Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Hampir saja


__ADS_3

Dan benar saja untuk sekali lagi, Eve mendapatkan ciuman dari seorang Jaka, mata Eve tampak membola saat Jaka mengecup mesra bibir Eve, dan Eve pun membalasnya.


Suasana pagi yang masih hening, membuat keduanya menikmati ciuman itu dengan indah, menuntut untuk diperlakukan lebih dari sekedar ciuman saja, hingga tak terasa tiba-tiba terdengar derap langkah kaki seseorang yang sedang menuju tempat mereka.


Sontak Eve melepaskan ciumannya, Ia beranjak berdiri dan merapikan blazer yang sedikit terbuka.


"Jaka, ada orang!" serunya sambil beranjak menjauh dari Jaka yang masih berada di atas sofa, tampak Jaka masih mengatur nafasnya, ada sesuatu yang hampir lepas kontrol, Jaka menghela nafasnya dan bangkit dari sofa tempat dimana mereka saat berciuman mesra.


Eve berjalan keluar dari ruangan itu, dan benar saja Alinda dan Veren mulai datang ke ruangan mereka.


"Hah... kalian!" Eve terlihat terkejut sekali dengan kedatangan dua temannya itu. Tentu saja ekspresi wajah Eve membuat keduanya saling menatap.


"Eve! Kamu sudah datang! Tumben pagi banget!" tanya Alinda kepada Eve yang terlihat gugup itu.


Tiba-tiba saja Jaka menyapa kedua teman Eve sembari membawa sapu dan juga pel untuk dibawa keluar ruangan, karena Jaka sudah mengepel semua sudut ruangan itu.


"Selamat pagi! Mbak Alinda, Mbak Veren, permisi...saya mau keluar, ruangannya sudah saya pel semua" pamit Jaka kepada ketiganya.


Alinda dan Veren begitu terkejut saat melihat penampilan Jaka yang terlihat awut-awutan, Eve sempat mengacak rambut Jaka saat dirinya tidak bisa mengontrol diri, ketika Jaka semakin intens mencium area leher Eve.


Kedua wanita itu saling menatap dan kemudian tertawa kecil, dan tentu saja apa yang dilakukan Alinda dan Veren membuat Eve bertanya-tanya.


"Kenapa kalian tertawa? Apa yang kalian tertawakan?" tanya Eve tidak mengerti.


"Ehem...Duh yang lagi kasmaran" Veren berjalan mengelilingi Eve yang sedang berdiri di sana, sementara Alinda tampak tertawa kecil.


"Kalian berdua ini kenapa sih?" Eve semakin tidak mengerti dengan maksud kedua temannya.


"Kamu nggak usah pura-pura lagi Eve, kalian berdua sedang apa tadi?" bisik Veren kepada Eve yang tampak salah tingkah saat Veren menanyakan hal itu kepadanya.


"Siapa? Orang kita nggak ngapa-ngapain kok, Jaka lagi ngepel, dan aku lagi memeriksa laporan keuangan, itu doang!" bantah Eve


"Yakin? Tuh bekas gigitan siapa tuh nemplok di leher?" seru Veren yang tanpa sengaja melihat kissmark yang ditinggalkan Jaka, meskipun tidak terlalu kentara, tapi Veren cukup faham jika itu adalah bekas ciuman gigitan seseorang.

__ADS_1


"Hah...mana? Emang ada?" Eve meraba lehernya sendiri, sementara Alinda tampak senyum-senyum melihat ekspresi Eve yang salah tingkah.


"Udah deh nggak usah bohong sama kita, kita tuh temen kamu Eve, kita tuh pasti tahu apa yang terjadi sama kamu, udahlah Eve mending terima saja lamaran Jaka, daripada entar kebablasan lagi" senggol Alinda


"Aku sudah menerima lamaran Jaka!" jawab Eve spontan, kedua temannya begitu terkejut sekaligus senang.


"Hah...yang bener? Pantesan aja diam-diam kalian berduaan, hmm tahunya udah mau nikah aja, by the way selamat ya Eve! Kita berdua ikut senang, semoga kalian berdua selalu bahagia dan tentu saja semoga baby kalian sehat-sehat terus sampai lahiran." ungkap Veren yang merasa ikut bahagia melihat Eve yang akan menikah dengan Jaka.


"Terima kasih banyak atas dukungannya, kalian berdua memang teman yang paling baik" ucap Eve sembari memeluk kedua temannya.


"Eh... ngomong-ngomong kalau kamu menikah dengan Jaka, kamu pilih tinggal dimana?" tanya Alinda


"Aku sih terserah Jaka saja, mau tinggal di mana terserah dia" ucapnya sambil duduk di kursi kerjanya kembali.


Eve memeriksa kembali laporan keuangan yang sempat ia tinggalkan gara-gara kejadian kecil tadi.


Alinda dan Veren tampak mengerutkan keningnya saat melihat laporan yang sedang dikerjakan oleh Eve.


"Iya tuh bener kata Veren, mereka berdua tuh asli punya hubungan spesial, kasihan Bu Amara ya, Bu Amara baik banget, kalau saja pak Willy tahu, hmm pak Wira nggak bakal diberi kepercayaan untuk mengelola perusahaannya selama pak Willy di Luar negeri." timpal Alinda.


"Apa jangan-jangan pak Wira memang sengaja melakukan ini kepada perusahaan, dia sengaja ingin menghancurkan perusahaan ini pelan-pelan tanpa sepengetahuan pak Willy, semoga saja dugaanku salah" gumam Eve


*


*


*


*


Sementara itu di pantry, Jaka terlihat duduk di sebuah kursi dan menyandarkan kepalanya, memejamkan sejenak matanya, hampir saja Ia lepas kendali, jika saja tadi suasananya seperti malam itu, mungkin untuk kedua kalinya mereka melakukannya tanpa paksa.


"Eve! Kamu benar-benar membuatku gila" Jaka mengusap wajahnya kasar, Boy terlihat masuk ke pantry mencari bosnya, dilihatnya Jaka yang sedang duduk dengan wajah yang gundah, Boy menghampirinya dan berkata.

__ADS_1


"Tuan muda kenapa? Ada masalah dengan Eve?" Boy tampak mengerutkan keningnya.


"Tidak ada" jawabnya singkat.


"Lantas?" tanya Boy semakin penasaran.


"Aku sudah tidak sabar untuk segera menikah dengannya, Boy! Pagi ini hampir saja dia membuatku lepas kontrol" ucap Jaka


"Lepas kontrol maksudnya? Dia sudah membuat Anda marah Tuan muda?" tanya Boy menyelidik.


"Bukan! Dia hampir saja membuat... membuat... haaahhh, kalau saja situasinya seperti malam itu, mungkin aku sudah melakukannya lagi" jawabnya sambil terbata-bata.


"Melakukan itu lagi maksudnya? Bikin adek bayi lagi gitu?" Boy membelalakkan matanya.


"Ya... begitulah!" sahut Jaka


"Hmm...sudah waktunya pak Willy pulang, Anda harus segera menikahi Eve Tuan muda! Kalau nggak wah bisa-bisa kebablasan" seru Boy


"Apa William Anthony harus hadir di sini?"


"Betul sekali Tuan muda, sudah beberapa bulan Anda menyamar sebagai Jaka, dan tentunya sudah ada bukti yang Anda kantongi bukan? Sekarang tinggal Anda menunjukkan diri Anda kepada penghianat itu!" seru Boy menyarankan.


"Ya...kamu benar! Mungkin seharusnya William Anthony kembali, semoga saja Eve bisa menerimaku" ucapnya pelan.


"Tapi...aku tidak sanggup jika melihat kesedihan Tante Amara, dia pasti sangat sedih mendengar jika suaminya sudah mengkhianati dirinya dan keluarganya, aku tidak mau terjadi apa-apa pada Tante Amara" ucap Jaka


"Demi kebaikan Bu Amara, Tuan muda harus membongkar kebusukan suaminya, ini semua juga demi keluarga Anda Tuan muda"


Jaka benar-benar dibuat pusing dengan semua ini, dia harus menghadapi pilihan yang benar-benar akan membuatnya dalam kesulitan, membongkar aib Wira sama saja membuat lubang kuburan untuk Amara, adik dari Liora, ibu dari William Anthony, karena Amara memiliki riwayat penyakit jantung, dan Willy benar-benar harus hati-hati membongkar kebusukan suami Tantenya itu.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥

__ADS_1


__ADS_2