
"Boy Plis! Jangan ...."
Veren benar-benar tidak berdaya, Boy sudah membuatnya meremang panas dingin, Sensasi rasa yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya, Veren benar-benar merasakan ada yang aneh di sana, tapi kenapa dirinya begitu suka.
Jari jemari Boy mulai basah oleh cairan yang keluar dari dinding kenikmatan itu, Boy menyandarkan tubuh istrinya pada dinding dan dirinya menghimpit tubuh yang mulai kepanasan itu.
Sejenak Boy melepaskan jarinya dari sana dan melihat betapa basahnya tempat yang menjadi tujuan utama Boy untuk menyatukan jiwa mereka. Veren menatap Boy penuh harap, agar sang suami menuntaskan rasa penasarannya.
"Kenapa berhenti?" tanya Veren sembari menyandarkan kepalanya pada dinding dan menahan nafas yang mulai tak beraturan.
"Aku mau ganti baju dulu!"
Sepertinya Boy tengah mengerjai sang istri, Boy meninggalkan Veren dan menjauh dari tubuh istrinya yang hampir telanjang bulat itu. Veren merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Boy.
"Kau tidak bisa lakukan ini padaku, Kau harus menyelesaikannya, suamiku!" ucap Veren sembari beranjak pergi menghampiri suaminya.
Boy yang tengah berjalan menuju ruang ganti itu tiba-tiba tangan Veren melingkar sempurna pada pinggangnya dan sangat terasa benda kembar milik Veren itu tampak menghimpit punggungnya. Boy berhenti dan melihat dua tangan Veren yang melekat begitu erat, Boy menyunggingkan senyumnya dan akhirnya Ia berhasil membuat wanitanya mengejarnya untuk melakukan hal yang lebih kepadanya.
__ADS_1
"Jangan pergi tinggalkan Aku seperti ini, Aku tidak akan bisa tidur semalaman jika Kamu lakukan hal ini padaku, ayolah sayang lakukanlah!" ucapnya sembari mendekap erat tubuh suaminya.
"Apa Kamu ingin Aku melakukannya sekarang?" tanya Boy sembari memperhatikan tangan Veren yang mulai turun ke bawah perutnya. Boy membuka sedikit mulutnya saat tangan lentik istrinya mulai meraba kepemilikan nya yang sudah ON sedari tadi.
"Lihatlah dirimu, Kamu pun sama seperti diriku," balas Veren yang mulai membuka ikat pinggang yang mengikat celana Suaminya. Perlahan namun pasti Veren membuka celana itu dengan lembut, dengan masih memeluk dari arah belakang, Veren memberanikan diri memegang benda yang membuatnya penasaran itu.
Boy tampaknya tidak bisa lagi untuk mempertahankan gengsinya, dengan cepat Boy membalikkan badannya dan mendorong tubuh Veren hingga terhempas pada ranjang panas mereka.
Kepala plontos yang sudah terlanjur menyembul keluar itu, terpaksa Boy lepas semua yang menutupi bagian yang belum terlihat, Veren membulatkan matanya saat melihat kepemilikan seorang pria untuk pertama kali, dan kini Ia bisa bayangkan bagaimana benda berdiri tegak itu masuk ke dalam raganya.
"Sreeeppp" Dan akhirnya lembah yang indah itu terpampang nyata di hadapan Boy yang tampak tidak berkedip sama sekali, lembah yang ditumbuhi bulu-bulu halus disekitarnya, memberi kesan jika tempat itu masih asri dan belum terjamah oleh siapapun, dengan bentuknya yang masih sangat imut.
Boy menelan salivanya saat underwear itu benar-benar terlepas sempurna, dan kini keduanya sudah sama-sama bugill, Dengan cepat Boy menindih tubuh istrinya sembari menyambar bibir Veren yang sedari tadi tampak Ia gigit sendiri, namun sekarang Boy beralih peran, Ia sendiri yang menggigit bibir istrinya.
Entahlah seperti baut dan mur, seolah keduanya sudah menemukan tempatnya masing-masing, tanpa arahan dari tangan mereka, rudaal milik Boy siap melesat menembus benteng pertahanan milik Veren.
Satu kali tusukan, Veren berteriak kecil dan menggelengkan kepalanya, Boy sejenak berhenti dan bertanya kepada istrinya. "Kamu kenapa Sayang?"
__ADS_1
Veren membuka matanya dan menatap dalam-dalam wajah suaminya yang mulai menunaikan kewajibannya.
"Tidak apa-apa, teruskan saja Aku pasti bisa menahannya," balasnya dengan tatapan mata yang sendu.
"Yakin!"
Veren hanya menganggukkan kepalanya dan Ia tidak mampu berucap banyak. Karena rasa itu begitu nano nano ramai rasanya. Dan Boy pun melanjutkan perjalanan rudaal nya yang baru saja menyentuh pintu utama kepemilikan Veren.
"Aku akan menembusnya sedikit demi sedikit, agar Kamu tidak merasa sakit, tahan sedikit!"
Rupanya Veren mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya, Ia segera mempersiapkan diri untuk merasakan saat-saat pecahnya selaput dara miliknya. Dengan sangat pelan Boy mulai menerjang benteng itu dengan sangat lembut, sangat terasa pada diri Veren, ada sedikit rasa perih dan sangat ngilu saat benda keras itu menghantam kepemilikannya.
"Akkhhh ... Sayang! Sakit," pekiknya saat kepemilikan Boy berhasil masuk seluruhnya ke dalam inti tubuh istrinya. Kedua kaki Veren gemetar, sejenak Boy berhenti dan membiarkan Veren beradaptasi dengan miliknya yang berada di dalam sana.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1