Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Bonchap 1


__ADS_3

Akhirnya Willy berhasil juga membujuk sang istri, rupanya dirinya sudah mempersiapkan kejutan di dalam kamar mereka berdua, selama pesta berlangsung Willy sudah membayar orang untuk membuat kamar mereka seindah mungkin, persis seperti kamar pengantin baru, Eve melihat perubahan kamar tidur mereka begitu terkejut dan tidak menyangka jika suaminya akan memberikan surprise kepadanya.


"Wow ... untuk apa kamu lakukan ini sayang? kita bukan pengantin baru, ini terlalu berlebihan untukku!" ucap Eve sembari berkeliling memperhatikan isi kamar mereka yang disulap menjadi kamar yang begitu romantis, dengan cahaya yang temaram yang membuat suasana kamar itu terlihat begitu intim.


Sepertinya Willy masih memperhatikan istrinya yang tampak terkesima melihat kamar mereka, Eve menghampiri suaminya dan dengan lirikan menggodanya Eve menarik dasi Willy dan melepaskannya perlahan.


"Kita memang bukan pengantin baru, tapi Aku merasa malam ini adalah malam pengantin kita yang sebenarnya, sekarang Aku bisa bebas melakukan apa saja tanpa takut menyakiti janin dalam rahimmu," bisiknya pada telinga Eve sembari mencumbu leher jenjang itu.


Suasana kamar yang di desain khusus malam ini membuat keduanya ikut terhanyut dalam sentuhan yang sama-sama mereka rasakan. Sejenak Eve membulatkan matanya saat tangan Willy telah meraba sesuatu yang lama tidak Ia sentuh.


"Jangan Sayang! Aku masih takut!" seru Eve sembari menggigit bibir bawahnya saat tangan Willy menyingkap belahan gaun Eve yang memperlihatkan paha mulusnya, sementara tangan Willy bergerak nakal menyentuh sesuatu yang menjadi kebanggaan sebagian besar wanita.


Dengan terus menciumi leher istrinya, Willy kemudian menatap wajah sang istri yang terlihat meremang dengan tatapannya yang nakal, hingga satu kata terucap dari bibir pria tampan itu. "Basah"


Eve membalas tatapan mata suaminya dengan nafasnya yang mulai naik turun, entah sejak kapan gaun indah yang awalnya menutup tubuh seksi Eve, tiba-tiba saja tergeletak di atas lantai, begitu pun dengan jas dan kemeja yang melekat pada tubuh Willy yang sempurna.


Sangat jelas terlihat tato naga itu tampak di elus oleh tangan dari seorang wanita, sesekali tangan Eve mencengkram erat punggung yang bertato naga itu, dan suara-suara indah yang awalnya terdengar lirih, kini suara itu mulai terdengar semakin keras, sesekali Eve menyebut nama suaminya tatkala Willy mencoba menerobos apa yang sudah menjadi miliknya, sebuah gua tempat favoritnya yang selama dua bulan ini Ia tinggalkan.


Rupanya meskipun Willy meninggalkan nya cukup lama, tampak nya pemilik aslinya merawat gua itu dengan baik, sehingga penampilan tempat favorit Willy itu terlihat begitu menggiurkan di mata Willy, benar-benar bersih dan indah.


Willy menyeringai, sudah saatnya keris pusaka nya Ia ruwat, cukup melelahkan baginya menunggu 2 bulan berpisah dari sang istri.


"Siap-siapo Yeyayi! Keris ku Iki bakal nyelorot neng njero, ojo kaget yo! Ora bakal loro, mesti penak!"

__ADS_1


(Bersiaplah Sayang! Keris ku ini akan masuk ke dalam, jangan terkejut ya! Tidak akan sakit, pasti nikmat) bisiknya sembari mengarahkan senjata pamungkas itu untuk melesat ke dalam sana.


Karena kondisinya yang sudah basah sedari tadi, itu memudahkan Keris kejantanan itu masuk sempurna sampai ke dalam. Keduanya sama-sama terpejam saat penyatuan itu terjadi kembali, suasana kamar yang temaram semakin membuat Eve dan Willy terhanyut dalam gairah cinta mereka, bibir atas dan bawah yang saling terpaut, diiringi gerakan Willy yang slowly namun begitu sangat terasa membakar jiwa.


"Baby! Aku merindukanmu disaat-saat seperti ini, Aku tidak bisa harus berpisah denganmu, itu sangat menyiksaku." bisik Willy disela-sela gerakan memompa yang dibawah sana.


Eve tak mampu menjawab suaminya karena sensasi rasa itu begitu nikmat sehingga Eve hanya bisa menganggukkan kepalanya dan sesekali merremas rambut sang suami.


Ah sungguh betapa debaran hati itu bersatu dalam kemesraan, mencurahkan segala rasa rindu, keduanya benar-benar menikmati malam itu, bahkan kemesraan mereka berdua tak kalah dari pengantin baru yang sesungguhnya.


Satu jam, dua jam rasanya tidak cukup untuk mencurahkan kerinduan itu, semalaman Willy mengobati rasa rindunya kepada sang istri, Eve tak bisa sedetikpun lari dari dekapan suaminya, sudah tak terhitung dirinya melepaskan gejolak itu, begitu pun dengan Willy, naik lagi, turun lagi, hingga akhirnya Willy melihat Eve yang mulai tampak kelelahan.


"Kamu sudah lelah?" tanyanya sembari menghentikan gerakan memompa yang dibawah sana, sementara tangannya mengusap wajah sang istri yang dipenuhi oleh keringat.


"Jika Kamu lelah, maka Aku akan menghentikannya, Aku tidak akan memaksamu." ucap laki-laki yang kini berada di atas tubuh Eve yang polos.


Akhirnya jam menunjukkan pukul empat pagi, Willy turun dari tubuh istrinya dengan nafas yang tersengal-sengal, aktivitas malam itu pun berakhir indah, keduanya saling memeluk hingga akhirnya mereka berdua tertidur pulas sampai sang Surya menunjukkan senyumnya.


*


*


*

__ADS_1


Sementara itu Liora belum melihat sang menantu dan putranya bangun, biasanya Eve bangun pagi sekali, namun sangat berbeda dengan hari ini, keduanya tampak belum menunjukkan batang hidungnya.


"Mbak Yem opo mantuku wis tangi? Kok sajake urung kitok metu soko kamar! Opo ora sarapan toh bocah-bocah kae, opo ora luwih, si kembar nangis opo ora Mbak Yem? Amarga Mommy ne durung metu."


(Mbak Yem apa membantuku sudah bangun? Kok sepertinya belum kelihatan keluar kamar! Apa mereka nggak sarapan, apa tidak lapar, si kembar menangis apa tidak Mbak Yem? Karena Mommy nya belum keluar kamar) tanya Liora sembari menunggu putra dan menantunya di meja makan.


"Ohh Nyonya piye toh! Yo mesti wae Nyonya Eve sama Tuan muda durung tangi, mestine keris e durung garing Nyonya, isih nancap lan isih teles."


(Ohh Nyonya gimana sih! Ya tentu saja Nyonya Eve sama Tuan muda belum bangun, pasti keris nya belum kering Nyonya, masih tertancap dan masih basah) jawab sang asisten lirih. Liora tertawa mendengar ucapan Mbak Yem yang lucu.


"Si kembar koyo ne, weruh nek Mommy sama Daddy nya lagi indehoy, pinter banget Nyonya ora nangis blas, biyuh biyuh Jian pinter kok e, ora nggupui."


(Si kembar sepertinya tahu jika Mommy dan Daddy nya sedang bermesraan, pintar sekali Nyonya, mereka tidak menangis sama sekali, benar-benar pintar, tidak bikin panik) ujar Mbak Yem sembari tersenyum.


Tak berselang lama Eve dan Willy keluar juga dari kamar mereka.


"Selamat pagi Mommy" sapa Willy kepada Liora yang sudah menunggunya, begitu pun dengan Eve, Eve mencium pipi Ibu mertuanya.


"Pagi Mommy"


"Pagi sayang" jawab Liora.


Mbak Yem yang melihat Willy dan Eve yang baru saja datang tampak tersenyum malu-malu dan membisikkan sesuatu pada Liora.

__ADS_1


"Tuh Nyonya! Saya bilang juga apa, Tuan muda dan Nyonya Eve tampak sama-sama rambutnya basah, udah gitu biyuh Nyonya itu cuppang nya banyak banget, weleh-weleh Tuan muda Jian mantul dihabisi sudah Nyonya Eve pake keris nya." bisik Mbak Yem diiringi tawa kecil Liora.


...Yok Yok Senyum yok 😊...


__ADS_2