Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Jangan lama-lama


__ADS_3

Sementara di tempat lain, malam ini Boy akan melamar Veren dan meminta izin kepada kedua orang tua Veren untuk memperistri anak perempuan mereka. Boy datang sendiri, dengan penuh percaya diri Boy berharap kedua orang tua Veren merestui hubungan mereka berdua.


"Selamat malam Om, Tante!" sapa Boy kepada Pak Bambang dan Bu Bambang, Ayah dan Ibu Veren.


"Selamat malam!" jawab Pak Bambang yang memiliki kumis yang cukup tebal, sehingga memberi kesan jika Ayah Veren adalah seorang yang garang.


"Waduh bapaknya kayak algojo nih, tebal banget kumisnya, apalagi yang di sana," gumam Boy sembari memperhatikan kumis pak Bambang secara teliti. Sementara itu Veren menyikut tangan Boy yang tampak terdiam sembari memperhatikan kumis Ayahnya.


Sejenak Boy terkesiap saat Veren menyikut tangan nya.


"Hmm masuk!" seru Pak Bambang kepada Boy.


"I_iya Om!" jawabnya sambil menundukkan kepalanya.


"Silahkan duduk!" Pak Bambang mempersilahkan Boy untuk duduk. Dan setelah semuanya duduk di kursi masing-masing, Boy kemudian mulai mengutarakan niatnya untuk melamar Veren menjadi istrinya.


"Begini Om, Tante, kedatangan Saya kemari adalah untuk melamar Veren sebagai istri saya, Saya sangat berharap Om dan Tante mengizinkan Saya untuk memperistri Veren secepatnya," ucap Boy dengan serius.

__ADS_1


"Hmm ... jadi Kamu ingin melamar anak Saya?" balas Ayah Veren sambil memintir-mintir kumisnya.


"Iya Om, apa Saya di izinkan untuk menjadi menantu Om dan Tante? Saya sangat mencintai Veren." ucap Boy penuh harap.


"Veren sudah cerita semuanya kepada kami, kalau menurut Om dan Tante, jika memang kamu sungguh-sungguh mencintai Veren, kami sih apa kata Veren saja, karena yang kami lihat kamu pria yang baik dan bertanggung jawab, kami sebagai orang tua hanya bisa berharap anak-anaknya bahagia," ucap Pak Bambang.


"Iya Om, Saya berjanji akan selalu membahagiakan putri Om dan Tante, Saya tidak akan menyakitinya, dan Saya akan selalu memberikan kepuasan lahir dan batin, dan tentunya Saya akan berikan anak yang banyak, eh salah... uang yang banyak maksud nya," ucap Boy yang diiringi tawa Pak Bambang dan Bu Bambang.


Veren terlihat malu-malu meong, kemudian sang ayah menanyakan langsung kepada putri satu-satunya itu.


"Bagaimana Veren? Apa kamu mau menikah dengan Boy?" tanya sang ayah. Veren tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya.


Ucapan Veren membuat Ayah dan Ibunya saling menatap dan menggelengkan kepalanya.


"Anakmu Yah! Udah ngebet dia!" ucap Bu Bambang pada suaminya.


"Ya anakmu Bu! Persis kayak Ibu dulu saat Ayah lamar, mintanya langsung nikah, padahal Ayah ini lagi nyari utangan buat modal nikah, Ibu sudah ndak sabaran, apa karena Ibu sudah kesemsem sama kumis Ayah ini hmm!" jawab Pak Bambang sembari menggoda istrinya.

__ADS_1


"Ah ... Ayah gimana sih, jangan buka kartu lah, malu sama mereka," Bu Bambang tampak tersenyum malu.


Semuanya terkekeh melihat tingkah kedua orang tua Veren yang saling bercanda.


"Baiklah kalau begitu, Ayah sih bagaimana Nak Boy saja, apa Nak Boy setuju jika pernikahan kalian dipercepat?" tanya Pak Bambang yang langsung dijawab oleh Boy dengan semangat.


"Oh ... Saya siap banget Pak, kapanpun kalau diminta menikah dengan Putri Bapak, Saya selalu siap, sekarang pun bisa," jawab Boy spontan.


"Waduh ... piye toh Bu, dua-duanya sudah ndak sabaran," bisik Pak Bambang pada istrinya.


"Ya sudah Yah, percepat saja biar mereka ndak kebablasan," jawab sang istri.


Boy tampak tersenyum nakal melihat wajah Veren yang bersemu merah, seolah hati mereka saling berbicara.


"Tunggu sebentar lagi, dan Kamu pasti tidak bisa lari dariku sayang!" gumam Boy


"Hmm ... nggak takut, Aku pastikan Kamu yang akan kalah," Veren tampak mengulum senyumnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2