
Setelah melihat Veren yang mulai tenang, akhirnya Boy Melanjutkan aktivitas nya untuk menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan, Veren sedikit meringis merasakan sesuatu yang di bawah sana terasa sangat sesak dan sedikit nyeri.
Dengan telaten Boy bergerak begitu lembut dan tidak terlalu memaksakan, meskipun dirinya sangat ingin merasakannya lebih dalam lagi, karena Ia tahu jika istrinya sedang menahan rasa sakit yang Ia berikan. Boy memainkan perannya sebagai pria yang lembut, hingga akhirnya rasa sakit itu hilang perlahan, berganti rasa yang begitu aneh menurut Veren tapi Dia begitu menyukainya.
Boy membisikkan di telinga Veren disela-sela dirinya memompa dengan lembut. "Apa sudah tidak sakit lagi?" tanyanya dengan berbisik mesra.
"Tidak lagi, tapi ini rasanya enak banget, jangan berhenti sayang!" balasnya sembari merremas rambut Suaminya saat merasakan denyutan-denyutan itu begitu nikmat.
Tentu saja itu membuat Boy semakin semangat untuk bergerak dengan lincah, karena Veren rupanya sudah sangat nyaman dan menikmatinya dengan indah.
Jeritan kecil yang mengawali percintaan mereka kini berubah menjadi desaahan indah yang lolos dari bibir Veren, racauan dan lenguhan erotis yang terdengar begitu seksi di telinga Boy, membuat keduanya semakin terhanyut dan sama-sama saling menggerakkan tubuh mereka, seolah keduanya berpacu dalam mencapai puncak gelora.
__ADS_1
Nafas itu, iya nafas mereka terdengar seperti saling bersahutan, seperti suara vampir yang menemukan mangsanya, benar-benar malam ini adalah malam terindah untuk mereka berdua.
Kewajiban sebagai suami istri untuk pertama kali pun telah mereka praktekkan, ah sungguh mereka tidak menyangka kewajiban ini begitu nikmat dan mengasyikkan, bercinta dengan pasangan yang halal dan tentu saja mereka bebas melakukan hal apapun yang dilarang sebelum pernikahan sah.
Keringat yang mulai membasahi wajah dan tubuh mereka tentunya, tidak menjadi penghalang untuk berhenti bergerak, olahraga yang sehat dan berpahala itu semakin membuat mereka berdua larut, entah berapa kali Boy naik turun melewati lembah, tapi tidak membuat pria itu puas, awalnya dengan gaya original kini mereka mulai memadukan berbagai macam gaya tanpa harus melihat video atau melihat tutorial membuat anak.
Berkali-kali sang istri merasakan pelepasan, entah tak terhitung sudah, hingga membuat Veren sedikit lemas, namun yang di sana masih diaduk-aduk manja oleh suaminya.
"Sayang! Aku udah capek," ucapnya dengan suara tertatih.
Sepertinya Veren benar-benar sudah kelelahan, lima ronde telah berhasil Boy lakukan di malam pertamanya, dan ini adalah ronde terakhir, namun Veren rupanya sudah terlihat lemas, Ia pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, sementara Boy masih sibuk menikmati tubuh yang kini menjadi miliknya.
__ADS_1
Hingga saatnya untuk terakhir kalinya, Boy melepaskan bibit-bibit kecebong nya masuk ke dalam rahim Istrinya, berharap bibit-bibit itu akan segera tumbuh bersemi dalam rahim sang istri, bersemai dengan cepat, dan mereka bisa segera melihat buah dari hasil percintaan mereka.
"Akkhhh ...." lenguhan panjang itu begitu terdengar menggema memenuhi kamar pengantin itu, dan akhirnya Boy terkulai di atas tubuh istrinya, sejenak Boy merasakan sisa-sisa denyutan kecil di sana, namun perlahan Dirinya merasakan tidak ada pergerakan dari tubuh istrinya, sehingga membuat Boy menatap wajah istrinya yang tampak memejamkan matanya itu.
"Sayang! Sayang! Kamu kenapa?"
Boy menepuk-nepuk pipi Veren, Veren terdiam dan ternyata Veren semaput dalam permainan ranjang itu.
"Loh kok malah pingsan?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥
...GIMANA SIH BOY? SAMPAI PINGSAN GITU ðŸ¤...