
Setelah beberapa saat Eve berhasil menenangkan dirinya, kemudian Ia keluar dari kamar mandi, Ia melihat Willy yang masih setia menunggunya di luar, bersandar pada dinding sembari memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, dengan jas yang sudah terbuka, meninggalkan kemeja putih yang dasinya sudah Ia lepaskan.
Eve menghampiri Willy yang tampak begitu keren saat seperti itu, dada bidang yang menantang, dengan lengan kemeja yang Ia naikkan ke atas, sungguh terlihat badan kekar Willy meskipun Ia mengenakan kemeja.
"A_aku sudah selesai!" Eve berdiri di depan Willy yang sudah menunggunya sedari tadi.
Willy mendekati Eve dan meraih pinggang seksi itu mendekat kepadanya, dengan cepat Ia raih bibir itu, sungguh Willy tidak bisa menahannya, Eve sudah menjadi candu baginya.
Untuk beberapa detik Eve juga Ikut menikmati ciuman yang diberikan Willy kepadanya. Sangat terasa manis.
Namun tiba-tiba saja Eve melepaskan ciumannya dan menjauhkan diri dari dekapan Willy terhadap nya. Sontak apa yang dilakukan oleh Eve membuat Willy terkejut.
"Jangan lakukan itu lagi sayang! Aku mohon, Aku tidak bisa menahannya," ucap Eve sembari menjauh dari jangkauan Willy yang selalu ingin menjamah nya.
__ADS_1
Willy menghela nafas panjang, ternyata Dirinya benar-benar belum bisa bersabar, Willy tertunduk dan mendekati Eve.
"Maafkan Aku! Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri saat Kamu ada di depanku, rasanya Aku ingin selalu berada dalam pelukan mu, Eve! Aku sudah sangat tidak sabar," ucapnya sembari menundukkan wajahnya dan menghela nafasnya. Dan setelah itu Ia mengajak Eve kembali ke meja makan.
"Baiklah, sekarang kita ke depan, Mommy pasti sudah menunggu kita," ajaknya sembari menggandeng tangan Eve.
Keduanya berjalan menuju meja makan itu lagi, sementara Liora masih menunggunya di sana.
Eve dan Willy kembali duduk di kursi meja makan, Liora tampak tersenyum melihat kemesraan mereka berdua. Dan mereka pun melanjutkan makan malam hingga akhirnya seorang pelayan datang dengan membawa telepon untuk Willy.
"Oh iya, makasih ... sebentar Aku mau angkat telepon dulu," ucapnya sembari menerima telepon dan beranjak pergi.
Rupanya Willy terlihat sedang sibuk berbicara dengan kolega bisnisnya, Liora dan Eve melihat gaya bicara Willy yang tegas dan terkesan ramah.
__ADS_1
Secara tidak sengaja Liora mengatakan sesuatu kepada menantunya.
"Kamu tahu Nak! Dari kecil Willy selalu bilang, jika suatu hari nanti Ia ingin sekali melihat Aku bahagia dengan membawakan Aku seorang bidadari yang sangat cantik, hmm Aku terkekeh Waktu itu, usianya masih 7 tahun, saat Dia ingin membawa seorang bidadari yang cantik untuk menemani Mommy nya, dan sekarang keinginan nya benar-benar terwujud, Willy benar-benar telah membawa bidadari ke dalam rumah ini, Kamu adalah bidadari itu," seru Liora sembari menatap wajah Eve yang sendu.
"Tapi Tante Saya ...."
"Jangan panggil Aku Tante, panggil Mommy, Aku adalah Ibumu dan Aku akan selalu menyayangimu seperti putriku sendiri!" ucapan Liora selalu bisa membuat air mata Eve terjatuh dengan sendirinya.
Entahlah mungkin ini adalah keadilan untuk dirinya, puluhan tahun Ia berpisah dari sang Ibu, nyatanya saat ini Ia diketemukan dengan wanita yang sangat lembut yang tak lain adalah sang calon mertua, Liora.
"Terima kasih Mommy, Aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini, Aku sayang Mommy," Eve kembali merangkul Liora, seolah Liora adalah tumpuannya, pengganti Ibunya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥