
Sementara itu Ellen dan Linda tampak menundukkan wajahnya dan perlahan pergi dari ruangan itu, semua undangan menatap mereka penuh kesal.
"Dasar Ibu tiri tidak tahu malu,"
"Mereka mempermalukan diri mereka sendiri, dengan menuduh Eve hamil dengan Office Boy, yang ternyata itu adalah Pak Willy sendiri,"
"Pasti malu banget tuh,"
"Syukurin, itu akibatnya ngomong nggak pake otak,"
"Kasihan Eve, pasti Dia sangat menderita dengan perlakuan Ibu tirinya itu,"
"Tapi sekarang Eve sudah bahagia, Pak Willy terlihat sangat mencintainya,"
"Iya kamu benar,"
Willy mencium kening calon istrinya, dan mengumumkan bahwa pernikahan mereka akan dilaksanakan beberapa hari lagi, Eve menatap dalam-dalam mata Willy dan berkata.
__ADS_1
"Apakah Aku sedang bermimpi? Aku merasa tidak percaya jika Aku akan menjadi istri seorang Pria hebat sepertimu, Pria yang disegani oleh orang banyak, Pria yang selalu menang dalam dunia bisnis, dulu Aku mengira William Anthony hanyalah sebagai atasanku saja, ternyata ...." Eve tidak melanjutkan kata-katanya.
"Ternyata apa?" Willy menatap lekat-lekat bola mata indah itu.
Eve malu dan langsung menyembunyikan wajahnya pada dada Willy yang bidang, Willy mendekapnya erat, di tengah tamu undangan yang hadir keduanya begitu mesra.
"Hoo ... ya ampun, bikin hatiku meleleh, hmmm ...." saking bapernya, Veren tak sengaja memeluk Boy yang berada di sampingnya. Seolah-olah Dirinya ikut merasakan kebahagiaan yang dialami Eve.
Veren memejamkan matanya sembari membayangkan Dirinya adalah Eve, sementara itu Boy terlihat tersenyum sembari melirik kearah Veren yang tengah memeluknya, Boy perlahan merangkul pundak Veren dan mengelusnya pelan.
Hingga akhirnya tiba-tiba saja Veren dikejutkan dengan aroma parfum yang menyeruak pada Indra penciuman nya, aroma maskulin dari parfum Boy membuat Veren tersadar dan segera membuka kedua matanya.
"Hmm Pak Boy sengaja, Iya kan? Suka banget cari-cari kesempatan," seru Veren sembari menyilangkan kedua tangannya.
Boy mendekati Veren dan berkata.
"Kamu lihat di sana? Ada CCTV yang terpasang, dan kameranya menyorot ke arah kita, setelah acara ini selesai, Aku akan tunjukkan siapa dulu yang memeluk, Aku atau Kamu!" ucap Boy sembari menunjuk ke arah CCTV yang terpasang di berbagai sudut ruangan.
__ADS_1
Veren terlihat sedikit cemas, namun jiwa gengsi nya masih besar, Ia yakin jika Boy yang sengaja memeluknya.
"Oke! Pak Boy pikir Saya takut, Saya tidak takut, karena Saya yakin Pak Boy sengaja kan memeluk Saya?" Veren terlihat menatap Boy serius.
"Baiklah! Terserah Kamu, jika nanti bukti rekaman itu adalah benar, Aku yang memelukmu, maka Aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi ... jika rekaman itu salah, dan Kamu yang mulai memelukku, maka Kamu harus mendapatkan hukuman dariku, Kamu harus mau Aku cium!" seru Boy sembari menggerakkan alisnya naik turun.
Ucapan Boy membuat Veren mendelik, Veren terlihat cemas, bagaimana jika rekaan itu memang benar jika Dirinya yang memeluk Boy duluan?
"Waduh ... gimana kalau memang rekaman itu benar? ... tapi tidak mungkin Aku salah, nih orang emang selalu godain mulu, bisa jadi Dia memang cari-cari kesempatan, hmm ... Aku tidak akan percaya," gumam Veren yakin.
"Oke! Kita lihat nanti, siapa takut, karena Saya yakin sekali jika Pak Boy yang melakukan duluan, hmm ..." ucap Veren sembari pergi meninggalkan Boy.
Boy tampak tersenyum melihat tingkah Veren.
"Kita lihat saja nanti, Aku jamin Kamu bakal ketagihan dan mencariku," gumam Boy dengan senyum smirk.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...KETAGIHAN APA YA KIRA-KIRA? 🤔😁...