Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Membalas kematian Netta


__ADS_3

Boy segera beranjak pergi dari tubuh istrinya, dan Ia segera mengusap lembut wajah Veren, Ia peluk Veren yang masih belum sadar itu sembari berkata, "Maafkan Aku sayang! Aku tidak bermaksud membuatmu pingsan, bangun dong, gitu aja masa kamu pingsan sih, punyaku kegedean ya!" ucapnya sembari memeluk Veren.


Tiba-tiba saja terdengar suara kecil yang mengatakan, "Aku capek banget, Aku tinggal bobo sebentar tadi."


Boy kegirangan, ternyata istrinya sudah sadar dari pingsannya, dengan cepat Boy menatap wajah Veren mencium keningnya.


"Sayang! Kamu sudah sadar, syukurlah kamu tidak jadi semaput, Aku benar-benar bersalah padamu, maafkan Aku!" ucapnya.


Veren mendongak dan melihat wajah bersalah Suaminya.


"Maaf? Untuk apa?" tanyanya penasaran.


"Karena sudah membuatmu kelelahan," jawabnya sembari membalas tatapan mata istrinya. Veren tersenyum dan mengusap lembut wajah sang suami.


"Kenapa kamu harus merasa bersalah, Aku tidak apa kok, mungkin Aku belum terbiasa dengan semua ini, next time pasti kuat kok, hanya saja hari ini Aku masih kaget, by the way kok sekarang ngilu sih rasanya, Kamu apain Yank?" seru Veren saat merasakan pusat intinya terasa begitu nyeri saat dirinya berpindah posisi.


"Hah ... masa sih?"

__ADS_1


Boy tampak tidak percaya, padahal saat percintaan itu terjadi, keduanya sama-sama menikmati dan sama-sama merasakan keenakan.


Spontan Veren menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, matanya terbelalak ketika noda darah pada sprei dan melihat miliknya yang berubah bentuk, lebih terlihat gemuk.


"Sayang kok sampai begitu bentuknya? Pasti nyeri banget nih kalau buat jalan!" ucapnya lirih sembari meraba miliknya yang terasa lebih besar dari sebelumnya.


Boy tampak ikut menyaksikan perubahan fisik milik istrinya yang terlihat gemukan dari sebelumnya, Boy tersenyum dan segera memeluk istrinya.


"Nggak apa-apa, nanti Aku gendong kalau nggak bisa jalan." ucapnya mencoba menenangkan sang istri.


"Parah Kamu Sayang!" Veren tampak mengerucutkan bibirnya.


"Padahal nggak gede gede amat, tapi kok bikin ngilu sih!" Veren kembali meringis merasakan nyeri saat Dia berganti posisi. Setelah Ia lihat milik suaminya berukuran standar, nggak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.


"Jangan lihat ukurannya, stamina nya dong, itu yang penting, besar-besar buat apa kalau tidak bisa tahan lama, lebih baik biasa-biasa saja, tapi tenaga luar biasa."


Boy dan Veren terkekeh dan saling memeluk, benar-benar pengalaman yang membuat mereka berdua tidak akan pernah melupakannya, akan selalu terpatri dalam hati untuk selamanya.

__ADS_1


*


*


*


*


*


Keesokan harinya, tampak seorang pria datang ke pemakaman Netta, tanah kuburan yang terlihat masih baru dan masih penuh dengan bunga-bunga yang sedikit kering bertaburan di sekitar pusara yang bertuliskan Arnetta Anthony.


Seorang pria berjongkok sembari menaburkan bunga di atas kuburan Netta seraya berkata, "Kak Netta, Aku tidak akan membiarkan kematian mu sia-sia, Aku sangat menyayangimu, meskipun kita bukan saudara kandung, tapi Kak Netta sedari kecil selalu menyayangiku, Aku akan membalas atas kematian mu, Aku tidak terima jika Kak Netta harus pergi dengan cara seperti ini, William Anthony harus membayar semuanya, gara-gara Kamu Kakakku Arnetta Marchetti meninggal dunia, tunggu saat itu tiba, Aku akan menghancurkan mu."


Terlihat air mata yang terjatuh dari sudut mata pria tampan itu, Rafael Marchetti dengan wajah seriusnya sembari menggenggam tanah kuburan itu, bertekad untuk membalaskan kematian sang Kakak.


"Mungkin sekarang Kamu bisa tertawa, tapi ingat William Anthony, suatu saat Aku pasti datang merebut semuanya, termasuk Eve yang sudah kau rampas dariku."

__ADS_1


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2