Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Kenapa Aku merasakan hal seperti ini


__ADS_3

Veren menatap Boy dengan tersenyum paksa, kemudian sang Nenek menyuruh kedua pengantin baru itu untuk segera masuk ke dalam kamar mereka.


"Ya sudah! Karena ini sudah malam, lebih baik kalian istirahat saja, Nenek akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar kalian," seru sang Nenek kepada keduanya.


"I_iya Nek!"


Boy segera membawa istrinya ke kamar atas, dengan wajah yang dipenuhi kebahagiaan, Boy tampak begitu bersemangat hari ini, karena dipastikan sesuai rencana, Ia akan segera melepaskan status perjaka nya.


Kamar pengantin mulai terbuka, Boy menggandeng tangan Veren untuk segera masuk ke dalam kamar yang sudah di tata sedemikian rupa untuk pasangan pengantin baru itu.


Veren tampak memperhatikan sekeliling kamar yang bernuansa putih itu, sungguh sangat indah dan terlihat begitu romantis, dengan cahaya lampu remang-remang yang menghiasi sudut ruangan itu.


Boy tampak melepaskan jas pengantin nya dan melepaskan kancing atas kemejanya, sementara Veren agaknya masih sangat malu hanya berdua bersama Boy.


"Hmm ... Aku mau tidur, Aku capek sekali!" ucap Veren sembari naik ke atas ranjang. Boy kemudian menghampiri sang istri yang tengah berbaring di atas tempat tidur. Veren pun terkejut saat Boy tiba-tiba duduk di atas ranjang mengikuti dirinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu ikut kesini?" tanya Veren sembari bangun dan duduk.


"Ini kan tempat tidurku? Apa Aku tidak boleh ke sini?" jawabnya dengan tersenyum.


"Hmm ... ya sudah Aku pergi dulu!" Veren tiba-tiba bangkit dan beranjak pergi turun dari tempat tidur, namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh tangan Boy dan berkata, "Kamu mau kemana?"


"Aduuh ... tanganku! Sumpah gemetar banget nih," gumam Veren sembari memejamkan matanya rapat-rapat.


"Tanganmu dingin sekali! Apa kamu gugup?" tanya Boy yang terus menggenggam tangan istrinya.


"A_aku mau melepaskan gaun ini dulu, rasanya begitu berat," alasan Veren.


"Deg"


"Ti_tidak usah! Aku bisa sendiri," sangkal Veren sembari beranjak pergi dan melepaskan sendiri gaun pengantin nya.

__ADS_1


Boy masih berada di atas tempat tidurnya dan masih memperhatikan Veren yang tampak kesusahan melepaskan ritz belakang gaun pengantin itu. Veren yang mengetahui jika sang suami tengah memperhatikannya, tampaknya Ia tidak mau Boy melihatnya.


"Kenapa lihatin Aku seperti itu?" tanyanya dengan wajah yang serius.


Boy justru mendekatinya dan tiba-tiba saja menarik tangan Veren dan membalikkan badan Veren, sehingga Boy berada di belakang tubuh istrinya. Veren tampak membulatkan matanya saat tangan Boy mulai menyentuh punggungnya dan nafas Boy terasa begitu hangat pada leher belakang Veren.


Veren sedikit memejamkan matanya saat Boy mulai menarik ritz gaun pengantin yang menutupi tubuh istrinya. Perlahan namun pasti ritz itu mulai terbuka, dan tampaklah punggung nan putih halus terpampang nyata di hadapan seorang Boy. Entah kenapa Veren tidak bisa menggerakkan kakinya untuk pergi dari sana, seolah ada magnet yang terus menarik dirinya pada seorang Boy.


Perlahan Boy menyentuh permukaan punggung yang halus itu dengan ujung jarinya, sentuhan itu seperti sebuah setrum yang merambat ke seluruh tubuh Veren, gadis itu mulai meremang, Ia belum pernah sama sekali merasakan sentuhan seorang pria.


Veren merremas kedua tangannya yang masih teraba dingin karena rasa gugup itu masih menyelimuti dirinya. Boy yang mengerti jika sang istri terlihat sedang menikmati sentuhannya, mencoba melakukan hal yang lebih dalam lagi dengan mengecup punggung Veren dengan mesra, dan tentu saja Veren semakin tidak bisa menahan rasa itu lagi.


"Ahh ... kenapa Aku merasakan hal seperti ini,"


gumamnya sembari menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2