
Memang ruangan dan kantor itu adalah milik William Anthony, tidak ada yang bisa melarang Willy melakukan apapun, Ia bebas melakukan apa saja dalam kantornya sendiri, kedatangan sang istri rupanya membuat Willy terbakar gairah.
Suara desaahan dan lenguhan terdengar sangat erotis memenuhi ruangan Willy, sesekali Eve menyebut nama suaminya saat apa yang dirasakannya begitu nikmat terasa.
"Aku mencintaimu Baby!" bisik Willy disela-sela gerakan dirinya memompa yang dibawah sana. Dengan gerakan relatif cepat namun tidak terlalu brutal, mengingat ada janin yang sedang Ia jaga.
"I love you too, hmm ... kenapa Aku tidak pernah bisa menolak permintaanmu sayang! Kamu selalu membuatku terbang melayang," balas sang istri sembari mencengkram kuat punggung bertato itu.
Di atas sofa dalam ruangan Willy tersebut, keduanya menikmati indahnya surga duniawi yang membuat Eve dan Willy merasakan sensasi rasa nikmat yang tiada tara.
Willy sudah mengirimkan pesan kepada Sang asisten agar tidak mengganggunya terlebih dahulu, karena ada Eve di dalam ruangannya saat ini, Willy ingin menghabiskan waktu bersama istrinya sejenak, sebelum istrinya kembali pulang ke rumah.
Maka dari itu Boy terpaksa menunggu Willy menyelesaikan senang-senangnya dalam ruangannya dengan menghampiri Veren yang berada di dalam ruangan kerjanya, Boy terlihat masuk ke dalam ruangan Veren yang terdapat beberapa karyawan yang berada di dalamnya. Boy pura-pura memanggil Veren atas perintah Willy.
"Veren! Kamu dipanggil pak Willy tuh!" serunya kepada Veren yang tampak terkejut.
__ADS_1
"Pak Willy mencari saya? Tumben sih! Ada apa yah?" gumamnya yang tak biasa Willy memanggilnya, karena yang sering Willy panggil adalah Eve.
Veren berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti Boy pergi, Boy membawa Veren ke suatu tempat diluar kantor, Boy mengajak Veren makan untuk menemaninya.
"Loh kok kita di sini? Ini kan belum waktunya makan siang, kurang setengah jam lagi kan?" tanya Veren sembari melihat jam tangannya.
"Hmmm iya, sorry Aku ngajak kamu kesini, soalnya bos lagi ada tamu," ucap Boy berbohong.
"Tamu! Seharusnya kamu ikut nemuin tamunya dong! Kok malah di sini sama Aku, apa pak Willy nggak marah?" tanya Veren menyelidik.
"Justru jika Aku ikut masuk Pak Willy bakal gethok nih kepalaku, bakal di mutilasi ane," jawabnya sambil meminum segelas jus yang diberikan pelayan untuknya.
"Kok bisa gitu?" tanyanya sambil memandang wajah Boy penasaran.
"Ya bisalah, tamu pak Willy kali ini istimewa soalnya, selama mereka berdua di dalam ruangan itu, kita diharamkan masuk ke sana apapun alasannya." ucap Boy sembari membalas tatapan mata Veren.
__ADS_1
Veren tampak mengedipkan matanya berkali-kali, Ia mencoba menebak tamu siapa yang bisa membuat Willy menjadi seperti itu. Dengan terus memandang mata Boy, Veren akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh pria yang akan menikahinya itu.
Sejenak Veren tersenyum dan memalingkan wajahnya, Ia tampaknya sudah faham tamu siapa yang dimaksud oleh Boy.
Boy melihat Veren tampak salah tingkah dan tersenyum malu.
"Kamu kenapa? Senyum-senyum gitu? Sudah tahu maksudku?" tanya Boy dengan ekspresi yang terlihat menggoda Veren.
Veren mengangguk pelan karena Ia malu, karena Boy dan Veren membayangkan apa yang sedang dilakukan oleh Willy di dalam ruangannya.
"Apa kamu tahu? kira-kira mereka sedang apa ya? Kok lama banget" tanya Boy pura-pura tidak tahu.
"Memangnya Kamu nggak bisa lama seperti mereka? Wahh ... sayang sekali ya!" celetuk Veren yang membuat Boy spontan memegang tangan Veren yang berada di atas meja.
"Kamu meragukan kemampuan ku, mau Aku tunjukin? Tunggu saatnya tiba, Kamu tidak akan bisa berkata apa-apa," balas laki-laki berwajah tampan itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥