
Tiba waktunya jam istirahat, tentu saja ketiga wanita itu keluar kantor untuk mencari makan, Eve rupanya sudah mulai nafsu makan, dirinya sudah tidak merasakan mual-mual lagi, semenjak Willy yang merasakan mual muntah, semenjak itulah Eve menjadi doyan makan dan ngemil, kali ini mereka bertiga pergi ke restoran biasa mereka nongkrong saat jam makan siang.
Ketiganya sedang asyik makan siang hingga akhirnya mereka melihat Boy yang sedang memesan makanan. Eve menghampiri Boy yang sedang memesan makanan kepada pelayan.
"Pak Boy! tumben Anda di sini,"
"Eh ... iya, ini Bos muntah-muntah terus tadi, habis meeting Dia tidak tahan untuk mengeluarkan isi perutnya, Pak Willy nggak mau makan, tapi Aku kasihan padanya, pak Willy kelihatan lemas banget, terpaksa Aku belikan pak Willy makanan, siapa tahu dia mau," balas pria bertubuh tinggi itu.
"Astaga! Kasihan sekali, biar Aku yang bujuk Dia untuk makan," pinta Eve sembari mengambil sebungkus makanan yang dibawa oleh Boy.
"Eh ... bener nih, makasih ya Eve Kamu udah mau nolong aku Kalau gitu Aku mau makan dulu sebentar, laper banget," ucapnya sambil memegangi perutnya.
"Iya nggak apa-apa," Eve tersenyum dan balik kepada kedua temannya.
"Veren, Alinda, Aku duluan masuk ke kantor," ucap Eve sembari beranjak pergi dari restoran.
__ADS_1
"Loh Eve! Kamu mau kemana, ini belum waktunya masuk kantor!" seru Alinda sambil menengok jam tangan.
"Aku ada perlu sebentar, daahh sampai jumpa nanti," pamitnya sembari berlalu meninggalkan mereka berdua. Alinda dan Veren melanjutkan makan kembali, dan tiba-tiba saja Veren melihat Boy yang sedang duduk di meja yang bersebrangan dengan Veren.
Boy duduk di kursinya, tanpa sengaja Ia melihat Veren yang sedang duduk di meja seberang. Boy tersenyum melihat kedua wanita itu. Wajah Veren menghadap tepat kearahnya, sedangkan Alinda tampak membelakangi Boy.
Boy melihat kearah Veren yang tepat berhadapan dengannya. Sekilas Veren melihat Boy yang duduk di meja seberang, Boy tampak menggoda Veren dengan menggerakkan alisnya naik turun.
"Diiih, ngapain tuh orang di situ, pake godain segala, hmm ... nggak mempan!" Veren terlihat cuek menanggapi Boy, dan tiba-tiba saja ada karyawan cewek yang menghampiri Boy yang sedang makan sendirian.
Mereka berdua terlihat akrab, Boy dan si cewek itu terlihat sedang bercanda sembari makan siang, entah kenapa Veren menjadi sakit mata saat melihat keakraban Boy dan cewek tersebut. Apalagi cewek itu minta foto bareng bersama Boy, dan diunggahnya di media sosial.
"Hiiii ... norak banget, gini aja di upload," kesalnya sembari melihat sosmed cewek itu yang baru saja meng-upload foto kebersamaan nya bersama sang asisten Direktur utama William Anthony, yang Ia beri capture. 'Bersama sang Asisten'.
Sontak unggahan cewek tersebut menuai pujian dari teman-temannya, entah kenapa Veren tiba-tiba saja tidak suka melihat berita itu.
__ADS_1
Kemudian Ia beranjak pergi dari sana bersama Alinda, mereka berjalan melewati di mana Boy berada, tiba-tiba saja kaki Veren tersandung dan sontak membuat badannya terjatuh, dengan cepat Boy menangkap tubuh Veren.
"Sreeeppp"
Hingga akhirnya tatapan mata itu tidak bisa dielakkan lagi, Boy menahan tubuh Veren dengan dua tangannya, sementara kedua tangan Veren bergelayut pada leher Boy.
"Aduuh Emaaakkk ... kok atiku deg-degan banget Iki, piye ngene Iki, atiku Ra karuan," Boy bergumam sembari menatap mata Veren.
"Ah Pak Boy! Aku kok jadi suka sih lihat bola matamu," Veren tidak mengedipkan matanya.
Keduanya terbius oleh pandangan mata itu. Hingga tiba-tiba saja terdengar suara yang membuat keduanya terkejut.
"Ehem ... ehem ... ehem!" berkali-kali Alinda berdehem kepada keduanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥