dengan sang kekasih yang selama 2 tahun di pacarinya itu, Rafael Marchetti.

__ADS_1


“Eve! Kenapa kamu menangis?” Eve tiba-tiba memeluk Alinda penuh kesedihan, air matanya tumpah seketika. Alinda mencoba menenangkan sahabat nya itu.


“Sebentar ya! Aku akan suruh Jaka untuk mengambilkanmu teh hangat”


Alinda keluar sebentar untuk menyuruh Jaka membuatkan Eve teh hangat.


“Jaka!” seru Alinda


“Iya mbak e! Ada yang dapat saya bantu mbak e?” jawabnya dengan sesekali membungkukkan badan.


“Tolong buatkan teh hangat untuk Eve, cepat ya!” pinta Alinda


“Untuk mbak Eve? Baik segera mbak”


Setelah itu Alinda kembali ke ruangannya, sementara Jaka segera membuatkan teh hangat untuk Eve.


“Sofa itu?” ucap Eve lirih. Eve masih merasa melihat bayangan dirinya dan OB itu yang sedang bersenang-senang di atas sofa berwarna hitam itu, Sontak apa yang diucapkan oleh Eve membuat Alinda terkejut.


“Eve? Apa yang kamu lihat? Memangnya kenapa dengan sofa itu?” tanyanya serius.


Eve terkesiap dengan pertanyaan Alinda, lantas Ia segera membuang pandangannya dari sofa itu.


“Tidak apa-apa!” jawabnya pelan.


“Oke... sekarang katakan Eve! Apa yang terjadi?” Alinda menatap dalam-dalam wajah sahabat nya itu.

__ADS_1


“Aku melihat Rafael tidur dengan Ellen”


“Apa?” Alinda membulatkan matanya


“Aku datang ke apartemennya semalam, dan tidak sengaja aku melihat Rafael dan Ellen tengah bermesraan, mereka tengah bercinta, hatiku benar-benar hancur” Eve menangis sesenggukan, sesekali ia menyeka air matanya.


“Astaga! Ini benar-benar tidak mungkin! Rafael tega melakukan itu padamu dengan Ellen, adik tirimu sendiri” Alinda tak habis pikir Ellen yang selalu Eve biayai kuliahnya, ternyata menusuk Eve dari belakang. Eve menangis sejadi-jadinya, Alinda terus berusaha menghibur sahabatnya itu.


“Tabahkan hatimu Eve! Kamu jangan menangis, semua akan baik-baik saja, aku akan selalu bersamamu”


Tiba-tiba saja Jaka datang dengan membawa secangkir teh hangat untuk Eve. Jaka benar-benar terkejut melihat Eve yang tampak bersedih.


“Ini teh nya mbak” seru Jaka sembari meletakkan teh itu di atas meja Eve, Jaka melihat Eve yang sedang menangis.


“Dia kenapa menangis? Apa gara-gara semalam?” Jaka mencoba menebak, namun justru Eve balik bertanya kepada Jaka.


“Ngapain kamu berdiri di situ?” Eve memandang Jaka penuh kebencian, gara-gara Jaka juga, Eve kehilangan masa depannya.


“Eh...maaf Mbak, saya Cuma khawatir saja dengan Mbak Eve!” Jaka menjawab pertanyaan Eve dengan ekspresi sedih.


“Peduli apa kamu dengan ku, pergi sana! tugasmu itu di pantry, bukan di sini” jawab Eve ketus


“Eve! Kamu jangan kasar gitu sama Jaka, dia kan cuma bersimpati” ucap Alinda.


“Masa bodoh” Eve benar-benar tidak mau melihat Jaka berada di ruangan itu, jika melihat Jaka, ia pasti mengingat kejadian semalam.

__ADS_1


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2