
"Coba deh Anda lihat wajah tampan Anda Tuan muda! Pasti Anda sangat terkesima, lah wong Saya aja pangling apalagi para karyawan tuh, pantesan aja pada ngerubung kayak semut," seru sang asisten sembari menunjuk sebuah kaca yang terletak di ruangan itu.
"Apa maksudmu?"
Kemudian Willy beranjak menghadap ke cermin yang dimaksud oleh sang asisten. Willy tampak membulatkan matanya saat melihat bibirnya yang memerah, kemudian dengan cepat Ia mencari tisu atau apa saja untuk menghilangkan bekas lipstik yang menempel pada bibirnya.
Willy tampak mondar mandir mencari sesuatu sehingga membuat Sang asisten bingung.
"Tuan muda cari apa?" tanyanya sambil mengikuti langkah Willy.
"Tisu tisu mana tisu, cepat Boy ambilkan tisu!"
"Ba_baik Tuan muda, tunggu Saya ambilkan tisu," Boy segera mengambilkan tisu untuk Bosnya. Setelah beberapa saat Boy kembali dengan membawa tisu dan memberikannya kepada Willy.
"Ini tisunya!"
Willy segera mengambil tisu itu dan langsung mengusapkannya pada bibirnya yang terkena bekas lipstik sang istri, Boy terlihat tertawa kecil saat melihat sang Bos mengelap bibirnya sendiri. Willy yang melihat itu lantas berucap pada Boy, "Apa kamu ketawa-ketawa, Kamu pikir lucu!" ucap Willy sembari melempar Boy dengan tisu yang sudah Ia gunakan untuk mengusap bibirnya.
__ADS_1
"Hehehe ... jadi, yang ditelepon tadi bener dong kata saya," Boy mencoba menggoda Willy.
"Apa maksudmu?" Willy tampak merapikan jasnya dan mengencangkan dasinya.
"Ya itu, belalainya Tuan muda yang lemes, hehehe bener nggak sih?" Boy tampak garuk-garuk kepalanya.
Tiba-tiba saja Willy mendekatinya dan berkata. "Iya! Kamu puas? Gara-gara kamu semuanya berantakan, lemes jadinya," ucap Willy sembari melihat jam tangannya.
"Iya maaf Tuan muda! Saya nggak tahu kalau Anda sedang bermesraan, ah ... enak banget dah jadi Anda, pagi-pagi sarapannya bukan makanan, tapi bibir istri Anda, lah Saya sarapan bubur ayam, udah gitu kepedesan lagi, bibir Saya bukan merah karena kena lipstik, tapi ndower gara-gara sambal," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
"Ya udah nikah sana! Tunggu apa lagi? Bukannya Veren udah mau tuh, enak kan nanti sarapan udah nggak kepedesan karena cabe, tapi kepanasan karena ciuman," sahut Willy dengan senyum manisnya.
"Sudah! Sekarang Aku mau masuk dulu, Boy apakah nanti siang pertemuan dengan Mr Robin jadi dilaksanakan?" tanya Willy sembari berjalan menuju ruangannya.
"Mr. Robin sepertinya tidak datang hari ini Tuan muda! Mungkin nanti siang kita hanya rapat biasa, tentang laporan keuangan perusahaan, sepertinya perusahaan kita semakin hari semakin membaik Tuan muda," ungkap Boy mengenai keadaan perusahaannya yang semakin sukses.
"Iya Aku tahu itu, karena semuanya telah kembali normal seperti dulu lagi,"
__ADS_1
Sejenak Willy mengingat tentang almarhum Netta yang memang sengaja membuat perusahaan Willy bangkrut, namun Willy menyadari itu dilakukan Netta semata-mata Ia ingin mendapatkan haknya dari Jeffry Anthony.
Boy yang melihat Bosnya yang terlihat bersedih segera dengan cepat menghiburnya.
"Sudahlah Tuan muda, Netta sudah tenang di alam sana! Dia sudah bahagia bersama Daddy Anda, dan sekarang waktunya Anda melanjutkan hidup bersama orang-orang terkasih di sekitar Anda, apalagi sebentar lagi Anda akan memiliki seorang anak, ngomong-ngomong bagi rahasia nya dong Tuan muda, biar Saya bisa tokcer seperti Anda, cuma sekali doang loh, langsung jadi ... ah tapi Saya tidak mau sekali saja, kalau bisa beberapa kali atau berkali-kali biar puas dulu," ungkap sang asisten yang membuat Willy melayangkan sebuah pensil di kepalanya.
"Pletok"
"Awwww" pekiknya sambil mengusap kepalanya.
*
*
*
*
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥