
"Hmm ... kirain apaan!" Eve tampak menggelengkan kepalanya, kemudian tak berselang lama Willy mengajaknya pulang.
"Ayo kita pulang Sayang! Ini sudah cukup lama, Aku harus segera mengecek beberapa dokumen penting di rumah, sementara Boy biarkan dia bekerja di rumah dulu, Boy! Manfaatkan hari cutimu baik-baik, sebelum kamu masuk ke kantor lagi," ucap Willy kepada asisten dan memberi cuti selama 2 hari kepada Boy.
"Baik Tuan muda, terima kasih banyak atas kedatangan Anda," balas kedua mempelai.
Akhirnya Willy dan Eve segera meninggalkan acara resepsi pernikahan Boy dan Veren. Hingga akhirnya acara pernikahan mereka pun selesai di gelar. Tentu saja hari itu juga Veren diboyong ke rumah Boy langsung.
Boy hanya tinggal berdua dengan sang Nenek, Ia sengaja membawa Veren ke rumah untuk menemani Neneknya yang sudah sepuh. Tapi meskipun sudah berumur senja, namun Nenek Boy masih terlihat begitu lincah dan gesit, tidak seperti wanita seusianya yang sudah pasti terlihat sangat tua, di usianya yang sudah menginjak tujuh puluh tahun, Nenek Halimah begitu ceria dan selalu berpenampilan nyentrik. Meski terkadang kepikunan nya masih sering Nenek Halimah alami.
Boy membuka pintu rumahnya, rupanya sang Nenek sudah menyambut kedatangan mereka berdua, dengan gaya busana yang nyentrik, dengan memakai celana jeans dan kaos ala-ala anak muda, serta tatanan rambut yang dikungir kuda, memberi kesan seolah-olah Nenek Halimah berdandan bak anak-anak gaul.
Untuk pertama kalinya, Veren melihat Sang Nenek yang selama ini belum Ia ketahui, selama masa PDKT, Boy belum pernah mengajak Veren ke rumahnya, Boy langsung memutuskan untuk segera melamar Veren, sehingga Boy membawa Veren ke rumah nya sebagai istri, bukan sebagai pacar.
__ADS_1
"Weleh-weleh cucu mantuku, ayu banget sama kayak Nenek!" ucap sang Nenek yang membuat Veren merasa geli.
"Aisss ... ketemu Nenek antik nih, eh tapi gokil loh," gumamnya sembari tersenyum.
Veren mencium tangan sang Nenek dan setelah itu memeluknya, begitu pun dengan Nenek yang membalas pelukan cucu menantunya dengan senang.
"Hai Nenek! Nenek cantik sekali," puji Veren kepada Nenek Halimah.
"Benarkah? Ya ampun, cuma Kamu loh Sayang yang bilang Nenek cantik, Boy tuh ndak pernah bilang begitu, katanya Nenek ini sudah tua, sudah keriput padahal Nenek sudah perawatan setiap hari pakai masker ini itu, tapi tetap saja Boy selalu bilang Nenek sudah tua, hah ... sebel!" ucap wanita tua itu.
"Iya iya Nenek tuh cantik, maafin Boy yah ... tapi bohong," ucapnya sembari berlari menghindari Neneknya yang selalu bisa menangkap Boy dan menjepit kepala Boy pada ketiaknya.
Tampaknya sang cucu nakalnya itu berhasil ditangkap oleh sang nenek. Boy di kempit oleh sang Nenek.
__ADS_1
"A_ampun Nek! lepaskan Boy Nek! Boy nggak bisa nafas nih," pekik pria yang kini tengah di kempit oleh sang nenek. Veren tampak tersenyum kecil melihat suaminya yang tidak berdaya menghadapi sang Nenek yang masih gesit dan tangkas.
"Ini hukuman nya jika Kamu berani-beraninya sama Nenek! Nenekl nggak akan ngelepasin Rasain kamu," ucap sang m ke'
"Ahhh .... nenek gimana sih, gimana Boy mau bikin cicit untuk Nenek, kalau dikempit terus kayak gini," protesnya. Sang Nenek agaknya berpikir, benar apa yang dikatakan oleh cucunya itu memang benar adanya. Dan akhirnya Nenek Halimah melepaskan cucu kesayangannya itu.
"Ha ... ha ... ha ..., ya ampun Nek! Nggak bisa napas nih," seru Boy sembari menahan rasa sesaknya.
"Ya itu, minta tolong sama istrimu supaya diberikan nafas buatan, gitu aja kok repot," celetuk sang Nenek yang membuat Veren membulatkan matanya sementara Boy tersenyum smirk.
"Nafas buatan?" Veren tampak menyentuh bibirnya membayangkan jika dirinya harus melakukan itu kepada Boy.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥