
"Sssttt ... jangan bicara seperti itu, semua ini sudah takdir, mungkin Aku dan Eve tidak berjodoh, Eve sudah menemukan kebahagiaannya, Aku memang tidak bisa memungkirinya, jika Aku masih mencintai Eve, tapi Aku juga tidak mau egois, Eve sudah tidak mencintaiku, dia sudah menemukan penggantiku, dan pastinya laki-laki itu sangat mencintainya, Aku bisa lihat itu, William Anthony lebih baik dariku, dan sekarang Aku harus merelakan semuanya, karena sekarang ada janin yang sedang tumbuh di dalam rahimmu, dan tentu saja Aku akan bertanggungjawab atas dirinya, karena Aku tahu bayi itu adalah anakku," ungkap Rafael kepada istrinya.
"Mulai saat ini Aku ingin membuka lembaran baru biduk rumah tangga kita, Aku akan mencoba menerimamu, dan berusaha mencintaimu, maafkan Aku jika selama ini sikapku sedikit kasar kepadamu, setidaknya Aku ingin berubah demi anak yang sedang Kau kandung," ucap Rafael sembari tersenyum.
Ellen memeluk suaminya dengan diiringi air mata yang menetes, sementara Linda ikut merasakan kebahagiaan putrinya.
"Eve, Mama ingin meminta maaf kepadamu, maafkan Mama jika selama ini Mama berbuat tidak adil kepadamu, ternyata Tuhan sudah memberikan jawaban atas ketidakadilan yang Mama lakukan, Kamu mendapatkan suami yang memiliki pengaruh besar di kota ini, mungkin ini adalah pembelajaran untuk Mama, untuk selalu menyayangi tanpa pilih kasih," gumam wanita paruh baya itu.
"Hari ini kita akan pergi dari kota ini, Aku sudah menandatangani surat perjanjian dengan pak Willy, jika Aku harus meninggalkan kota ini untuk selamanya, dan seluruh aset perusahaan ku menjadi milik William Anthony, sekarang kita tidak punya apa-apa lagi, Aku berharap kamu bisa menerima keadaan ku sekarang," ungkap Rafael kepada Istrinya.
"Aku tidak perduli kamu sekarang seperti apa, bagiku kehadiranmu sudah cukup memberi kebahagiaan untuk ku dan bayi kita, jika seperti itu adanya, kita pergi saja dari kota ini, aku akan selalu ikut bersamamu, kemanapun kamu pergi Aku akan ikut," balas Ellen.
__ADS_1
*
*.
*
*.
Sementara itu di rumah sakit, Liora mulai masuk ke dalam ruangan perawatan Amara, dilihatnya sang adik yang terbaring di atas ranjang dengan berbagai alat medis yang menempel pada tubuhnya.
"Begini Nyonya! Nyonya Amara harus segera melakukan transplantasi jantung, kita harus cepat untuk bisa mencari donor jantung untuk Nyonya Amara, jika tidak kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi, karena kondisi Nyonya Amara sudah sangat terlalu parah." ungkap Dokter kepada Liora, wanita itu semakin bersedih, bagaimana bisa Dia mendapatkan seseorang yang ingin mendonorkan jantungnya, tentu saja itu hal yang sangat sulit, mendapatkan donor jantung dengan segera.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Apa yang harus Aku lakukan! Bagaimana bisa Aku menemukan donor jantung untuk adikku dalam waktu yang secepat ini," Liora tampak bingung.
Sementara itu di tempat lain, Dokter sedang memeriksa kondisi kesehatan Netta, Netta bertanya kepada Sang dokter.
"Dokter! Apa pesan saya sudah disampaikan kepada William Anthony?" tanyanya dengan wajah yang semakin pucat.
"Sudah Nyonya! Kami sudah menyampaikan nya kepada Tuan William Anthony," jawab dokter itu. Kemudian seorang perawat datang menghampiri sang dokter dan berkata.
"Dokter, pasien yang bernama Amara Atmajaya harus segera mendapatkan tindakan lebih lanjut, untuk beberapa hari jika tidak ada pendonor, maka kemungkinan Nyonya Amara tidak bisa diselamatkan," ucapan perawat itu membuat Netta terkejut.
"Amara Atmajaya? Bukankah itu istri Wira Atmajaya? Donor jantung? Apa dia sedang sakit?" gumam Netta bertanya-tanya
__ADS_1
BERSAMBUNG
.🔥🔥🔥🔥🔥