Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Ini baru ciuman, belum lainnya


__ADS_3

"Aku antar Kamu pulang!" ucap Boy kepada Veren, dan gadis itu pun menyetujuinya, kemudian Boy pun mengantarkan Veren pulang dengan mobilnya, betapa Veren sungguh malu mengingat dirinya saat mencium Boy tadi.


"Aku minta maaf, jika tadi sudah ... sudah berani menciummu," ucapnya sembari menundukkan wajahnya.


Boy tersenyum, ah betapa gadis ini luluh kepada nya hanya dengan sebuah ciuman yang membuat Veren begitu menikmati bahkan justru ingin merasakannya lagi.


"Ini baru ciuman, belum yang lainnya," jawab pria berkulit putih itu sembari tertawa kecil


Veren menatap wajah Boy dan membulatkan matanya, Ia menggelengkan kepalanya dan membuang wajahnya karena menahan rasa malu yang luar biasa.


Boy yang melihat itu tampak bertanya kepada wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta itu.


"Kenapa?" tanya Boy yang melihat Veren tampak bersemu malu.


"Tidak ada," jawab Veren malu, Boy tampak tersenyum renyah.


"Setelah Tuan muda menikah, Aku akan segera menikahimu," seru Boy serius.


"Tuhan! Begitu cepat Engkau mengirimkan jodoh untukku, Dia laki-laki yang telah Engkau kirim untukku, semoga ini menjadi awal hubungan kami, dan semoga ini menjadi kisah cinta pertama dan terakhirku," gumam Veren bahagia.

__ADS_1


*


*


*


*


Sementara itu Eve yang masih berada di dalam mobil Willy, tampak merasa bahagia, hari ini Willy sudah membuat Eve begitu sangat terhormat, laki-laki blasteran Perancis itu melamarnya secara resmi di depan semua orang, dan tidak malu mengakui jika bayinya adalah anak mereka.


Eve memandang wajah Willy yang sangat terlihat tampan sekali malam itu, jas hitam metalik di padu dengan kemeja berwarna putih, sangat terlihat elegan dan mewah saat pakaian itu melekat pada tubuh Willy yang kekar.


Willy yang menyadari jika Eve tengah memperhatikannya, terlihat menatap Eve penuh tanda tanya.


Eve tertawa kecil, betapa pria itu percaya diri sekali menganggap bahwa dirinya tampan, meskipun Eve tidak menyangkalnya, Willy benar-benar pria yang tampan.


"Hmm ... benarkah Kamu tampan? Kalau Aku bilang lebih tampan Jaka, gimana dong?" Eve berkata dan menggoda Willy.


"Apa Kamu ingin Aku menjadi Jaka lagi?" tanya Willy sembari tersenyum.

__ADS_1


"Aku masih merindukan sosok Jaka," balas Eve sembari menatap wajah Willy dalam-dalam.


"Duh ... piye toh Mbak Eve ini, orang Jaka wes ganteng ngene loh Mbak, kurang kepriye maneh, gak urungane rasane Yo Podo wae loh mbak, tenanan toh? Ngaku aja,"


(Duh ... gimana sih Mbak Eve, orang Jaka udah tampan gini loh Mbak, kurang apalagi, lagipula rasanya sama saja loh Mbak iya, kan? mengaku saja?" ucap Willy dengan logat jawanya.


Eve terlihat tertawa riang mendengar Willy seorang Direktur utama tengah berbahasa Jawa seperti itu, seorang CEO yang terbiasa berbahasa asing, kini di hadapan Eve Pria berwajah tampan itu berbahasa Jawa.


Tawa riang Eve tak lepas dari pandangan Willy yang terlihat begitu senang melihat Eve bahagia. Tiba-tiba saja Willy menghentikan mobilnya dan membuat Eve terkejut.


"Kenapa berhenti?" tanyanya. Kemudian Willy berbicara kepadanya.


"Aku tidak akan biarkan senyum bahagia itu hilang dari wajahmu Eve, senyum itu akan selalu ada dalam wajah cantikmu, selamanya!" ucapnya sembari menangkup wajah Eve dengan kedua tangannya.


Pandangan keduanya saling bertemu, dan tiba-tiba saja untuk kesekian kalinya Willy berhasil menautkan bibirnya pada bibir Eve yang tampak merekah saat itu.


Willy mengecupnya sekilas, kemudian mengecup lembut kening Eve dengan lembut.


"Terima kasih Kamu sudah memberikan sejuta cinta untukku, Aku benar-benar wanita yang sangat beruntung, beruntung karena dicintai oleh seorang William Anthony," balas Eve sembari membalas ciuman Willy.

__ADS_1


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2